Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Dialog Guru dan Murid tentang Kenaikan Harga BBM

OPINI | 20 June 2013 | 14:40 Dibaca: 2453   Komentar: 0   0

13717138991217628426

Seorang murid bertanya kepada salah seorang gurunya : “Apa pendapat guru tentang pengurangan subsidi BBM untuk dialihkan menjadi BLSM (Bantuan Langsung Sementara) kepada rakyat miskin ?”

Sang guru balik bertanya : ” Kamu tahu apa itu BLSM?”

Murid menjawab : ” BLSM (Bantuan Langsung Sementara) adalah bantuan kepada rakyat miskin sebagai kompensasi pemerintah menikkan harga BBM. Dengan naiknya harga BBM kan nanti rakyat miskin akan semakin susah makanya dibantu oleh pemerintah selama 4 bulan dengan program BLSM.”

Sang guru balik bertanya lagi : “Kira-kira sama tidak BLSM dengan pemberian pelampung kepada hanya penumpang kapal yang tidak bisa berenang dan tidak memberi pelampung kepada penumpang yang bisa berenang karena kapal akan ditenggelamkan?”

Murid menjawab : ” Hampir sama guru. Tapi kalau BBM tidak naik maka akan ada defisit BBM guru.”

Sang guru menjawab : ” Karena menaikkan harga BBM adalah sebuah kebijakan, Seorang nahkoda yang bijak akan tetap menyiapkan pelampung kepada semua penumpang kapal dan akan berusaha semaksimal mungkin agar pelampung tersebut tidak digunakan, Kecuali keadaan yang mengharuskannya seperti ada bencana alam, badai dsb.”

Murid berkata : “Iya yah guru, apalagi pelampungnya cuma diberikan selama 4 bulan.”

Guru menjawab : ” Itulah beratnya menjadi penguasa. Penguasa yang adil akan mendapat pahala yang luar biasa di hadapan Allah, bahkan termasuk orang pertama dari 7 golongan orang yang akan dilindungi oleh Allah dimana tidak perlindungan selain dari-Nya. Tetapi bila penguasa zhalim kepada rakyatnya, maka dia akan menanggung dosa seluruh rakyat yang merasa dizhalimi.”

Guru melanjutkan penjelasannya : ” Bayangkan, dalam Islam bila seseorang makan kenyang tetapi tetangganya kelaparan, maka dia berdosa dan dianggap tidak beriman.”

Ibnu Abbas r.huma berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Bukanlah orang yang beriman yang ia sendiri kenyang sedangkan tetangga di sebelahnya kelaparan.”. (H.r. Baihaqi, Misykat).

“Hadits di atas buat kita masyarakat, buat pemimpin lebih berat lagi. Bila Presiden, Gubernur, Bupati tidur kenyang, tetapi ada rakyatnya tidur kelaparan, maka dosanya lebih berat lagi. Apalagi bila kelaparan yang dideritanya adalah akibat kebijakan yang telah dibuatnya”

“Makanya Rasulullah itu pemimpin negara, tetapi beliau prihatin, makan seadanya, bahkan bila di rumah isterinya tidak ada makanan beliau berpuasa. Beliau tidak mau tidur di atas kasur empuk, karena merasa semua rakyatnya belum makmur, masih banyak yang membutuhkan bantuan.”

Sang murid mengangguk-angguk dan menggeleng-gelengkan kepalanya menandakan kepahamannya dan membayangkan siksaan pemimpin yang membuat rakyatnya susah.

OFA

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tentang Keaslian Akun Twitter @jokowi_do2 …

Blontank Poer | | 28 January 2015 | 16:12

Kisah Pencari Logam Mulia di Batu Hijau …

Dhanang Dhave | | 28 January 2015 | 09:59

Esensi “Tongsis” …

Fandi Sido | | 28 January 2015 | 10:42

Harta Karun Tanah Papua …

Rico Tude | | 28 January 2015 | 15:14

Ayah Bunda, Ini yang Sebaiknya Dilakukan …

Achmad Suwefi | | 27 January 2015 | 16:56


TRENDING ARTICLES

Aksi Heroik Raja Salman …

Muhammad Armand | 6 jam lalu

Pencalonan BG Bukan Inisiatif Jokowi! …

Elde | 7 jam lalu

Tim 9 Tidak Independen, Hanya Panggung …

Isson Khairul | 10 jam lalu

Inilah Alasan Effendi Simbolon Menunjukan …

Dean Ridone | 11 jam lalu

Jokowi Perlu Contoh Raja Baru Arab Saudi …

Mustafa Kamal | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: