Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Dialog Guru dan Murid tentang Kenaikan Harga BBM

OPINI | 20 June 2013 | 14:40 Dibaca: 1938   Komentar: 0   0

13717138991217628426

Seorang murid bertanya kepada salah seorang gurunya : “Apa pendapat guru tentang pengurangan subsidi BBM untuk dialihkan menjadi BLSM (Bantuan Langsung Sementara) kepada rakyat miskin ?”

Sang guru balik bertanya : ” Kamu tahu apa itu BLSM?”

Murid menjawab : ” BLSM (Bantuan Langsung Sementara) adalah bantuan kepada rakyat miskin sebagai kompensasi pemerintah menikkan harga BBM. Dengan naiknya harga BBM kan nanti rakyat miskin akan semakin susah makanya dibantu oleh pemerintah selama 4 bulan dengan program BLSM.”

Sang guru balik bertanya lagi : “Kira-kira sama tidak BLSM dengan pemberian pelampung kepada hanya penumpang kapal yang tidak bisa berenang dan tidak memberi pelampung kepada penumpang yang bisa berenang karena kapal akan ditenggelamkan?”

Murid menjawab : ” Hampir sama guru. Tapi kalau BBM tidak naik maka akan ada defisit BBM guru.”

Sang guru menjawab : ” Karena menaikkan harga BBM adalah sebuah kebijakan, Seorang nahkoda yang bijak akan tetap menyiapkan pelampung kepada semua penumpang kapal dan akan berusaha semaksimal mungkin agar pelampung tersebut tidak digunakan, Kecuali keadaan yang mengharuskannya seperti ada bencana alam, badai dsb.”

Murid berkata : “Iya yah guru, apalagi pelampungnya cuma diberikan selama 4 bulan.”

Guru menjawab : ” Itulah beratnya menjadi penguasa. Penguasa yang adil akan mendapat pahala yang luar biasa di hadapan Allah, bahkan termasuk orang pertama dari 7 golongan orang yang akan dilindungi oleh Allah dimana tidak perlindungan selain dari-Nya. Tetapi bila penguasa zhalim kepada rakyatnya, maka dia akan menanggung dosa seluruh rakyat yang merasa dizhalimi.”

Guru melanjutkan penjelasannya : ” Bayangkan, dalam Islam bila seseorang makan kenyang tetapi tetangganya kelaparan, maka dia berdosa dan dianggap tidak beriman.”

Ibnu Abbas r.huma berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Bukanlah orang yang beriman yang ia sendiri kenyang sedangkan tetangga di sebelahnya kelaparan.”. (H.r. Baihaqi, Misykat).

“Hadits di atas buat kita masyarakat, buat pemimpin lebih berat lagi. Bila Presiden, Gubernur, Bupati tidur kenyang, tetapi ada rakyatnya tidur kelaparan, maka dosanya lebih berat lagi. Apalagi bila kelaparan yang dideritanya adalah akibat kebijakan yang telah dibuatnya”

“Makanya Rasulullah itu pemimpin negara, tetapi beliau prihatin, makan seadanya, bahkan bila di rumah isterinya tidak ada makanan beliau berpuasa. Beliau tidak mau tidur di atas kasur empuk, karena merasa semua rakyatnya belum makmur, masih banyak yang membutuhkan bantuan.”

Sang murid mengangguk-angguk dan menggeleng-gelengkan kepalanya menandakan kepahamannya dan membayangkan siksaan pemimpin yang membuat rakyatnya susah.

OFA

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Prabowo Mundur dan Tolak Hasil Pilpres Tidak …

Yusril Ihza Mahendr... | | 22 July 2014 | 17:27

Timnas U-23 dan Prestasi di Asian Games …

Achmad Suwefi | | 22 July 2014 | 13:14

Inilah Pemenang Blog Competition …

Kompasiana | | 22 July 2014 | 15:18

Sindrom Mbak Hana & Mas Bram …

Ulfa Rahmatania | | 22 July 2014 | 14:24

Siku Sudut Unik Candi Dadi Tulungagung …

Siwi Sang | | 22 July 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Jokowi Beri 8 Milliar untuk Facebook! …

Tukang Marketing | 8 jam lalu

Selamat Datang Bapak Presiden Republik …

Ahmadi | 9 jam lalu

Perlukah THR untuk Para Asisten Rumah …

Yunita Sidauruk | 10 jam lalu

Jangan Keluar dari Pekerjaan karena Emosi …

Enny Soepardjono | 10 jam lalu

Catatan Tercecer Pasca Pilpres 2014 (8) …

Armin Mustamin Topu... | 12 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: