Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Puspita Sari

Suka membaca, menganalisa lalu mengambil sikap

Partai Demokrat Mendukung Turunnya Harga BBM

OPINI | 13 June 2013 | 19:18 Dibaca: 601   Komentar: 7   0

Harga BBM diturunkan.. diturunkan… diturunkan.. 3x

Pertama kali sepanjang sejarah, BBM turun sebanyak 3 kali.

Partai demokrat terus mendukung kebijakan pemerintahan presiden SBY yang menurunkan harga BBM hingga tiga kali. Lanjutkan… lanjutkan..

Inilah iklan partai demokrat pada pemilu 2009 yang berdurasi 0,32 detik. Lihat di sini http://www.youtube.com/watch?v=C1sDkVdvYx0

Dalam iklan ini Partai Demokrat membual kepada rakyat seakan-akan punya kepedulian kepada rakyat dengan menurunkan harga BBM sampai tiga kali. Padahal sebelumnya pemerintah SBY telah menaikkan harga BBM hingga tiga kali. Di awal SBY berkuasa, harga Premium Rp. 1810, Maret 2005 dinaikkan menjadi Rp. 2400,  Oktober 2005 dinaikkan lagi menjadi Rp. 4500.  Dan tahun 2008 dinaikkan lagi menjadi Rp. 6000. Lalu menjelang pemilu 2009 diturunkan menjadi Rp. 5500, lalu diturunkan lagi menjadi Rp. 5000, lalu diturunkan lagi menjadi Rp. 4500.

Terlepas dari kondisi perekonomian pada saat itu, yang jelas penurunan harga BBM telah dijadikan sebagai modal kampanye PD. Saya tidak tahu kenapa penurunan harga BBM dilakukan hingga tiga kali dalam waktu yang berdekatan. Apakah sengaja dibuat demikian untuk bahan iklan? Faktanya demikian.

Dari sini diketahui bahwa penurunan harga BBM sebanyak tiga kali itu hanya akal bulus untuk membohongi rakyat. Sebab setelah diturunkan hingga tiga kali menjadi Rp. 4500 sebenarnya masih tinggi dibanding awal SBY berkuasa yaitu Rp. 1810.  Ini mirip dengan iklan diskon besar-besaran hingga 75% yang digembar-gemborkan pedagang dimana sebelum mengumumkan diskon, harga dinaikkan dulu 100% baru setelah itu koar-koar diskon 75%.

Rupanya trik pemilu 2009 akan diulangi lagi. Setelah sukses membohongi rakyat dan demokrat memenangkan pemilu dan SBY berhasil menduduki kursi kepresidenan kedua kalinya, mulailah pemerintah SBY akan menaikkan BBM lagi dengan berbagai alasan, lalu menyerang partai-partai yang menolak dengan kata munafik dll, padahal menaikan atau menurunkan harga BBM adalah wewenang pemerintah secara penuh tanpa perlu persetujuan DPR. Tapi rupanya SBY tidak mau menanggung risiko sendirian. Pas mau menaikkan harga BBM minta dukungan partai koalisi, nanti giliran menurunkan harga BBM diklaim sebagai kebaikan dan kepedulian SBY kepada rakyat.

Yang jelas, iklan penurunan harga BBM sampai tiga kali pada pemilu 2009 adalah iklan murahan dan penipuan terhadap rakyat. Kalau saja pemerintah SBY tidak menurunkan harga BBM Rp. 6000 pada 2009 tentu sekarang tidak perlu repot-repot menaikkan lagi.

Kalaupun sekarang  APBN terbebani oleh besarnya subsidi BBM maka itu sebenarnya adalah akibat ulah SBY yang menurunkan harga BBM menjelang pemilu 2009  untuk kepentingan kampenye. Maka SBY harus menanggung akibatnya sendiri, bukan malah membankan kepada rakyat dengan menaikkan harga BBM yang akan membuat rakyat semakin sengsara.

Sadarlah saudara, jangan mau dibohongi lagi untuk kedua kali.


Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Belajar Tertib Anak-anak Jepang di Taman …

Weedy Koshino | | 01 September 2014 | 14:02

Karet Loom Bands Picu Kanker …

Isti | | 01 September 2014 | 20:48

Manajemen Pergerakan dan Arah Perjuangan …

Jamesallan Rarung | | 01 September 2014 | 22:12

Florence …

Rahab Ganendra | | 01 September 2014 | 19:09

9 Kompasianer Bicara Pramuka …

Kompasiana | | 01 September 2014 | 13:48


TRENDING ARTICLES

Ratu Atut [Hanya] Divonis 4 Tahun Penjara! …

Mike Reyssent | 12 jam lalu

Ratu Atut Divonis Empat Tahun Namun Terselip …

Pebriano Bagindo | 12 jam lalu

Katanya Supercarnya 5, Setelah yang Bodong …

Ifani | 13 jam lalu

Benarkah Soimah Walk Out di IMB Akibat …

Teguh Hariawan | 13 jam lalu

Kisah Nyata “Orang Vietnam Jadi …

Tjiptadinata Effend... | 14 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: