Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Alief Prasetya

seseorang yg ingin belajar menulis

Jokowi Dambaan Rakyat Menjadi Presiden

OPINI | 12 June 2013 | 12:42 Dibaca: 551   Komentar: 12   3

Sejak jaman dahula kala, manusia selalu ingin memiliki tokoh panutan didalam hidupnya. Karena itulah kita mengenal begitu banyak, Nabi, Raja, atau bahkan pemimpin-pemimpin suku baik pemimpin spiritual maupun pemimpin politik.

Sejak masih dijaman penjajahan, rakyat indonesia selalu merindukan, seorang pemimpin yang dapat mengayomi dan memperhatikan serta mendengar jeritan hati rakyat. Karena itu kita memiliki pahlawan-pahlawan di setiap penjuru nusantara.

Ketika jaman kemerdekaan kita memiliki Soekarno, Hatta, syarir, Jenderal Sudirman dan masih banyak lainnya. Rakyat sangat mengidolakan mereka sehingga Soekarno di angkat menjadi Presiden seumur hidup. Sampai saat ini kita masih sering mendengarkan banyak orang masih membicarakan dan merindukan sosok seperti Soekarno.

Dimasa Orde baru, setiap perkataan atau tindakan Presiden soeharto adalah benar, rakyat begitu mengeluk-elukkan Soeharto. Dimasa itu bersalaman atau bertemu muka dengan Soeharto adalah suatu kebanggan yang bisa di ceritakan kepada anak dan cucunya hingga bertahun-tahun. Bertemu atau diundang ke Istana bertemu dengan Presiden adalah mimpi kebanyakan rakyat saat itu, dan dapat menaikkan “derajat” orang tersebut di lingkungannya. Bahkan nama Soeharto seperti mantra yang dapat membuka pintu dimana saja dan di bidang apa saja.

Dimasa Reformasi, rakyat di buai oleh harapan akan kehidupan dan kebebasan yang lebih baik. Panutan rakyat saat itu adalah tokoh-tokoh reformasi, seperti Amien Rais, Gusdur atau bahkan tokoh yang dianiaya oleh orde baru Megawati soekarno putri, dan masih banyak lagi. Tetapi dengan berlalunya waktu tokoh-tokoh tersebut sudah mulai beranjak tua. Sedangkan presiden yang terpilih secara langsung oleh rakyat belum bisa memenuhi tuntutan atau keinginan rakyat, terutama generasi muda.

Karena itu banyak rakyat terutama generasi muda mengharapkan seorang pemimpin yang bisa menjadi panutan dalam hidup maupun dalam pemerintahan. Saat ini sebuah nama yaitu JOKOWI, menjadi dambaan rakyat banyak untuk menjadi Presiden di negara ini. Rakyat banyak percaya bahwa Jokowi dapat menjadi pemimpin yang baik, dilihat dari apa yg telah di lakukan di kota Solo. Bahkan rakyat Jakarta memilih Jokowi sebagai Gubernur untuk menata kota ini. Rakyat banyak melihat bagaimana gebrakan Jokowi dalam mengelola kota Jakarta, memerangi korupsi memperhatikan kesejahteraan rakyat lewat KJS (Kartu Jakarta Sehat), KJP ( Kartu Jakarta Pintar) dan juga masih banyak lainnya.

Sehingga walaupun baru saja memulai menata kota Jakarta, istilahnya baru mulai belajar berjalan, Jokowi di harapkan dan di dambakan untuk menata Indonesia. Bahkan sebagian rakyat tidak sabar menunggu 5 tahun lagi untuk mengangkat Jokowi sebagai Presiden, walaupun belum ada kata bersedia keluar dari mulut seorang Jokowi. Belum pernah dalam sejarah negara ini, dimana seseorang begitu di dambakan untuk menjadi Presiden. Ini bisa dilihat dari semua survey yang diselenggarakan oleh lembaga-lembaga survey, dimana Jokowi selalu menempati rating tertinggi mengalahkan nama-nama lainnya.

Sebagian besar rakyat tidak peduli atau lebih tepatnya sangat percaya bahwa Jokowi sanggup menata keadaan bangsa ini yang “katanya” sudah carut-marut karena korupsi dan lainnya. Mereka akan menyerang siapa saja yang berani memberi pandangan agar Jokowi di beri waktu dulu untuk membuktikan diri menata jakarta. Hanya sekedar memberi pandangan agar mereka bersabar selama 5 tahun ( 1 periode) saja, seseorang akan di tentang habis-habisan, apalagi jika seseorang berani mengatakan ketidak-setujuannya Jokowi menjadi Presiden. Bahkan tadi malam di televisi di ucapkan oleh seorang pengamat, bahwa Jokowi sudah seperti seorang Nabi bagi sebagian besar pendukungnya. Itu artinya Jokowi adalah pembawa cahaya di dalam kegelapan bangsa ini, artinya sudah merupakan harga mati Jokowi harus menjadi Presiden. “Let’s wait n see”.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kiprah Ibu-ibu Masyarakat Biasa di Tangerang …

Ngesti Setyo Moerni | | 27 November 2014 | 07:38

Jakarta Street Food Festival: Ketika Kuliner …

Sutiono | | 27 November 2014 | 11:06

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Petisi Pembubaran DPR Ditandatangani 6646 …

Daniel Ferdinand | 6 jam lalu

Senyum dan Air Mata Airin Wajah Masa Depan …

Sang Pujangga | 7 jam lalu

Timnas Lagi-lagi Terkapar, Siapa yang Jadi …

Adjat R. Sudradjat | 8 jam lalu

Presiden Kita Bonek dan Backpacker …

Alan Budiman | 9 jam lalu

Prabowo Seharusnya Menegur Kader Gerindra …

Palti Hutabarat | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Lawan Laos: Antara Kebanggaan dan Harga …

Achmad Suwefi | 8 jam lalu

[Cerbung] Green Corvus #11 …

Dyah Rina | 8 jam lalu

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | 8 jam lalu

Pengabaian Arbitrase di Kasus TPI dan …

Dewi Mayaratih | 8 jam lalu

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: