Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Bom Waktu BBM dan BLSM Sesat

REP | 12 June 2013 | 15:23 Dibaca: 331   Komentar: 2   0

Karena saya bukan ahli dalam bidang ekonomi, saya mau me rewrite dari kultwit nya mas Ahmad Ghozali, dia adalah ahli ekonomi, yang punya Zelts Consulting.

Di bawah ini adalah  kultwetnya mas Ahamd Ghozali

1.    Klo liat di pilem Amrik. Pengangguran di sana dapetnya kupon, bkn cash, cuma bisa beli makanan & basic needs. Gabisa buat miras, rokok, dll.

2.    Klo Balsem (BLSM -ed) dipake buat beli rokok. Itu cuma pindah dari subsidi BBM ke subsidi kesehatan.

3.    Klo buat makan aja sih insya Allah msh bisa, apalagi di kampung. Ganjalan tuk sejahtera itu ketika berhubungan dgn pendidikan & kesehatan.

4.    Asalkan terbuka kesempatan yg adil tuk kerja/bisnis/tani, subsidi tuk pendidikan & kesehatan saja. Insya Allah bisa sejahtera.

5.    Saat krismon 2008, Amrik juga ada program mirip Balsem. Tapi itu bkn bagi2 uang, tapi mengembalikan uang pajak yg sdh dipotong (tax refund).

6.    (@Portuguesamava di Europe juga, Tuna grahita dan org2 miskin dpt jatah lunch/dinner di suatu tempat,dan dijamin biaya kesehatannya by insurance).

7.    Skrg kita lihat teladan Rasulullah saw hadapi curhatan org miskin yg mengeluh blm makan bbrp hari dgn pakaian compang-camping.

8.    Rasulullah tdk langsung kasi makanan. Tanya dulu: “kamu punya apa?”. Ia punya bejana & kain, lalu dilelang ke pembeli tertinggi.

9.    Uangnya lalu dibagi 2. Separuhnya belikan makanan. Separuhnya lagi belikan mata kapak. Rasulullah sendiri yg ikat mata kapak tsb.

10. “Cari kayu, lalu jual di pasar. Jangan kembali sebelum sekian hari” demikian pesan Rasulullah. Orang miskin hrs diberdayakan, dibuat mandiri

11. Andaikan org tadi dikasi makan saja, selesai masalahnya hari itu. Tapi besok ia akan kembali meminta. Padahal fisiknya msh kuat tuk bekerja.

12. Utk tanggap darurat, berikan kebutuhan dasarnya gapapa. Tapi tuk jangka panjang, buat ia mandiri. Jangan malah dibuat ketergantungan.

13. Kecuali kalau tujuannya agar ada rakyat yg bisa dibeli. Dibiarkan miskin & ketergantungan, agar mudah dibeli suaranya saat diperlukan.

14. Tentunya pembinaan mental rakyat juga diperlukan, agar malu ulurkan tangan & tunggu bantuan. Mari kita lihat zaman Rasulullah sbg contoh.

15. Orang miskin di zaman Nabi bahkan bertanya bagaimana caranya agar mereka juga bisa menjadi ahli sedekah. Miskin kantongnya, kaya mentalnya.

16. Saat terluka dlm peperangan, 3 org pejuang saling berkata “bantu yg lain dulu, dia lbh perlu”. Semangat berbagi & mendahulukan saudaranya.

17. Coba kita liat juga sejarah saat khalifah Umar bin Abd Aziz memimpin. Tak ditemui rakyat miskin lagi tuk dibagi zakat. BaitulMaal berlimpah

18. Sampai2 bujangan yg blm menikah krn gak punya uang pun diberi harta zakat agar bisa menikah. *Sekalian colek para jomblo :p

19. Sesuai dgn namanya BALSEM… Di awal aja panasnya. Setelah habis, malah jadi dingin. Di awal girangnya, di akhir malah ketergantungan.

Selain berdasarkan ulasan di atas, berdasarkan keterangan ahli Ekonomi Ichsanudin Noorsy, sumber dana BLSM bukan dari hasil pengurangan subsidi BBM tapi berasal dari utang. Hal itu tertera di laman situs Asian Development Bank (ADB), bahwa BLSM bersumber dari utang ADB dengan nama singkatan proyek DPSP (Development Policy Support Program). Selain itu program BLSM juga dibiayai oleh Bank Dunia (World Bank) dengan nama proyek DPLP tahap 3.
Jadi, sudah jelas, kenaikan harga BBM sebenarnya hanya untuk menarik uang untuk membayar utang pemerintah ke lembaga-lembaga itu. Hal itu penting diambil pemerintah sebagai langkah karena nilai rupiah sedang jatuh sehingga mengakibatkan tekanan neraca pembayaran di tengah membesarnya bayaran cicilan dan bunga utang luar negeri. Jadi rakyat di paksa dengan kenaikan BBM karena kegagalan ekonomi secara umum, karena harga minyak Internasional sedang turun. BLSM bagian dari suap pemerintah atas gagasan USAID, Bank Dunia, dan ADB.

Menurut saya, pemerintah kita selama ini menaruh bom waktu terkait kebijakan BBM. Menaikkan harga BBM hanya sekedar memperpanjang waktu saja, bukan mematikan detonator. Mengurangi subsidi BBM tidak menyelesaikan masalah, selama masalah hulu perminyakan Indonesia tidak di bereskan. Presiden harus menasionalisasi cadangan2 minyak di Indonesia untuk menggenjot produksi minyak dalam negeri kita, ini lah solusi sebenarnya. Bukannya membebek dengan kebijakan AS dan Yahudi terkait penguasaan energi dunia.
Di sistem pemerintahannya, saya mendukung sikap partai politik yang menolak kenaikan BBM. Karena saat ini inflasi sedang naik, dan mendekati waktu puasa yang secara psikologis tanpa bbm naik pun, harga tetap naik.

Tolak Kenaikan BBM, Dukung Nasionalisasi Migas..!!!

Referensi : *https://twitter.com/ahmadgozali, http://isuenergi.com/

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Jebakan Betmen di Museum Antonio Blanco …

Muslihudin El Hasan... | | 22 December 2014 | 06:17

Perbaiki Sikap Berkendaraan agar Hemat BBM …

Fajr Muchtar | | 22 December 2014 | 06:22

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

Refleksi Hari Ibu; Dilema Peran Ibu di Era …

Agus Purwadi Umm | | 22 December 2014 | 02:24

Voluntourism Blog Competition: Berikan Aksi …

Kompasiana | | 08 December 2014 | 19:03


TRENDING ARTICLES

Gol Telat Skrtel, Bawa Liverpool Imbangi …

Achmad Suwefi | 9 jam lalu

Fenomena Prostitusi Online sebagai Efek …

Gholal Pustika Widi... | 14 jam lalu

Sensasi Singkong Rebus Menteri Yuddy …

Andi Harianto | 15 jam lalu

Ketika Tulisanmu Dihargai Jutaan Rupiah …

Wijaya Kusumah | 15 jam lalu

Sekilas Wajah Pak Menteri Anies Mirip …

Agus Oloan | 15 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: