Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Pecel Tempe

apalah arti sebuah nama

Kasus Century, Antara Kebijakan Moneter dan Politik

OPINI | 11 June 2013 | 00:31 Dibaca: 1040   Komentar: 8   1

Adalah  Lehman Brothers, Bear Stearns, Merrill Lynch, AIG, Freddie Mac dan Fannie Mae, sebagai lembaga finansial raksasa AS, selamat menghadapi resesi ekonomi AS paska serangan teroris tahun 2001. Mereka selamat manghadapi resesi ekonomi dunia akibat embargo minyak OPEC tahun 1973 dan selamat menghadapi dua perang dunia. Mereka juga selamat menghadapi resesi ekonomi dunia tahun 1930-an yang sering disebut “the great depression”, akibat krisis keuangan AS pada 1929.  Namun, mereka tidak selamat menghadapi krisis kredit pembelian rumah (KPR) subprime di AS pada 2007/2008.   Dampak krisis ini terjadi pada Lehman Brothers Inc, yang merupakan perusahaan sekuritas keempat terbesar di Amerika Serikat. Lehman menderita bangkrut karena tidak mampu membayar utang senilai US$613 miliar kepada kreditor.  Kebangkrutan Lehman ini mempengaruhi banyak simpul ekonomi di berbagai negara termasuk di Indonesia. Karena Lehman Brother sebelumnya menerima suntikan dana dari para investor dari berbagai belahan dunia termasuk juga bank dunia yang memberikan pinjaman dana besar kepada Lehman dan juga terkena imbas kebangkrutan Lehman, yang akhirnya mulai mengganggu sistem keuangan dunia.

Dampak krisis yang melanda Amerika Serikat dan merambat ke jepang yang menyatakan ekonomi dalam keadaan resesi dan tentu saja berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia. Kedua negara tersebut merupakan pangsa terbesar export Indonesia. Indonesia yang mengalami krisis tahun 1998 yang diawali dengan kekacauan perdagangan mata uang yang menyebabkan rupiah terdepresi begitu dalam dan diikuti kebangkrutan perbankan nasional segera mengambil tindakan preventive dengan menjaga perbankan nasional.  Sebagai mana diutarakan oleh mantan Sekretaris Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK) Raden Pardede menyatakan apa yang dilakukan pihaknya terkait penggelontoran Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) ke Bank Century, demi kepentingan negara. Pemberian fasilitas tersebut untuk menghindari krisis keuangan akibat pengarauh krisis global.

Namun didalam pelaksanaanya ada  dugaan korupsi  dalam penggelontoran FPJP ini, bermula dari pengajuan permohonan fasilitas repo (repurchase agreement) aset oleh Bank Century kepada BI sebesar Rp 1 triliun. Pengajuan repo aset itu dilakukan untuk meningkatkan likuiditas Bank Century. BI merespons permintaan fasilitas itu dengan menggulirkan wacana pemberian FPJP. Padahal Bank Century tidak memenuhi syarat untuk memperoleh fasilitas itu. Ketidaklayakan Bank Century menerima FPJP disebabkan capital adequacy ratio (CAR) bank tersebut di bawah 8 persen, batas minimum yang ditetapkan BI. Namun, pada 14 November 2008, BI kemudian mengeluarkan aturan baru untuk persyaratan FPJP dari CAR minimal 8 persen menjadi CAR positif. Pihak BI dan Bank Century lantas menghadap notaris Buntario Tigris. Kemudian pada malam harinya, dana FPJP untuk Bank Century pun cair sebesar Rp 502,72 miliar untuk tahap pertama dan tahap berikutnya Rp 689 miliar.

Kebijakan moneter yang diambil dalam situasi darurat tersebut pada akhirnya menjadi komoditas politik seiring membaiknya perekonomian Amerika Serikat. Antara keberhasilan Indonesia membentengi pengaruh krisis global dan pelanggaran ketentuan normal  menjadi kabur karena sudah dimuati kepentingan politik. Boediono dan Sri Mulyani  yang pada waktu itu menjadi pemegang otoritas moneter adalah pihak yang dituding harus  bertanggung jawab dalam hasil angket DPR RI.  Belakangan kasus Century mencuat lagi kepermukaan seiring dengan getolnya KPK menelusuri aliran dana kasus suap impor daging sapi yang melibatkan mantan presiden PKS.  DPR pun mengundang KPK untuk menjelaskan progres penanganan kasus  Century yang diwarnai adu pendapat antara Fahri Hamzah dari Fraksi PKS dengan  pimpinan KPK Banbang Widjajanto.

Politik jumpalitan yang dilakukan elit PKS ini ternyata mengundang kritik walaupun apa yang dilakukannya adalah tindakan pro rakyat namun dilatar belakangi kasus suap yang mulai diarahkan ke elit politik PKS lainnya. Antara kepentingan politik dan kebijakan moneter dalam menghadapi situasi krisis sudah campur aduk, berhasil atau tidaknya kebijakan tersebut akan menjadi masalah.  Logika politik yang mencari pembenaran ini menyebabkan pemegang otoritas tidak berani mengambil kebijakan apapun dalam mengangkat perekonomian Indonesia. Pemerintahan yang tersandera oleh logika politik demikian mau tidak mau mengambil jalan praktis dan instan, cari pinjaman atau naikan harga BBM untuk mengatasi defisit anggaran. Dan kebjakan inipun menjadi komoditas politik yang baru.

Tags: century kpk pks

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Merawat Identitas Melalui Karya Seni …

Khus Indra | | 23 September 2014 | 11:34

Menemukan Pembelajaran dari Kasus Habibi dan …

Maria Margaretha | | 23 September 2014 | 03:26

Ke Mana dan di Mana Mantan Penghuni …

Opa Jappy | | 23 September 2014 | 08:58

Pak Jokowi, Jangan Ambil Kepala Daerah Kami …

Felix | | 23 September 2014 | 10:00

[Studio Attack] Mau Lihat Geisha Latihan …

Kompas Video | | 23 September 2014 | 11:00


TRENDING ARTICLES

Mendikbud Akhirnya Tegur Guru Matematika …

Erwin Alwazir | 3 jam lalu

Ini Kata Anak Saya Soal 4 x 6 dan 6 x 4 …

Jonatan Sara | 5 jam lalu

PR Matematika 20? Kemendiknas Harus …

Panjaitan Johanes | 7 jam lalu

Kesamaan Logika 4 X 6 dan 6 X 4 Profesor …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Cara Gampang Bangun ”Ketegasan” …

Seneng Utami | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Lawu, Episode Mendaki Melarung Rindu …

Endah Lestariati | 8 jam lalu

Kalah atau Menang Itu Wajar, Tapi Kalau …

Wahyu Hidayanto | 8 jam lalu

Rumah Sakit Harus Ikuti Clinical Pathway …

Info Jkn-bpjs Keseh... | 8 jam lalu

Termostat …

Martua Raja Pane | 8 jam lalu

Maaf, Kemampuan Menerjemah Bahasa Inggris …

Gustaaf Kusno | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: