Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Hamdan Bin H.muhaimin

Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Masyarakat Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Pesta Pemilihan Lurah Kabupaten Tangerang

OPINI | 10 June 2013 | 19:06 Dibaca: 369   Komentar: 1   1

Pemilu merupakan barang yang sudah dianggap lazim di negeri ini. Hak rakyat untuk memilih pemimpinnya sendiri baik di tingkat negara, propinsi, kabupaten, kota, bahkan hingga tingkat desa sekalipun ada. Rakyat diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk memilih siapa diantara calon - calon pemimpin tersebut yang akan diberikan amanah untuk memimpin mereka selama periode 5 tahun ke depan.

Di Kabupaten Tangerang kini sedang diramaikan oleh pemilihan kepala desa yang akan dilaksanakan di bulan Juni ini. Spanduk-spanduk, poster, baliho, atau hanya skedar kain kain sobek yang digantung untk mencirikan warna yang diusung oleh para calon bertebaran di mana-mana. Di jalan raya yang besar, di gang-gang perkampungan, di kendaraan umum, dan di tempat-tempat lainnya.

Dalam hati berfikir, apa yang hendak ingin didapatkan oleh para calon tersebut hingga rela menghabiskan dana berjuta-juta rupiah untuk terpilihnya mereka mejadi kepala desa di daerah mereka? Murni kah ingin menyejahterakan rakyat seperti tercantum di tagline spanduk-spanduk mereka. Ataukah ingin popularitas? Hmm… Rasanya kepala desa tidak terlalu menarik kalau ingin populer (mending kayak arya wiguna saja). Atau… Jabatan tersebut adalah salah satu wadah “investasi”. Hmmm… Mungkin ya mungkin tidak.

Demokrasi itu mahal, ya saya rasa sangat mahal. Mau jadi pemimpin? Sedia duit dulu. Modal. Yah memangnya bikin spanduk, poster, baliho, bayar tim sukses g pake uang? Hm… Udah ngeluarin uang banyak berarti “Harus balik modal”. Kecuali memang yang nyalon kades tersebut dari orang yang sangat kaya dan dermawan. Jadi mengabdikan dirinya untuk masyarakat. Namun kenyataan kebanyakan calon kepala desa tersebut bukan dari golongan yang kaya secara materi. Lantas, bagaimana cara balik modal. Tentu para pembaca tahu maksud saya. Dan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Euforia pemilihan kepala desa di kabupaten Tangerang ini juga mungkin telah membutakan masyarakat akan nilai-nilai kejujuran dan pemberian amanah. Yah, dapet uang beberapa puluh ribu rupiah atau kaos kampanye atau sembako mengatasnamakan bansos untuk “menyuap” rakyat juga sudah jadi barang lumrah di negeri ini. Rakyat cuma bisa mikir “yah lumayan buat beli rokok sama beras, milih yang ngasih duit aja”. Yah, itulah harga kepercayaan rakyat mudah didapatkan saat kampanye dengan memberi fulus, kaos, atau sembako. Padahal itu semua adlah “investasi”, yang selanjutnya akan dibalik modal dengan cara … Yah jalan yang harusnya diaspal 2000 meter jadi 1500 meter… Raskin yang 2 ton jadi 1,5 ton…anggaran yang sekian juta dibikin dua kian juta… Atau malah bikin “kuitansi-kuitansian”. Yah semua itu adalah cara yang MUNGKIN dilakukan supaya balik modal tadi.

Mungkin cuma pemilu di negeri antah berantah sana yang benar-benar 100 prosen jujur. Negeri dimana masyarakatnya memiliki “harga diri” semuanya. Negeri dimana para pemimpinnya berwujud manusia, tapi berhati malaikat. Negeri dimana para penegak hukumnya tidak kenal yang namanya “fulus”. Negeri dimana istilah “korupsi” tidak pernah diketahui sampai ada yang bilang “makanan apaan tuh?”. Dimanakah negeri itu? Saya tahu dimana :)
Di negeri ANTAHBERANTAH. Yah…Mudah-mudahan minimal kabupaten tangerang tercinta ini minimal dapat 10 persen mirip dengan negeri antah berantah itu.

Selamat memilih kepala desa buat warga tangerang kabupaten. Selamat berdemokrasi ria dan nyoblos calon. Entah kumisnya, matanya, idungny, pecinya, atau anunya (eh…maksudnya gambarnya), terserah. Karena dengan sistem demokrazy ini, yah mau tidak mau begitulah cara memilih pemimpin :) atau…mau golput? Silahkan! itu hak anda.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Rekor pun Ternoda, Filipina Bungkam …

Achmad Suwefi | | 25 November 2014 | 17:56

Pak Ahok Mungutin Lontong, Pak Ganjar …

Yayat | | 25 November 2014 | 21:26

Menunggu Nangkring Bareng PSSI, Untuk Turut …

Djarwopapua | | 25 November 2014 | 21:35

Jangan Sembarangan Mencampur Premium dengan …

Jonatan Sara | | 24 November 2014 | 10:02

Olahraga-olahraga Udara yang Bikin Ketagihan …

Dhika Rizkia | | 11 November 2014 | 13:41



HIGHLIGHT

Golkar Lengserkan Aburizal Bakrie, Babak …

Imam Kodri | 8 jam lalu

Bom Nuklir Ekonomi Indonesia …

Azis Nizar | 8 jam lalu

Berburu Oleh-oleh Khas Tanah Dayak di Pasar …

Detha Arya Tifada | 9 jam lalu

Festival Foto Kenangan Kompasianival 2014 …

Rahab Ganendra 2 | 9 jam lalu

Lagi-lagi Kenaikan BBM …

Anni Muhammad | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: