Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Saptadi.com Nurfarid

Lahir di kota kecil, tengah pulau Jawa bernama Ambarawa. Kota Ambarawa yang pluralis, ramah, dan selengkapnya

Hadiah Ultah Terburuk Pancasila Justru dari TVRI (milik Negara)

OPINI | 07 June 2013 | 13:14 Dibaca: 563   Komentar: 27   0

Pagi ini terhentak oleh kabar dari daerah, TVRI Nasional menayangkan ulang Muktamar HTI yang begitu ramah dan semarak menyambut ulang tahun Pancasila beberapa waktu lalu. Pancasila langsung seperti kain usang. Lusuh diterpa berbagai riak kebebasan semenjak reformasi kita proklamirkan. Reformasi ini memang deru kendaraan bobrok yang kerap mogok di jalan. Dahulu indah kita hiaskan akan memulai sesuatu dengan tekad dan semangat membersihkan Indonesia. Tetapi yang kita puja muka-muka lama yang pernah membawa Negara ini terpuruk sampai susah bangkit lagi. Pak Harto hampir dan mungkin akan segera kita junjung sebagai pahlawan, seakan menghapus semua ingatan kita pada nasib buruk Indonesia, hingga sekarang belum nyata kebangkitannya.

Sebagian pemimpin kita membangkitkan nostalgia itu. Salahnya nahkoda reformasi dulu yang kini juga kian renta dengan cita-citanya itu adalah merasa gagah walaupun muka-muka lama tidak perlu kita adili dalam pengadilan untuk tentukan sikap nyata bangsa ini, karena popularitas mereka akan tetap moncer dan kemenangan pemilu di depan mata. Akhirnya ornamen besar orde baru tidak sepakat kita runtuhkan. Dia malah lebih kokoh sekarang. Dan budaya korupsi tidak hanya menggerayanginya, tetapi menjadi panutan seluruh lini, hulu ke hilir. Dia tidak hanya calon pemenang Pemilu masa datang, Ketumnya juga PeDe nyapres walaupun survey masih terpuruk.

Sekarang, tidak oleh korupsi. Ideologi juga keropos. Sebuah lembaga penyiaran yang dulu sering kita gadang menjadi corong besar di Negara ini, malah menjadi pandega dalam menyuarakan perubahan besar ideology NKRI. Negara ini seperti tidak ada pemimpin yang berwibawa. TVRI gagah sekali menjunjung idealisme menggusur Pancasila dan NKRI di depan muka Presiden RI dan Lembaga Negara terhormat. Menyorongkan sebuah kotoran di depan muka mereka, dan mengatakan,”Sampeyan itu taek semua!”

Sampai detik ini tidak satu pun pejabat RI, boro-boro Presidennya, bahkan Menkominfo dan jajarannnya seperti tidak terlalu menggubris persoalan ini. Ini seperti kerikil kecil dalam persoalan lain yang lebih besar seperti Pemilu 2014. Kesibukan pejabat kita tersita penuh oleh keinginannya untuk berkuasa. Ideologi digerus nyata di depan mata, sama sekali tidak menghentakkan semangat nasionalisme mereka.

Jika benar seperti ini, saya juga seperti melihat aparat TNI dan POLRI juga seperti buta oleh bahaya laten di depan mata. Kebobrokan ideologi Negara, robeknya falsafah Negara, tidak sedikit pun mampu menarik perhatian mereka. HTI adalah sebuah penentangan ideologi, wajar jika hanya diberi tempat dan hak bicara, tetapi menggunakan alat negara sungguh ironi dan menyesakkan.

Namun alasan TVRI menayangkan bukanlah karena demokrasi. Karena jika demokrasi tentu dia akan memberikan lebih banyak ruangan dan waktu khusus untuk membicarakan kebangkitan negeri ini dan memperkokoh persatuan Nasional sebagaimana moto-nya dahulu “menjalin persatuan dan kesatuan”, daripada memberi tempat untuk penghinaan bagi ideologi Negara. Uang sebesar apa pun tidak menjadi alasan yang cukup diterima masyarakat untuk  TVRI dengan melakukan pengkhianatan terhadap sejarah dan nilai-nilai luhur bangsa ini.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Melihat Lagi Fenomena Jokowi di Bentara …

Hendra Wardhana | | 25 October 2014 | 05:13

Terpaksa Olahraga di KLIA 2 …

Yayat | | 25 October 2014 | 02:17

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Pengabdi …

Rahab Ganendra | | 24 October 2014 | 22:49

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25


TRENDING ARTICLES

Kursi Gubernur Ahok dan Ambisi Mantan Napi …

Zulfikar Akbar | 7 jam lalu

Jangan Musuhi TVOne, Saya Suka Tendangan …

Erwin Alwazir | 7 jam lalu

Jokowi Ajak Sakit-sakit Dulu, Mulai dari …

Rahmad Agus Koto | 8 jam lalu

Gayatri, Mahir Belasan Bahasa? …

Aditya Halim | 11 jam lalu

Romantisme Senja di Inya Lake, Yangon …

Rahmat Hadi | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Membuat Bunga Cantik dari Kantong Plastik …

Asyik Belajar Di Ru... | 8 jam lalu

Benalu di Taman Kantor Walikota …

Hendi Setiawan | 8 jam lalu

Jokowi Bentuk Kabinet Senin dan Pembicaraan …

Ninoy N Karundeng | 8 jam lalu

Bosan Dengan Kegiatan Pramuka di Sekolah? …

Ahmad Imam Satriya | 8 jam lalu

Ditunggu Kehadiran Buku Berkualiatas Untuk …

Thamrin Dahlan | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: