Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Sutomo Paguci

Pewarta warga mukim di Padang | Advokat | Nonpartisan | Menulis sebagai rekreasi

Propagandakan SBY Takut Pecat Menteri PKS, Apa Tujuannya?

OPINI | 05 June 2013 | 21:21 Dibaca: 745   Komentar: 21   7

1370149477973715941

Ilustrasi politisasi kenaikan BBM oleh PKS (Foto: Sutomo Paguci)

Betapa lugu propaganda politik yang dikembangkan kader atau simpatisan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) belakangan ini. Jelas saja tertangkap oleh politisi sekaliber SBY.

Seperti gayung bersambut politik muka dua PKS terkait kenaikan BBM, kader atau simpatisan PKS menyebarkan propaganda. Bahwa Presiden SBY tak berani menggunakan hak prerogatifnya, tak berani memecat menteri asal PKS yang berseberangan dengan dirinya.

Apa tujuan antara dari propaganda ini? Mudah ditebak. Yakni, memanas-manasi publik dan SBY agar memecat menteri dari PKS di kabinet. PKS ogah memilih opsi mundur dari kabinet. Karena mundur berarti pecundang—padahal, mundur lebih terhormat, tapi karena otak sudah terpolusi makanya opsi ini tak diambil.

Sementara itu, tujuan akhirnya: dengan dipecatnya menteri asal PKS tersebut maka PKS akan tercitrakan diri sebagai partai yang dizalimi demi membela wong cilik terkait kenaikan BBM. Ruarrrrr biasa. Licik bin culas, bukan?

Padahal, propaganda PKS itu omong kosong semua. Kenaikan BBM merupakan suatu keniscayaan. Tidak ada cara singkat dalam dua bulan ini yang mampu mendapatkan uang guna menutup jebolnya APBN, kecuali menaikkan harga BBM. PKS tahu itu.

PKS sendiri tak punya formula ces-pleng, yang bukan sekedar teori, yang bukan sekedar retorika, agar BBM tak naik. Makanya spanduk-spanduk PKS hanya berbunyi “menolak kenaikan harga BBM…dst” tanpa ada satu patah kata pun bagaimana solusi aplikatif dari PKS.

PKS menolak kenaikan BBM bukan berdasarkan alasan faktual-rasional melainkan berdasarkan alasan politisi. PKS mempolitisasi kenaikan harga BBM buat keuntungan politiknya di tengah badai prahara kasus sapi dan fustunnya itu.

Itulah PKS.

(SP)

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

“Bajaj” Kini Tak Hanya Bajaj, …

Hazmi Srondol | | 19 September 2014 | 20:47

Ekonomi Kemaritiman Jokowi-JK, Peluang bagi …

Munir A.s | | 19 September 2014 | 20:48

Imbangi Valencia B, Indra Sjafrie Malah …

Djarwopapua | | 19 September 2014 | 14:17

Kiat Manjakan Istri agar Bangga pada …

Mas Ukik | | 19 September 2014 | 20:36

Rekomendasikan Nominasi “Kompasiana …

Kompasiana | | 10 September 2014 | 07:02


TRENDING ARTICLES

ISIS Tak Berani Menyentuh Perusahaan yang …

Andi Firmansyah | 7 jam lalu

Mencoba Rasa Makanan yang Berbeda, Coba Ini …

Ryu Kiseki | 8 jam lalu

Fatin, Akankah Go Internasional? …

Orang Mars | 8 jam lalu

Timnas U23 sebagai Ajang Taruhan… …

Muhidin Pakguru | 11 jam lalu

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Ketika Calo Berkeliaran di Baitulharam …

Choirul Huda | 8 jam lalu

BPJS dAN KJS Sangat Membantu Masyarakat …

Sony Hertanta | 8 jam lalu

Penipuan Bermodus Penangkapan!!! (Silahkan …

Christian Kelvianto | 8 jam lalu

Yuk, Jadi Pengguna Elpiji yang Cerdas dan …

Yoseph Purba | 8 jam lalu

Konsep Unik Band dengan Bertopeng …

Anto Karsowidjoyo | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: