Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ahudan

Melukis hidup... membincang peradaban. Ini hidupku tak kusia siakan

PKS Pyungan Vs Detik | dari Akar Rumput menuju Tiga Besar

REP | 03 June 2013 | 09:43 Dibaca: 399   Komentar: 4   1

Rapatkan Barisan jadikan pkspiyungan Tembus 3 besar

Membicarakan pemilu 2014 memang sangat seksi dan menarik, suguhan efek dan drama yang dipertontonkan sekarang ini seakan menyihir jutaan rakyat Indonesia. Sampai sampai salah satu situs berita terpopuler mengatakan bahwa pertunjukan politik itu sudah sampai tersiar di negara amerika. Laiknya parade akademi Oscar yang akan menelurkan actor dan film terbaiknya, maka di negeri ini juga akan menelurkan tokoh terbaik dan organisasi politik terbaiknya. Puncak penghargaan itu akan diselebrasikan pada April 2014. Penentuan pemenangnya tidak terlepas dari banyaknya banyaknya animo masyarakat terhadap film tersebut. Animo masyarakat pada suatu organisasi politik tertentu memang tidak lepas dari peran media untuk mengkampanyekan organisasi tersebut agar diterima luas. Dalam hal ini peran media begitu penting.

Mengutip kata kata menteri komunikasi dan informasi pada sebuah seminar “Media mempunyai peran penting guna menyampaikan informasi ke masyarakat, namun media juga dapat dimanfaatkan oknum untuk memecah belah bangsa” (antaranews.com1).

Dari sini dapat dilihat bahwa peran media bisa diibaratkan seperti pisau bermata dua. Satu sisi dapat digunakan untuk pencerahan, sisi yang lainnya dapat digunakan pula sebagai sumber kejahatan. Ada salah satu penelitian di jepang mengenai repetitive power, menjelaskan bahwa karakter itu akan melekat bila informasi terus menerus di tanam pada otaknya. Bila kita diperdengarkan informasi mengenai kejelekan politisi secara terus menerus setiap hari. Maka jadilah masyarakat itu menjadi komunitas pembenci politisi. Tak ada sebersit fikirpun bahwa ternyata masih ada sekelompok orang yang memperjuangkan hak hak masyarakat kecil di belantara demokrasi secara tulus ikhlas. Bukankah ibnu taimiyah pernah berkata “menegakkan keadilan benar-benar tidak dapat teraplikasi kecuali melalui jalan pencapaian kekuasaan dan otoritas pemimpin/imam”.

Bila selama ini yang direkam media adalah pelanggaran para politisi yang ditampilkan, di blow up segala kekuarangannya bahkan dibumbui dengan fitnah bila perlu, hendaknya sekarang corong media itu mulai diarahkan pada kerja kerja positif yang sudah terimplikasi di masyarakat misalnya. Capaian UU mengenai penanganan fakir miskin, system peradilan anak, pendidikan tinggi, keuangan MIKRO, pengelolaan zakat, pornografi, diskriminasi ras dan etnis, perbankan syariah dan banyak lainnya.

Ada beberapa politisi yang rela menembus dinginnya malam, menyusuri gang gang sempit untuk menemui masyarakat. Ada pejabat negara yang naik tokang kayu dari satu pulau ke pulau lainnya untuk menyambangi rakyat yang menjadi tanggung jawabnya. Ada pula politisi yang beramai ramai memberikan dana gratifikasi yang diperolehnya pada komisi penegak hukum. Hingga mengundurkan diri secara berjamaah ketika rangkap jabatan atau di duga terkena kasus tertentu. Apatah daya….. secuil permata itu terlalu ringkih dan sempoyongan dibanding megalomania media yang mengekspos besar besaran bobrok politisi yang dianggap bermasalah. Warren buffet pernah berucap “”perlu 20 tahun untuk membangun reputasi dan cukup 5 menit untuk menghancurkannya””

Menarik melihat trending image PKS baru baru ini, jualan partai ini sangat laris di berbagai media. Dan di tengah badai krisis yang menghantam PKS tetap juga melahirkan tokoh tokoh baru yang semakin semerbak harum di kenal luas masyarakat. Teringat yang dikemukakan warren buffet, partai putih ini sampai 15 tahun lamanya bersih tanpa noda korupsi. Hingga baru baru ini public dikejutkan dengan pemberitaan yang menyengat mengenai kasus korupsi yang langsung menjerat presidennya Lutfi hasan iskhak.

Saya masih ingat ketika kasus ini pertama diangkat oleh Karni Ilyas host Indonesia Lawyer Club, simak apa yang beliau sampaikan dalam pembukaannya, “Sebuah peristiwa yang sangat mengagetkan, dan mungkin pertama kali di republik, ketua partai dijemput di markasnya, ditahan, dicekal dan di tuduh. Tuduhannya sangat memilukan. Kenapa peristiwa ini menjadi penting, kemarin yang ditahan adalah ketua partai yang dianggap publik sangat bersih dan dianggap menjadi akan membawa sistem di republik ini menjadi tidak lagi bergelimang korupsi. Kalau tuduhan ini benar, maka sudah habis harapan terhadap partai politik manapun. Makanya prahara yang terjadi pada PKS saya namakan Prahara PKS, prahara politik keseluruhan. Ketika masyarakat nanti tidak percaya lagi pada partai politik, itu adalah bencana untuk negeri kita.”(video.tvonenews.tv2)

Saya yakin dengan seyakin yakinnya, bila melihat ejaan baku dalam Bahasa Indonesia, kalimat diatas sudah sangat jelas mafhummnya, tidak multi tafsir. Sebagai host ia mewakili hati jutaan rakyat Indonesia, mengakui dan menyatakan bahwa sebelum kasus ini PKS adalah partai yang ditunggu tunggu rakyat Indonesia-membawa sistem yang tidak lagi bergelimang korupsi dan menjadi garda terakhir contoh politik bersih, system modern di indonesia. Terkait dengan tuduhan kepada ustad LHI sampai dengan hari ini masih belum bisa disimpulkan bersalah, ada kecendurungan justru sangkaan TPPU itu tidak berdasar (Kutip”prof. Ramli3 ). Diluar itu, apa yang disampaikan Karni Ilyas, menghenyak kita yang bila selama ini berasumsi MEDIA tidak berpihak kepada PKS. Kerja kerja keras yang ditampilkan kader dalam legislatif, pemerintahan, atau di masyarakat seakan tidak bisa membendung individu yang bekerja di MEDIA untuk tidak bersimpati kepada PKS. Cinta itu dari mata turun ke hati katanya. Walau sejatinya MEDIA di Indonesia itu milik orang partai tertentu, namun yang bekerja dalam industri media itu juga karyawan2 yang memiliki hati dan cinta, terlebih melihat kerja Cinta PKS selama ini.

Oleh karena itu, kita sebetulnya membutuhkan media untuk menyampaikan kerja kerja cinta ini. Bukan kita gunakan untuk pencitraan atau kampanye. Karena kebaikan itu perlu di perlihatkan dan di wabahkan pada masyarakat Indonesia. Dengan demikian kita bisa mendidik dan membentuk karakter masyarakat melalui kerja kerja kita. Tanpa media pun selama ini PKS tetap bekerja melalui para kadernya yang militan. Dengan media yang “super”, maka semakin mudah pula mendidik dan menanamkan karakter Cinta Kerja Harmoni pada masyarakat.  Saya yakin PKS juga akan cinta pada partai lain yang menanamkan CINTA KERJA HARMONI- BERSIH PEDULI PROFESIONAL dalam kehidupan berpolitik. Munculnya kader partai partai lain yang ahli sholat, Puasa, sholat malam, Hafid quran, jujur, amanah menurut saya juga merupakan salah satu tujuan dan keberhasilan dari Partai ini.

Sampai dengan sekarang kita memaklumi bahwa kita masih belum memiliki media yang cukup untuk mendistribusikan seluruh amal siyasi kita. Taklim rutin yang diadakan, pengobatan gratis, relawan bencana, sekolah sekolah yang didirikan, artis artis islami yang di tampilkan di TV,  gerakan menulis yang telurkan berbagai prestasi, pembentukan karakter kepemudaan, donasi social pada umat islam di dunia, aksi demo menentang perlakukan keji pada palestina, belum capaian positif pemimpin daerah yang berasal dari PKS. Kontrobusi positif itu perlu ditampilkan ke publik untuk memberikan harapan bahwa Indonesia masih bisa menjadi negara berbangkit. Kita tidak punya media seperti tokoh politik lainnya. Pun demikian tidak perlu berkecil hati karena social media menjadi harapan yang murah dan mudah.

Mengamati pengaruh social media ini, mau tidak mau kita harus berikan standing applaus untuk situs situs seperti pkspiyungan.org, kabarpks.com juga situs situs sejenis lainnya. Mengingat media tersebut mewakili perasaan kader dan sebagian masyarakat dengan pemberitaan pemberitaannya. Media tersebut insyaallah menjadi oase segar terhadap pemberitaan berbagai media swasta yang cenderung agak miring terhadap PKS. Kalau melihat pemberitaan detik.com yang akhir akhir ini cenderung tendensius, tentunya public bertanya tanya apakah jurnalisme yang seharusnya menopang pilar demokrasi itu telah menggadaikan kejujuran dan etika dalam menyampaikan informasi yang baik dan benar pada masyarakat ??. Detik.com saat ini berada pada rangking ke 7 situs yang sering dikunjungi khususnya di negara Indonesia. Pantas tentunya ia menjadi rujukan penting di ranah social media.

1370227340189400482

Menganalisa pkspiyungan vs detik itu diibaratkan pertarungan besar antara david vs goliath, pkspiyungan yang awal keberadaannya tidak diperhitungkan namun sekarang merangsek mengancam ketenangan media media besar laiknya detik, tempo, kompas, dan yang lainnya. Selama kurun waktu 6 bulan kenaikan pengunjungnya 90% lebih, Hal ini menjadikan rangking pkspiyungan naik rata rata 27% per 2 minggu sekali. Bila trend ini konsisten maka tidak mungkin tidak pkspiyungan akan merangsek ke 10 besar situs yang sering dikunjungi oleh masyarakat Indonesia. Menjadi rujukan penting sekaligus mewarnai karakter dengan balutan nafas islami yang kental. Bila PKS dengan cita citanya pada 2014 berkeyakinan tembus 3 besar. Maka tidak salahnya pkspiyungan juga bertekad untuk tembus 3 besar situs paling dikunjungi di negeri firdaus Indonesia.

SALAM 3 BESAR !!

1370227244912317338

Sumber Kutipan :

1. Monkominfo : http://www.antaranews.com/berita/376604/menkominfo-ajak-hentikan-memecah-belah-bangsa

2. Karni ilyas : http://video.tvonenews.tv/arsip/view/66809/2013/02/05/prahara_pks_prahara_politik.tvOne

3. http://www.islamedia.web.id/2013/05/wawancara-eksklusif-pakar-hukum.html

4. Gambar david vs goliath : https://lh4.googleusercontent.com/-06bokw4DSk4/UZ_p6z8teXI/AAAAAAABFj4/PuxcvvZnmU0/s400/david-vs-goliath1.jpg

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kompasiana Nangkring bareng Pertamina …

Santo Rachmawan | | 01 September 2014 | 13:07

Intip Lawan Timnas U-23 di Asian Games : …

Achmad Suwefi | | 01 September 2014 | 12:45

Anda Stress? Kenali Gejalanya …

Cahyadi Takariawan | | 01 September 2014 | 11:25

‘Royal Delft Blue’, Keramik …

Christie Damayanti | | 01 September 2014 | 13:32

Ikuti Blog Competition Sun Life dan Raih …

Kompasiana | | 30 August 2014 | 17:59


TRENDING ARTICLES

Ini Kata Rieke Dyah Pitaloka …

Uci Junaedi | 5 jam lalu

BBM Bersubsidi, Menyakiti Rakyat, Jujurkah …

Yunas Windra | 9 jam lalu

Rekayasa Acara Televisi, Demi Apa? …

Agung Han | 10 jam lalu

Salon Cimey; Acara Apaan Sih? …

Ikrom Zain | 10 jam lalu

Bayern Munich Akan Disomasi Jokowi? …

Daniel Setiawan | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Nikmat Merantau …

Cucum Suminar | 7 jam lalu

Perbaikan Gedung DPRD Kab.Tasikmalaya …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Kompasianer, dari Sekedar Komentator Hingga …

Sono Rumekso | 8 jam lalu

Legislator Karawang Sesalkan Lambannya …

Abyan Ananda | 8 jam lalu

Di The Hague [Denhaag], ada …

Christie Damayanti | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: