Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Gedang Kepok

Gedang Kepok adalah nama pena untuk penulis kompasiana ini. Karena satu dan lain hal, identitas selengkapnya

Kompas.com: Mengulang Kesalahan Windows 8

OPINI | 03 June 2013 | 04:52 Dibaca: 2372   Komentar: 28   20

Beberapa hari ini tentu pembaca kompas.com sudah bisa merasakan perubahan tatamuka kompas.com yang baru. Pada awal perubahannya, situs ini mengklaim kalau perubahan tersebut adalah wujud perubahan paradigma kepemilikan Kompas.com. Dikatakannya, dengan wajah baru kompas.com menjadi milik pembaca karena pembaca bisa membuat situs tersebut lebih personal dengan menyesuaikan isi dan berita seperti yang diinginkan pembaca. Namun klaim ini sepertinya hanya akan menjadi angin lalu karena perubahan tersebut hanya semu dan pengalaman dengan tata-wajah baru ini bagi saya pribadi tidaklah menyenangkan. Lebih buruk lagi, antarmuka baru Kompas.com–yang secara tidak langsung mirip dengan antar muka windows 8 yang penuh dengan grafik persegi–akan dibenci banyak pembaca setia.

Pertama-tama adalah masalah antarmuka and tata letak grafik yang berjibun membuat pengunjung mau muntah. Pertama kali memasuki situs ini, pengunjung langsung berhadapan dengan grafik kotak-kotak dengan berbagai ukuran. Ada yang  berisi highlight berita dan ada pula yang berisi iklan dengan tata letak menyebar tidak beraturan. Bahkan banner iklan di tempat paling atas seringkali tumpang tindih dengan grafik highlight berita. Sungguh desain yang sangat tidak diharapkan dari brand name sekelas Kompas. Seperi desain Metro pada Windows 8, grafik kotak-kotak ini mendowngrade kompas.com sebagai situs berita yang terpercaya menjadi tidak lebih sebagai situs hiburan.

Bandingkan dengan website berita kelas dunia seperti New York Times  atau The Guardian! Kompas.com baru sama sekali tidak merncerminkan sebagai situs berita terpercaya. Grafik kotak-kotak berbagai ukuran dengan teks yang sangat minim untuk memberi snaphsot berita tak lebih dari display foto digital, yang seringkali berkualitas rendah. Pengunjung kompas.com seperti saya mengharapkan berbagai berita yang bisa terpercaya dalam snapshot di halaman muka: headlines jelas, grafik rapi dan informatif dengan iklan yang tidak agresif. Kompas.com baru tidak memenuhi tiga harapan utama saya. Sama seperti disain metro di Windows 8 yang saya benci, saya sama sekali tidak suka dengan desain kompas.com baru yang modern tetapi berjibun dengan sampah digital.

Alih-alih mau dijadikan milik pembaca dengan fasilitas personalisasi, wajah baru kompas.com tidak lagi mencerminkan situs berita yang terpercaya. Saya masih percaya, misi situs berita terpercaya adalah membawa berita yang akurat dan membangun opini yang sehat untuk demokrasi dan kemajuan bangsa. Berita bukanlah hal yang harus dibatasi dengan taste pembaca. Pembaca seperti saya mengharapkan melihat semuanya, dan mengambil  mana yang menarik pada waktunya. Situs berita bukanla situs hiburan dan kompas.com telah terlalu jauh mengagnggap berita sebagai hiburan. Common Kompas! Don’t repeate Windows 8 blunder!

Yang kedua adalah font yang digunakan. Font baru tampak lebih modern dan lebih gesit tetapi tampak kaku dan dingin. Seperti kota modern yang penuh gedung yang serba curvy, font baru memberi kesan tidak ramah. Font baru ini lebih menunjukkan modernitas yang serba instan dan meninggalkan keramahtamahan. Hilang sudah kehangatan yang menyertai saat membaca kompas cetak. Hilang sudah rasa kedekatan digantikan perasaan dikomersialisasi oleh modernitas dan kapitalisme.

Saya tidak tahu siapa dibalik perubahan paradigma baru ini tetapi menurut saya,  kompas.com baru sudah gagal. Sebagai situs berita, saya menginginkan situs berita yang handal, bukan situs hiburan yang instan. Sebagai warganegara saya menginginkan kompas.com tetap menjadi pilar demokrasi yang dikunjungi oleh berbagai macam pembaca dimana ide dan pikiran tentang Indonesia bisa berkembang. Saya tidak mengharapkan kompas.com terlalu banyak menekankan hiburan pada homepage-nya. Dan akhir kata, tak perlu malu kembali ke dasar! Jadikan kompas.com sebagai situs berita handal, denga tatawajah menyenangkan dan ramah seperti Kompas (cetak) yang telah menjadi pilar demokrasi Indonesia sejak berdirinya.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nasib Buruh Migran di Pintu Akhir …

Eddy Mesakh | | 19 December 2014 | 12:57

Dengan Google Street Kita Bisa …

Daniel H.t. | | 19 December 2014 | 09:34

Tim “Hantu” Menpora Berpotensi …

Erwin Alwazir | | 19 December 2014 | 12:47

Tiga Seniman “Menguak Takdir” …

Ajinatha | | 19 December 2014 | 09:08

Tulis Ceritamu Membangun Percaya Diri Lewat …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 14:07


TRENDING ARTICLES

Menteri Rini “Sasaran Tembak” …

Gunawan | 9 jam lalu

Inilah Drone Pesawat Nirawak yang Bikin …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Seorang Manager Menjadi Korban Penipu …

Fey Down | 16 jam lalu

Meramu Isu “Menteri Rini Melarang …

Irawan | 16 jam lalu

Luar Biasa, Kasus Lapindo Selesai di Tangan …

Hanny Setiawan | 17 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: