Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ninoy N Karundeng

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya selengkapnya

HTI Meradikalisasi Islam tanpa Arah dan Dasar Kebenaran

OPINI | 01 June 2013 | 15:19 Dibaca: 1391   Komentar: 17   10

Gerakan HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang ingin bermimpi untuk mendirikan Imperium Islam yang pernah ada dengan gambaran kejayaan di Andalusia atau Spanyol selama sekitar 200 tahun dari masa sekitar 640 tahun berkuasa. Masa itu dianggap kejayaan Islam. Namun semenjak kejatuhan Turki Usmani pada awal abad ke-20 oleh Kemal Attaturk, HTI menganggap tidak ada pemerintahan Islam. HTI sebagai cabang dari gerakan Hizbut Tahrir Internasional berhasil menarik perhatian kalangan orang miskin dan negara dunia ketiga - termasuk Indonesia, Pakistan, Afghanistan, Mesir dan sebagainya. Idiologi HTI adalah ideologi yang tak jelas ujung pangkalnya. Berikut ini kenyataan yang tak mampu dijawab oleh HTI terkait kampanye mereka soal Khilafah.

Pertama, siapa yang akan menjadi wakil dan ditunjuk menjadi Khalifah dalam Khilafah? Tak mampu dijawab dengan jelas. Siapakah yang akan dianggap mewakili dan menjadi sultan atau raja Islam? Tak ada satu pun anggota dan pemimpin HTI mampu menjawab. HTI hanya mampu mencela pemerintahan RI dan pemerintahan manapun di dunia. Adakah konsep pemilihan pemimpin dunia seperti Paus dalam Islam? HTI tak mampu menjawab.

Kedua, di mana pusat kekuasaan Khilafah nanti? Apakah akan ditentukan seperti saat perpindahan pusat pemerintahan kesultanan di Damaskus, Baghdad dan Istanbul - Islampool atau Kota Islam. Adakah satu negara mau dijadikan markas menghapus negara kebangsaan menjadi negara teokrasi Islam? HTI tak mampu menjawab.

Ketiga, paham Khilafah sendiri menimbulkan kontroversi karena tidak ada perintah sama sekali untuk membentuk daulat Islamiyah dalam bentuk pemerintahan Islam secara terpusat. Sejak zaman Rasullullah berkuasa dan ada wilayah yang tunduk pada perintah Muhammad, para penguasa wilayah tetap berkuasa. Baru setelah intervensi terlalu dalam di daerah taklukan, semenjak kematian Muhammad dan para 4 khalifah yang mendapat julukan khullafaurrasyidin itu, maka terjadi pergolakan. Sifat penguasaan pemerintahan Islam pada saat itu semu - artinya seluruh peri kehidupan tidaklah berdasarkan syariat namun adat istiadat feodalisme setempat. HTI tak mampu menunjukkan sistem pemerintahan model apa.

Keempat, HTI yang tidak memercayai pemerintahan negara Indonesia secara jelas dan lugas adalah kelompok yang merongrong negara kesatuan RI (NKRI) namun mereka aneh sekali karena makan, tinggal dan hidup di Indonesia. Agenda politik yang mengatasnamakan khilafah sesungguhnya adalah absurd. Alasan keadaan darurat di bawah pemerintahan non-khilafah adalah pembenaran sepihak untuk menutupi kedok hasrat kekuasaan politik. Jika tak suka hidup di Indonesia dengan pemerintahan Pancasila, anggota HTI boleh hengkang dari NKRI. Lagi-lagi tak bisa dijawab oleh HTI.

Kelima, HTI lupa bahwa Khilafah dan bahkan 4 Khalifah tak mampu melindungi keluarga Nabi Muhammad SAW selepas mangkatnya Rasullullah. Para janda Muhammad termasuk Ummul Islam Aisyah terlunta sampai melakukan penyamaran di Turki dan bahkan Bukhara yang jauh dari Madinah Munawaroh. Bahkan cucu Muhammad SAW Hasan dan Husein pun dibantai di Irak yang mengakhiri keturunan Muhammad habis di sana - dari anak Fatimah dan Ali. Apa yang diharapkan dari pemerintahan yang seperti itu oleh HTI. Ini pertanyaan yang juga tak mampu dijawab oleh HTI.

Apa yang dilakukan oleh HTI dengan serangkaian kampanyenya yang memerjuangkan syariah dan khilafah hanyalah upaya merongrong NKRI dan tujuannya adalah untuk kedok kekuasaan belaka. Hal ini sama dengan sejarah kekhalifahan yang sedemikian muram semenjak kekuasaan Khullafaurrasyidin plus Umar bin Abdul Aziz berakhir. Sejak saat itu Khilafah tak menampakkan ajaran Islam. Bahkan gambaran kesultanan Turki yang dijungkalkan oleh Kemal Attaturk adalah buhkti nyata kegagalan kekhalifahan. Kini jika HT dan HTI bermimpi mendirikan Imperium Islam itu sah saja namun bagai menegakkan benang basah dalam mimpi yang berkepanjangan.

Namun, di balik itu yang justru membahayakan adalah bahwa apa yang dilakukan oleh HTI cenderung menciptkan radikalisasi agama dan keyakinan yang menciptakan segregasi dalam NKRI yang berdasarkan Pancasila yang tidak diakui oleh HTI. Sungguh memrihatinkan organisasi semacam HTI dibiarkan tumbuh subur dan melakukan kampanye yang cenderung maker di Bogor dan bahkan mengadakan Muktamar Khilafah segala. Di mana sebenarnya posisi pemerintah dalam menyikapi radikalisasi agama model HTI yang sengaja membiarkan mereka? Rakyat harus waspada akan bahaya laten HTI ini.

Salam bahagia ala saya.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Anak Kabur dari Pesantren, Salah Siapa? …

Mauliah Mulkin | | 28 August 2014 | 14:00

Pulau Saonek Cikal Bakal Raja Ampat …

Dhanang Dhave | | 28 August 2014 | 10:40

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Gap Year: Setahun Nganggur …

Marlistya Citraning... | | 28 August 2014 | 11:39

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Dulu Saat Masih Dinas, Kakek Ini Keras …

Posma Siahaan | 6 jam lalu

Rieke Diah Pitaloka Tetap Tolak Kenaikan …

Solehuddin Dori | 9 jam lalu

Ahok Nggak Boleh Gitu, Gerindra Juga Jangan …

Revaputra Sugito | 10 jam lalu

Tomi & Icuk Sugiarto Nepotisme! …

Asep Rizal | 11 jam lalu

Sebab SBY dan Jokowi Tak Bicarakan BBM di …

Pebriano Bagindo | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Kabinet Ramping Jokowi: Cukup 20 Menteri …

Roes Haryanto | 7 jam lalu

Listrik dari Sampah, Mungkinkah? …

Annie Moengiel | 7 jam lalu

Sensasi Rasa Es Krim Goreng …

Topik Irawan | 8 jam lalu

Indonesia Abad ke-9 Masehi …

Ahmad Farid Mubarok | 8 jam lalu

Catatan Harian: Prioritas di Kereta Wanita …

Nyayu Fatimah Zahro... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: