Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Budi Pasopati

berbagi ilmu dan pengalaman

Surat Terbuka Kepada KPK

OPINI | 31 May 2013 | 08:01 Dibaca: 2374   Komentar: 74   23

Melalui surat ini saya nyatakan protes kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). KPK telah berbuat sewenang-wenang menjadikan Luthfi Hasan Ishaq (LHI) sebagai tersangka. Menjadikan LHI sebagai pesakitan. Menjadi bulan-bulanan media. Menjadikan LHI satu-satunya tersangka dari PKS. KPK telah berbuat tidak adil. Tebang pilih. KPK tidak profesional menjalankan tugasnya. Padahal LHI hanyalah korban. Korban dari konspirasi jahat. Seakan KPK menutup mata atas kenyataan ini. Benar, apa yang dikatakan Hidayat Nur Wahid. Ada konspirasi dibalik penangkapan LHI. Saya menduga, KPK telah ikut dalam konspirasi yang ingin mengorbankan LHI. KPK sudah jadi alat politik untuk memuluskan kepentingan politik pihak lain. Dengan sengaja menjadikan LHI sebagai tumbal. Bila pimpinan KPK tidak tahu atau tidak mau tahu akan saya jelaskan duduk masalah sebenarnya.

IMPORT DAGING SAPI

Pastinya KPK sudah mengetahui masalah ini. Saya baca di koran, KPK sudah menyelidiki masalah ini sudah lama. Tetapi kenapa hanya LHI dan AF yang ditangkap? Bukankah permainan kuota ini sudah dilakukan oleh PKS sejak tahun 2004. Sejak Menteri Anton Apriyanto menjabat. Kenapa hanya pimpinan Indoguna saja yang ditangkap. Padahal sebelumnya Indoguna mendapat kuota import dari calo namanya Sengman Tjahya. Sudah tahunan Sengman berperan sebagai calo di Mentan. Jauh sebelum Fathanah. Kenapa KPK tidak menangkap juga Sengman Tjahya ? Apakah karena Sengman Tjahya kolega dari Ridwan Hakim, jadi KPK takut menangkapnya. Selain itu, ada pengusaha besar importir namanya Basuki Hariman yang selalu mendapat jatah kuota sampai 30 ribu ton dari Anton maupun Suswono. Kenapa hanya Indoguna yang hanya mendapat kuota kurang dari 10 ribu ton. Itupun dapat dari Sengman Tjahya. Apakah karena Basuki Hariman di back up oleh Suripto. Dan Suripto mempunyai saham di perusahaan PT. Impexindo Pratama milik Basuki Hariman. Padahal dahulu Basuki Hariman dikenal sebagai pengusaha hitam. Pernah tersandung kasus daging asal India dikemas ulang, lantas di jual di dalam negeri sebagai daging Australia. Karena Suripto turun tangan, perusahaan Basuki bisa bebas dari hukuman. Bahkan mendapat jatah kuota import lagi dari Mentan.

KPK sudah tebang pilih. Ikut dalam permainan konspirasi ini. Saya baru nyatakan hormat kepada KPK, jika menangkap semua yang terlibat. Jangan hanya satu pihak saja. Bukan hanya Ahmad Fathanah, makelar kemaren sore saja yang ditangkap. Tangkap juga makelar karatan di Mentan Sengmen Tjahya. Tangkap juga Ridwan Hakim yang sudah lama bermain di Mentan sebelum AF. Jangan hanya Elizabeth dan Indoguna yang ditangkap. Tangkap juga perusahaan lama yang mendapat kuota gila-gilan sampai pernah 50 ribu ton untuk perusahaan dia sendiri, siapa lagi kalau bukan Basuki Hariman dengan pimpinan PT. Impexindo Pratama. Jangan hanya LHI yang ditangkap, KPK harus menangkap juga Hilmi dan Suripto. Mereka berdua inilah aktor intelektual di balik kasus ini. Kenapa? KPK takut ? Ya, jelas takut. Karena sudah ikut dalam konspirasi Hilmi dan Suripto. Atau ikut dengan blok Anis Matta yang di back up Cendana.

Jika KPK tidak sadar ikut dalam konspirasi ini, saya akan berikan tanda-tandanya:

RIDWAN HAKIM

Sewaktu KPK akan memanggil Ridwan sebagai saksi. Sehari sebelumnya Ridwan sudah kabur ke Turki. Sepertinya ada orang KPK yang membocorkan info pemanggilan ini ke pihak Hilmi Hasanudin. Secepat kilat Ridwan langsung kabur. Setelah KPK akan meminta bantuan interpol, baru Ridwan ketakutan dan kembali pulang. Siapa yang membela Ridwan Hakim saat itu? hanya Refrizal dan Tifatul Sembiring. Anis Matta diam, Fachri Hamzah bungkam. Kelihatan sekali blok kepentingannya. Coba lihat kalau LHI diserang, Tifatul pernyataannya netral dan Refrizal bungkam. Apalagi Ridwan diklaim bukan orang PKS. Mengapa sampai anggota DPR (Refrizal) dan Menteri Tifatul ikut membela. Ada yang aneh. Coba KPK perhatikan. Surat pencegahan yang dikirimkan ke KPK ke pihak Imigrasi bukan hanya ada nama Ridwan Hakim. Ada juga nama Ahmad Zaki. Sedangkan Ahmad Zaki jelas2 kader PKS, kenapa tidak dibela. Justru membela Ridwan yang bukan kader PKS. Hanya sekedar anak kandung Hilmi Aminudin.

Anehnya, KPK hanya menjadikan Ridwan Hakim sebagai saksi. Padahal Ridwan adalah makelar lama di Mentan sebelum AF. Justru dari Ridwan, AF bisa mendapat akses bertemu dengan Suswono dan Hilmi Hasanudin, Bapaknya.

Bila mengikuti rekam jejak Ridwan, makelar seperti Sengmen Tjahya bisa mendapat akses ke petinggi PKS juga lantaran dibawa oleh Ridwan. Bahkan Ridwan bisa memaksa Prabowo Respatiyo (mantan Dirjen Peternakan di Mentan) untuk memberi jatah kuota ke Sengmen. Begitu juga dengan Elda Devianne. Lewat Ridwan, Elda bisa bertemu dengan LHI. Memangnya seberapa kuat posisi AF, blusukan ke Mentan. Meski dia sudah kenal lama dengan LHI. Kalau bukan direkomendasi oleh Ridwan. Dan memang hanya Ridwan yang diperintah bapaknya, Hilmi Hasanudin untuk mengatur ini semua.

Posisi Ridwan sebagai pengatur permainan, menganti posisi Suripto sebelumnya. Pada zaman Menteri Anton Apriyantono, Suripto yang punya peran penting. Makanya Basuki Hariman bisa dapat kuota besar-besaran. Tidak ada yang bisa menyingkirkan. Dalam berhubungan Basuki selalu didampingi dengan Ahmad Riyaldi, yang biasa disapa Irel. Juga kader PKS. Setelah Suripto mundur, Ridwan Hakim menganti posisinya. AF tidak lebih seperti Irel, pion, orang suruhan. Ridwan Hakim lah yang mengaturnya.

SURIPTO

Dia anggota Majelis Syuro PKS. Tetapi jangan salah, Suripto lah aktor intelektual di balik gerakan PKS selama ini. Sebagai manta anggota BAKIN tiga zaman, Suripto tidak terlepas dari operasi intelejen yang dia jalankan. Dalam import daging sapi, Suripto pernah terlibat penuh saat Menteri Anton. Jekak ini yang diikuti oleh Ridwan Hakim selanjutnya.

Suripto tahu benar, siapa itu AF. Sebagai agen intelejen, dia punya data dari jaringannya. Termasuk kelakukan AF yang pernah terkena kasus di Australia dan banyak terlibat dengan urusan wanita. Tetapi, mengapa Suripto mengatakan kepada LHI, kalau AF itu “clear”. Orang yang punya reputasi buruk tapi masih disodorkan kepada LHI. Dan memerintahkan Ridwan Hakim untuk mundur sementara waktu. Padahal AF bukan makelar berpengalaman justru mantan napi yang bobrok mentalnya. Mengapa bukan dengan Ridwan saja, yang lebih pengalaman dan bersih mainnya. Seperti ada kesengajaan Suripto untuk menjebak LHI. Jabakan ini ada dua alasan, satu: LHI dianggap selama ini mau main sendiri, memperkaya diri sendiri dan sering tidak menyetor ke Hilmi Hasanudin. Kedua, ada desakan dari kubu Anis Matta untuk secepatnya menyingkirkan LHI.

Siapa yang berani menentang Suripto di PKS. Semua petinggi PKS saat ini, tidak lain anak didik dari Suripto. Termasuk Hilmi Hasanudin. Suripto yang mendirikan dan membesarkan PKS. Dia sudah bekerja dengan operasi intelejennya sejak tahun 80an. Suripto yang membina Hilmi Hasanudin. Dari Hilmi Hasanudin lahirnya kader seperti Tifatul Sembiring, Hidayat Nur Wahid dan Luthfi Hasan Iskaq. Pada tahun 1998, Suripto terjun langsung menjadi mentor politik bagi organ mahasiswa KAHMI. Beberapa alumni KAMMI yang kemudian masuk PK, seperti Fahri Hamzah dan Rama Pratama.

Suripto meneruskan operasi intelejen yang dilakukan oleh Ali Murtopo. Dahulu Ali Murtopo yang membina Danu Mohammad Hasan (Ayah dari Hilmi Hasanudin). Danu adalah petinggi DII/ TII yang berhasil dibina oleh Ali Murtopo. Kepentingan Ali Murtopo, membina Danu untuk mengimbangi gerakan komunis, dan hanya bisa dilawan dengan gerakan Islam (NII). Operator intelejen saat itu, Pitut Suharto Dir Opsus BAKIN. Pitut yang membuat program pengiriman kader2 NII ke Mesir, Syria, Arab Saudo dan Lybia. Termasuk Hilmi Aminudin yang ikut dalam skenario BAKIN ini. Dibawah komando Yoga Sugama sebagai pimpinan BAKIN, Suripto mendapat tugas membina Himi Hasanudin bin Danu Mohammad mantan Menlu NII komando Adah Djaelani. Dari Suripto, Hilmi mendapat tugas untuk mempelajari gerakan ikhwanul Muslimin faksi Qiyadah Syaikh Sa’id Hawwa di Timur Tengah sekitar tahun 1985. Untuk mengembangkan gerakannya, Hilmi mengelola pesantren dan Islamic village di kawasan Cinangka, Pantai Karang Bolong, Banten atas kucuran dana diantaranya sebagaian dari Bimantara, dari Timur Tengahserta dari Soeripto sebagai akses dana Orde Baru Cendana. Hingga akhirnya terbentuk PKS. Sejak saat itu kehidupan Hilmi meningkat drastis. Villa di Cinangka itu tidak lain milik orang NII yang diserahkan kepada Danu Muhammad sebagai wakaf. Dari Danu, wakaf itu disimpan oleh BAKIN. Dan kemudian diserahkan kembali kepada Hilmi. Dari bantuan akses dana dari Cendana, Hilmi bisa memiliki peternakan sapi di Desa Cibodas, Lembang, dan kabarnya pabrik susu miliknya lebih canggih ketimbang pabrik Indomilk di Pasar Rebo.

Untuk mengelebui kedoknya, Suripto tetap dalam kehidupan sederhana. Sedangkan dia rajin sekali mencari uang untuk PKS dan memberi akses dana ke petinggi PKS. Agar petinggi PKS tetap dalam posisi hormat dan tergantung dengan Suripto. Dia jarang tampil di media. Bahkan tidak mencalonkan diri sebagai anggota DPR maupun sebagai Menteri.

ANIS MATTA

Setelah Suharto jatuh, pendanaan PKS melalui Suripto mulai hilang. Akan tetapi dengan jaringan di Timur tengah, PKS masih bisa mendapatakan sumber pendapatan. Kali ini yang ditugaskan oleh Suripto adalah Luthfi Hasan Ishaq (LHI) yang saat itu masih menjabat sebagai bendahara PK. LHI mengumpulkan pendanaan dari sumber di Timor Tengah. Terutama menjelang Pemilu 1999. Tetapi sejak peristiwa pemboman WTC tahun 2001 di Amerika, sumber dari Timor Tengah ini macet. Mau tidak mau PKS harus kembali mencari sumber pendanaan dari dalam.

Salah satu sumbernya dari “mahar” Pilpres. Pada Pilpres 2004, Wiranto memberi mahar Rp 32 miliar ke PKS. Padahal sebelumnya PKS mendukung Amin Rais. Mahar itu hasil lobby Anis Matta dan Adhyaksa Dault. Anis Matta dianggap telah berhasil mengembalikan kepercayaan cendana melalui Wiranto ke PKS. Begitupun pada Pilpres 2009, dengan kepandaian Anis Matta, PKS dapat menerima mahar dari Jusuf Kalla. Meskipun pada akhirnya PKS berbelok arah, dan mendukung SBY pada putaran kedua. Kelincahan Anis Matta yang sangat pragmatis ditunjukan saat Pilkada DKI. PKS mendapat mahar dari Adang Daradjatun sebesar Rp 40 miliar. Tapi 10 Miliar digelapkan oleh Anis Matta.

Dalam posisi PKS yang mulai terjadi defisit keuangan partai, Anis Matta dianggap penyelamat. Dia adalah orang kepercayaan Hilmi untuk mencari dana partai lewat jalur politik. Baik melalui Pilpres dan Pilkada. Kepercayaan Hilmi begitu kuat kepada Anis, nampak posisi Anis Matta sebagai Sekjen partai tidak tergantikan siapapun yang menjadi Presiden PKS. Dia menjadi Sekjen abadi. Padahal Anis Matta direkrut bukan dari jalur IM/ Tarbiyah. Dia titipan Wiranto di PKS. Dan mendapat persetujuan dari Suripto.

Tak heran jika Anis Matta dapat memasukan anak Wiranto ke dalam PKS, meski tidak melalui jenjang kader resmi. Bersama dengan Suripto, Anis Matta kembali menunjukan simpatinya dengan Cendana. Dengan memasukan iklan Sujarto dan menjadikan Suharto sebagai pahlawan.

Satu sisi, LHI telah gagal mencari dana partai lewat jaringan Timur Tengah. Jikapun LHI dilibatkan dalam pencarian dana lewat proyek kementrian. Tetapi sering tidak dilaporkan dan diserahkan kepada Hilmi. Itulah mengapa Hilmi lewat Ridwan, sering marah kepada LHI. Sementara Anis Matta, dianggap Suripto dapat mencari uang dan membuka jalur kembali ke Cendana. Maka dibuatlah, konspirasi agar Anis Matta dapat mengambil posisi sebagai Presiden PKS.

Dan rupanya KPK terjebak (atau ikut bermain) dalam konspirasi yang sudah diatur oleh Suripto. Dengan hanya menangkap LHI, AF dan perusahaan Indoguna. Hanya Suripto yang mampu membuat skenario intelejen seperti ini.

Tags: sengman

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sasi, Konservasi Tradisional di Raja Ampat …

Dhanang Dhave | | 22 August 2014 | 15:21

Identitas Bangsa Modal dalam Kompetisi …

Julius Deliawan | | 22 August 2014 | 09:42

ALS #icebucketchallenge …

Nyayu Fatimah Zahro... | | 22 August 2014 | 17:49

[SRINTHIL] Perempuan di Kaki Masa Lalu …

Rahab Ganendra | | 22 August 2014 | 14:33

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Pesta Perkawinan Mewah, Apa Ngaruh dalam …

Ifani | 2 jam lalu

SBY ‘Ngrecoki’ Jokowi …

Suko Waspodo | 4 jam lalu

“Ahok” Sumbangan Prabowo Paling …

Pakfigo Saja | 9 jam lalu

Saat Mahkamah Konstitusi Minus Apresiasi …

Zulfikar Akbar | 13 jam lalu

Kuasa Hukum Salah Berlogika, MK Tolak …

Sono Rumekso | 13 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: