Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Agus Supriyatna

Hanya Orang Sangat Biasa Saja

Perjuangan Ingatan Melawan Lupa

REP | 28 May 2013 | 00:32 Dibaca: 285   Komentar: 2   1

Setiap, Mei tiba, ingatan selalu dibetot ke belakang, mengingat sebuah tragedi kelam yang terjadi di bulan itu, pada tahun 1998. Kala itu, Jakarta dilanda amuk massa. Amuk membakar Jakarta, setelah terjadi penembakan terhadap empat mahasiswa Universitas Trisakti. Saat itu, Mei 1998,  gelombang demontrasi terjadi dimana-mana. Mahasiswa yang menjadi motor unjuk rasa, turun ke jalan, menuntut sejumlah agenda. Salah satunya, yang didesakan adalah meminta Soeharto yang saat itu berkuasa untuk lengser dari kursi presiden. Soeharto, jenderal besar, yang sudah berkuasa 32 tahun, awalnya bergeming, tak mau turun. Desakan pun kian mengeras.

Tak direspon, mahasiswa pun berani turun ke jalan, setelah sebelumnya aksi lebih banyak dilakukan di dalam kampung. Kampus-kampus besar, seperti Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, IPB, ITB dan kampus lainnya, bergolak. Bentrokan dengan aparat pun tak terhindarkan,  terjadi dimana-mana, meski dengan eskalasi yang masih kecil. Tapi, mahasiswa tak surut langkah, meski digebuk dengan pentungan. Mereka  terus lantang menyuarakan desakan. Pun di  Ibukota,  unjuk rasa marak terjadi di kampus-kampus. Dan, pada 12 Mei, sebuah peristiwa terjadi, yang kemudian akan dicatat sebagai titik balik sejarah.

Kala itu pagi menjelang siang, 12 Mei 1998,  ribuan mahasiswa Universitas Trisakti, bergerak keluar kampus. Tujuan mereka adalah gedung DPR dan MPR di Senayan. Dari  Grogol, tempat Universitas Trisakti berdiri, mahasiswa bergerak. Tapi langkah ribuan mahasiswa terhadang aparat yang sudah bersiap.  Suasana memanas dengan hadirnya massa.  Terjadi upaya provokasi, sebuah truk sampah di bakar. Sampai siang, suasana masih bisa dikendalikan.

Karena kerumunan massa terus mengalir, aparat yang berjaga mulai mengambil tindakan. Tembakan gas air mata pun di lepaskan. Rentetan tembakan peringatan pun dilakukan. Satu pom bensin dibakar massa, kala siang sudah merambat. Aparat pun tak mau ambil resiko, mengeluarkan tembakan  ke arah massa. Mahasiswa menarik diri ke dalam kampus, sebagian tetap bertahan belum berniat meninggalkan gelanggang demo di jalan. Tapi aksi lempar bom molotov oleh massa terus berlangsung, berbalas tembakan dari aparat. Suasana memanas, sampai menjelang sore. Dan, menjelang magrib, peristiwa yang membalik sejarah pun terjadi. Dari jalan layang, serentetan tembakan mengarah ke para mahasiswa.

Dalam remang petang kala itu, terdengar serentetan tembakan. Suasana kian tak karuan. Lalu, cerita mencatatkan, peluru menembus tubuh empat mahasiswa Trisakti,  Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Mereka pun berkalang tanah, dijemput ajal ditembus peluru, menjadi ‘martir’ gerakan rekannya yang menuntut perubahan.

Benar saja, sehari setelah itu, 13 Mei 1998, pasca empat mahasiswa gugur, amuk massa tak terbendung. Massa turun ke jalan dengan wajah yang beringas. Penjarahan terjadi, toko dibongkar paksa. Jakarta membara. Mall di Kelender dijarah massa. Peristiwa tragis pun terjadi,  api berkobar membakar pusat perbelanjaan tersebut. Ratusan orang,  diantaranya ibu-ibu dan anak,  tewas terpanggang amuk api.   Aparat, tak berdaya mencegah amuk. Jakarta pun membara.

Sekarang 15 tahun sudah cerita kelam itu berlalu. Mungkin, ada yang lupa, tapi juga masih banyak yang  tetap berjuang merawat ingatan.

“ Peringatan tragedi Mei 1998, adalah perjuangan ingatan melawan lupa,”kata August Mellaz, yang ketika itu ikut menjadi bagian dari gelombang demonstrasi mahasiswa.

Soeharto pun akhirnya  lengser, meninggalkan Istana pada 21 Mei 1998. Lengsernya sang jenderal, membuka sejumlah noda hitam negeri ini. Penculikan para aktivis pro demokrasi  pun terkuak. Membuka fakta yang selama ini jadi obrolan warung kopi, bahwa rezim Orde Baru benar-benar dibangun lewat kekuasaan yang tak ramah pada kritik. Lewat bedil, dan cara-cara yang melanggar HAM,  rezim Orde Baru ditegakan. Namun, lagi-lagi kata Direktur Advokasi YLBHI, Bahrain, jejak kelam masa lalu tak pernah tuntas diselesaikan. Sebagian tuntutan memang sudah mulai diwujudkan. Dwi fungsi tentara tak ada lagi. Tentara dan polisi pun dipisah. Tapi tuntutan negeri ini, bebas korupsi, kolusi dan nepotisme,  jauh dari harapan. Justru korupsi kian menggila, dan kian canggih.  “Masalah masa lalu, tak juga diselesaikan. Reformasi, masih jauh panggang dari api,” katanya.

Komisi Nasional Perempuan juga berpendapat serupa. Banyak misteri yang masih belum terkuak dibalik kisah kelam bulan Mei 1998. Peristiwa pemerkosaan massal, tetap jadi polemik. Sederet fakta yang mencuat, tak pernah ada tindak lanjut. Siapa bertanggung jawab, sampai kini, setelah 15 tahun berlalu, tak pernah ketahuan. Para korban pun, tetap tak pernah dapat keadilan. Menanggung trauma sepanjang hayat. Komisioner Komnas Perempuan, Andi Yentriyani,   meminta pemerintah  agar tak menyangkal tragedi itu. Sebab, ia menangkap ada upaya penyangkalan,  bahkan meragukan bahwa kekerasan seksual massal pada Mei 1998 itu hanya isapan jempol. Alasan pemerintah klise,  karena para korban tidak pernah muncul ke publik.

Menurut Andi, desakan para korban kekerasan seksual tampil ke publik, adalah sikap berlebihan, sebab sama saja itu membangkitkan trauma perih mereka. “ Mereka mengalami trauma berkepanjangan,” kata Andi, dalam sebuah jumpa pers memperingati Tragedi Mei 1998.

Andi  pun bercerita, Komnas Perempuan  sering berdiskusi tentang tragedi dengan pihak pemerintah. Lagi-lagi,  mereka selalu menuntut bukti dan siapa korbannya. Padahal, Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Mei 1998, sudah mengeluarkan hasil penelitiannya. Ada 85 perempuan korban kekerasan seksual pada peristiwa Mei 1998. “ Dengan rincian 52 korban perkosaan, 14 korban perkosaan dengan penganiayaan, 10 korban penyerangan atau penganiayaan seksual dan sembilan orang korban pelecehan seksual,” ungkapnya.

Komisioner Komnas Perempuan lainnya, Sylvana Maria Apituley, menegaskan, sikap meragukan pemerintah, sama saja menunjukan tak ada kemauan untuk selesaikan kasus itu.  Padahal Indonesia, sebentar lagi bakal berganti penguasa. Susilo Bambang Yudhoyono, bakal mengakhiri jabatannya sebagai Presiden dua periode pada 2014 nanti. Tapi, sepertinya, menurut  Sylvana,  tragedi Mei 1998, bakal tetap jadi utang sejarah yang tak kunjung mampu dilunasi.

Nasib banyak aktivis yang tak jelas nasibnya bakal tetap jadi misteri. Apakah, masih hidup atau sudah menjadi jasad, tak pernah jelas.  Atau siapa aktor, dibalik pemerkosaan massal pun sama gelapnya. Tak ada jalan lain, seperti yang dikatakan August Mellaz,  memperingati tragedi Mei adalah perjuangan ingatan melawan lupa.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Pengalaman Jadi Pengamen Pada 1968 – 2013 …

Mas Ukik | | 23 April 2014 | 21:14

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 15 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 17 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 17 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 18 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 19 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: