Back to Kompasiana
Artikel

Politik

La Ode Muhamad Fiil Mudawad

Seorang Penulis Bebas Kunjungi Situs Pribadi saya: Blog: http://phylo2.blogspot.com/ Facebook: http://www.facebook.com/feel.anjellow selengkapnya

Elektabilitas PKS: Berdasarkan Hasil Survei atau Hasil Penerimaan Survei?

HL | 28 May 2013 | 02:34 Dibaca: 3570   Komentar: 53   9


1369683468456903215

Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang digelar pada 1-8 Maret lalu menempatkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada posisi 9 dengan tingkat elektabilitas sebesar 3,7 persen. Hasil itu disimpulkan sebelum mencuat kasus penangkapan Luthfi Hassan Ishaq. Demikian pula isu-isu negatif yang menghubung-hubungkan PKS dengan Ahmad Fathanah. Lebih dari itu, beberapa pengamat memprediksi mengenai kehancuran Partai Keadilan Sejahtera (PKS) turut menjadi sajian pelengkap mewarnai prahara politik partai berlambang bulan sabit itu. Namun Hasil survei LSI dan prediksi beberapa pengamat tersebut agaknya harus ditata ulang. Sebab, dalam tiga bulan terakhir, dua lembaga survei lainnya justru menempatkan PKS pada posisi tiga besar.

Pada medio Maret 2013, Rakyat Research and Consulting (RRC) menempatkan PKS di posisi tiga besar dengan tingkat elektabilitas sebesar 13,2 persen. Dalam survei yang melibatkan 1400 responden dari 33 provinsi tersebut, PKS bahkan sanggup mengalahkan tingkat elektabilitas yang dimiliki oleh Partai Demokrat (PD) yang hanya memperoleh angka 11 persen.

Kemudian, pada Jumat, 17 Mei 2013, giliran survei yang dilakukan oleh Media Survei Nasional (Median) yang menempatkan PKS pada posisi tiga besar. Dalam survei yang dilakukan dalam rentang waktu 28 April-6 Mei 2013 itu, PKS berhasil meraup tingkat elektabilitas sebesar 7,2 persen. Sementara posisi pertama dan kedua masih ditempati oleh partai Golkar dan PDI-P secara berurutan.

Hasil survei yang dilakukan oleh Median ini tentu mengejutkan banyak pihak. Sebab, dua hari sebelumnya, tepatnya Rabu, 15 Mei 2013, Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) justru memprediksi PKS akan menjadi partai gurem (kurang diperhitungkan, red) karena banyak ditinggalkan oleh para konstituennya. Sesuatu yang berbanding terbalik dengan survei yang dilakukan oleh Media, yang justru menempatkan PKS sebagai partai menengah.

Namun yang menarik untuk dicermati ialah rentang waktu survei yang dilakukan oleh Median, yakni 26 Maret-6 Mei 2013. Dalam rentang waktu itu, Presiden PKS, Luthfi Hassan Ishaq, jelas telah ditahan oleh KPK, namun kasus tarik-ulur penyitaan mobil, perseteruan PKS dan KPK, serta pengakuan Ahmad Fathonah mengenai sumbangan ke partai tersebut belum mencuat ke permukaan.

Pun tak kalah menariknya, meskipun diguncang habis-habisan oleh skandal Ahmad Fathonah, yang nota bene sering dikait-kaitkan dengan PKS oleh publik, sebanyak 12 persen responden justru mengaku memilih PKS sebagai pilihan politiknya disebabkan ke-religius-an partai berlambang bulan sabit ini

Ini pertanda bahwa publik (jika dianggap responden survei mewakili publik) tidak terpengaruh oleh kasus penangkapan Luthfi Hassan Ishaq. Demikian pula isu-isu negatif yang menghubung-hubungkan PKS dengan Ahmad Fathanah-pun juga belum mempengaruhi persepsi negatif publik terhadap partai tersebut. Entah jika survei dilakukan saat ini, di mana telah mencuat hal-hal yang disebutkan di atas, apakah tingkat elektabilitas PKS masih di titik kisaran 7 persen?

Disisi lain, perlakuan berbeda diterima oleh Demokrat. Padahal kedua Parpol tersebut sama-sama menghadapi “tsunami” politik. Demokrat justru mengalami kemerosotan dengan raihan elektabilitas sebesar 7,1 persen, turun sekitar 20 persen dari suara yang diperoleh Demokrat pada Pemilu 2009.

Konflik internal dan ketidaksolidan Demokrat bisa ditunjuk sebagai penyebab ketidaksamaan nasib antara partai penguasa itu dengan PKS. Meski sama-sama dilanda prahara politik, PKS nyatanya lebih solid dan jauh dari konflik internal pasca penangkapan Luthfi Hassan Ishaq.

Penerimaan Hasil Survei menjadi Penentu

Seorang Pemikir sosial, Rogers (1987) mengatakan penerimaan social adalah penerimaan masyarakat terhadap diri seseorang berperan dalam mewujudkan penghargaan atau kenyamanan dalam diri seseorang. Dalam perspektif sosio-politik, elektabilitas kader atau parpol adalah hasil dari penerimaan massa akan kader atau parpol tersebut. Juga demikian elektabilitas kader/parpol PKS bukanlah didasarkan atas lembaga survei (baik LSI, RRC, Median atau yang lainnya). Sederhananya hasil lembaga survey hanyalah sebagai data dan masyarakat yang menilai apakah data itu begini atau begitu.

Terlepas dari survei tersebut pesanan atau tidak, namun survei dari Median dan RRC ini cukup memberi angin segar kepada kubu PKS. Sebab ini sesuai dengan target nasional Partai tersebut, yaitu masuk 3 besar pemilu nasional sekaligus membuktikan kepada para pengamat bahwa PKS belum tamat. Akan tetapi perlu dicatat juga bahwa pemilu masih lama, apapun bisa terjadi, survey hari ini tidaklah bisa dijadikan sebagai kesimpulan tentang gambaran pemilu 2014  kelak. Survey-survey saat ini lebih berguna sebagai data evaluasi oleh parpol-parpol menuju 2014. Sebab dalam demokrasi kita, penentuan jawara tidaklah ditentukan oleh lembaga survey, melainkan lebih kepada tingkat penerimaan rakyat Indonesia. Sekiranya memang tidak demikian, lantas mengapa Jokowi bisa menjadi pemenang (jawara) dalam Pilkada Jakarta, padahal hasil lembaga survey menempatkannya pada posisi rendah?


Tulisan ini sebagai tanggapan atas hasil survey Median dan RRC terhadap partai PKS baru-baru ini…

(***)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | | 25 October 2014 | 14:51

Kompasiana Nangkring Special di Balikpapan …

Bambang Herlandi | | 25 October 2014 | 13:44

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 3 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 5 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 6 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 7 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 7 jam lalu


HIGHLIGHT

Kenapa Lebih PD Dengan Bahasa Asing Dari …

Seneng | 8 jam lalu

Car Free Day Bukan Solusi …

Nitami Adistya Putr... | 9 jam lalu

ATM Susu …

Gaganawati | 9 jam lalu

Perjamuan Akhir di Bali …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: