Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Fenomena Artis Menjadi Caleg: Partai Politik Jangan Bodohi Rakyat!

REP | 26 May 2013 | 18:03 Dibaca: 1894   Komentar: 27   11

Oleh Herawati Suryanegara

Partai politik dewasa ini semakin banyak yang merekrut para artis untuk didudukan  sebagai calon anggota Dewan. Rekruitmen para artis yang tiba-tiba diajak  menjadi  anggota partai politik memang syah-syah saja. Semua berpulang pada kebijakan  para pengurus dan Pembina partai untuk menentukan kebolehan siapapun menjadi anggota partai politik dan siapa yang akan mewakili parpolnya sebagai caleg.

Namun, ada satu hal yang tidak boleh dikesampingkan begitu saja adalah keinginan dan harapan mesyarakat   adanya sikap yang lebih bertanggung jawab dari partai politik dalam menempatkan anggota-anggotanya untuk menempati kedudukan sebagai anggota dewan. Partai politik sebaiknya ikut memberikan pendidikan politik kepada masyarakat dengan menyodorkan figure-figur yang dapat dipercaya , yang dapat memberikan perubahan dan sumbangsih yang lebih baik bagi kehidupan bermasyarakat dan  bernegara. Partai politik tidak boleh asal menempatkan orang-orangnya dalam posisi sepenting anggota dewan.

Seperti yang kita ketahui, banyak pemilih kita khususnya dipedesaan yang berlatar pendidikan rendah, mereka “ memilih” karena  “suka “dan bukan karena pertimbangan latar belakang. Seseorang bisa saja memilih seorang artis hanya karena suka dengan lagunya, goyangannya atau keseksiannya. Pemilih awam seperti itu ternyata sangat banyak. Mereka memilih tidak dengan pemikiran jangka panjang. Hal ini  karena latar pendidikan mereka  memang rendah dan konyolnya, partai politik menggunakan kelemahan mereka tersebut. Seharusnya partai politik ikut bertanggung jawab  memberikan pendidikan politik kepada simpatisannya, bukan memanfaatkan kebodohan para simpatisannya!

Rasanya  belum saya dengar para artis yang direkrut secara tiba- tiba tersebut mendapat tindak lanjut dan disiapkan secara matang sebagai caleg dengan pembekalan secara serius ,baik secara keilmuannya dalam hal berpolitik maupun etka-etika berpolitik serta hal-hal yang penting untuk menunjang kemampuannya bila menjadai Anggota Dewan yang terhormat.

Begitu antusiasnya parpol kita untuk menjadikan sosok artis menjadi caleg. Artis yang terjun kedunia politik diantaranya Angel Lelga,ini salah satu artis yang tidak hanya membuat Akbar tanjung kaget,penulis yang awanpun kaget. Angel menjadi caleg DPR RI dari PPP. Apa PPP sudah tidak mempunyai stok lain?

Lalu bagaimana bisa artis sekelas Andre Hehanusa, dari hasil verifikasi KPU terdaftar sebagai bakal caleg dari dua partai yaitu partai Hanura dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia…?

Artis lainnya yang mulai tergabung dengan paratai politik diantaranya, Axel ,anak dari Ayu Azhari akan mewakili PAN, Ridho Irama akan mewakili PKB, Edo Kondoligit mewakili PDIP,I rwansaya dan Jamal Mirdad akan mewakili Gerindra,Vena Melinda masih mewakili PD, Jeremy Thomas, Anang Hermansyah dan banyak lagi jajaran artis lainnya mulai nampak direktrut parpol.

Menjadi pertanyaan adalah Apakah selama parpol-parpol tersebut berdiri tidak berhasil mendidik bibit unggul sehingga harus diwakili oleh calon karbitan?

Persoalannya adalah bila kita melihat  fakta ,begitu tak mudahnya menjalankan fungsi sebagai anggota Dewan Legislatif/ Dewan Perwakilan Rakyat yang memiliki tiga fungsi utama yaitu fungsi legislasi, fungsi budgeting dan controlling? Apakah mereka memahami dan mengerti benar bagaimana fungsi-fungsi tersebut harus mereka jalankan dengan benar?

Pada dasarnya banyak  anggota dewan yang berpendidikan tinggi dan mereka masih juga melakukan beberapa kesalahn dalam melaksanakan tugas dan fungsinya,apalagi bila yang menjabat tersebut tidak memiliki skill,mental dan moral yang baik?

Jabatan menjadi anggota dewan bukan jabatan main-main. Satu orang anggota dewan mengemban ratusan ribu amanat rakyat. DPR bukan tempat magang tetapi tempat yang harus ditempati oleh orang-orang yang mumpuni baik secara keilmuan,etika, akhlak dan moral yang baik.

Ayolah.. partai politik jangan bermain-main dengan kepercayaan rakyat. Mereka yang nanti terpilih menjadi anggota Dewan tentunya akan digaji dan mendapat fasilitas dengan uang yang berasal dari rakyat .Maka partai politik “harus” mendengar dan memenuhi keinginan serta harapan rakyat

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Bukti Nyata Power Sosial Media; Jonan, Ahok, …

Prayitno Ramelan | | 23 November 2014 | 10:59

Curhat Kang Emil pada Ko Ahok di …

Posma Siahaan | | 23 November 2014 | 16:12

Menikmati Kompasianival 2014 Lewat Live …

Gaganawati | | 23 November 2014 | 06:26

Saliman, Buruh Biasa yang Cepat Tangkap …

Topik Irawan | | 23 November 2014 | 16:44

Maksimalkan Potensi Diri dan Gerak Lebih …

Kompasiana | | 21 November 2014 | 12:11


TRENDING ARTICLES

Menampar SBY dengan Kebijakan Jokowi …

Sowi Muhammad | 7 jam lalu

Dengan Interpelasi, Jokowi Tidak Bisa …

Ibnu Purna | 7 jam lalu

Rangkuman Liputan Acara Kompasianival Akbar …

Tjiptadinata Effend... | 7 jam lalu

Kenaikan Harga BBM, Pandangan di Kalangan …

Indartomatnur | 8 jam lalu

Pak Jokowi Rasa Surya Paloh …

Bedjo Slamet | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Sebaik-baiknya Tahun adalah Seluruhnya …

Ryan Andin | 7 jam lalu

Tak Sering Disorot Kamera Media, Kerja Nyata …

Topik Irawan | 7 jam lalu

Siasat Perangi KKN Otonomi Daerah …

Vincent Fabian Thom... | 8 jam lalu

Pancasila : Akhir Pencarian Jati Diri Kaum …

Vincent Fabian Thom... | 8 jam lalu

Hebohnya yang Photo Bareng Pak Ahok di …

Fey Down | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: