Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Rolas Jakson

Advokat dan pemerhati politik. Untuk konsultasi hukum gratis dapat menanyakan langsung melalui messages saya.

Kasus LHI, Benarkah Bernuansa Politik?

OPINI | 24 May 2013 | 11:28 Dibaca: 754   Komentar: 2   1

1369369669174103212

Machiavelli (sumber:godssonism.wordpress.com )

Setiap hari pemberitaan menganai Luthfi Hasan Isaaq (LHI) tidak ada habisnya. Warna pemberitaan mengenai hal tersebut tidak hanya dimedia cetak maupun di elektronik, namun diwarung-warung, tukang ojek, diinstansi pemerintahan dan lain sebagainya, LHI menjadi bahan pembicaraan.

Terkait kasus LHI, Ada yang menghujat secara Personal ada juga yang berpandangan bahwa kasus tersebut bernuansa politis. Ada juga yang berpikir bahwa kasus tersebut konspirasi. Benar atau tidaknya hanya bisa dijawab oleh putusan Pengadilan karena LHI sudah ditetapkan sebagai tersangka dan kasusnya sebentar lagi akan naik ke pengadilan.

Dugaan tindak pidananya pun beragam. Para ahli mengatakan kasus LHI adalah dugaan suap terkait impor sapi, kemudian ada pula yang melihat bahwa kasus tersebut memiliki unsur tindak pidana pencucian uang (TPPU).  Dilain pihak ada juga yang mengatakan bahwa kasus ini tidak ada korupsi atau TPPU nya karena LHI tidak menerima uang secara rill/nyata.

Bagaimana dengan nuansa politik terhadap kasus ini ? Sinyalemen yang mengarah kepada hal tersebut pasti ada. Pertama, Pemilu 2014 sudah menghitung hari dan LHI adalah Presiden PKS yang kemudian diberhentikan dari DPR karena kasus tersebut. Agitasi dari lawan politik PKS tentu ada karena keberadaan PKS mengancam Parpol tertentu. Hal ini wajar karena melihat matriks pertubuhan suara PKS dari tahun sebelumnya yang cenderung bergerak naik. Lain hal dengan Parpol lain yang cenderung inferior. Oleh karena itu, Parpol tertentu mencoba mencari jalan bagaimana untuk membendung peningkatan suara PKS. Salah satu jalannya adalah mengenai kasus LHI ini.

Kedua, adanya filosofi Machiavelli bahwa “hukum dan moral tunduk pada tuntutan/kemauan politik” . Sering dalam praktik, bila ada seseorang ditetapkan sebagai tersangka/terdakwa dan kebetulan orang tersebut adalah politisi, maka pledoi/pembelaan yang ia buat pasti menyatakan bahwa perkara yang dihadapi merupakan perkara politik dari lawan politiknya. Artinya ia merasa di kriminalisasi karena menyangkut politik.

Benar atau tidaknya kasus LHI bernuansa politik, namun yang pasti publik tidak meragukan integritas KPK terhadap pemberantasan korupsi. Mungkin ditetapkannya LHI sebagai tersangka karena momen atau waktu yang tidak tepat sehubungan Pemilu 2014 yang sudah semakin dekat.

Jawaban benar atau tidaknya hal diatas hanya bisa dijawab dari putusan Pengadilan. Jika LHI terbukti bersalah, tentu yang akan dihadapinya adalah penghukuman. Bila terbukti sebaliknya, tentu LHI harus direhabilitasi nama baiknya disamping hukum memberikan hak kepada yang bersangkutan untuk menuntut ganti rugi secara Perdata.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Remaja di Moskow Juga Suka Naik ke Atap KRL …

Lidia Putri | | 01 August 2014 | 19:28

Tunjangan Profesi Membunuh Hati Nurani …

Luluk Ismawati | | 01 August 2014 | 14:01

Apakah ‘Emoticon’ Benar-benar Jujur? …

Fandi Sido | | 01 August 2014 | 18:15

Menelusuri Budaya Toleransi di Komplek …

Arif L Hakim | | 01 August 2014 | 18:18

Punya Gaya “Make Up” Menarik? …

Kompasiana | | 09 July 2014 | 00:21


TRENDING ARTICLES

Info Hoax Umar Abuh Masih Disebarkan …

Gatot Swandito | 9 jam lalu

ANTV Segeralah Ganti Nama Menjadi TV India …

Sahroha Lumbanraja | 13 jam lalu

Kader PKS, Mari Belajar Bersama.. …

Sigit Kamseno | 15 jam lalu

Kalah Tanpo Wirang, Menang Tanpo Ngasorake …

Putra Rifandi | 16 jam lalu

Macet di Jakarta Gubernur Disalahkan, …

Amirsyah | 16 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: