Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Aly Imron Dj

Penggiat LSM untuk Transparansi dan Demokrasi, Penulis Buku dan Penulis Lepas di Berbagai media massa. -Sampaikan selengkapnya

Pilgub Jateng = Mega Vs SBY

HL | 23 May 2013 | 08:51 Dibaca: 1708   Komentar: 23   1

1369280386846543142

Tiga pasangan calon gubernur Jawa Tengah saat mengikuti Deklarasi Pilgub Jateng Bermartabat dan apel pasukan pengamanan operasi mantap praja candi 2013 di Lapangan Simpanglima, Selasa (07/05/2013). Cawagub Don Murdono yang merupakan pasangan Hadi Prabowo tidak tampak hadir pada acara itu./Admin (KOMPAS.com/PUJI UTAMI)

Pemilihan Gubernur/ Wakil Gubernur Provinsi Jawa Tengah akan digelar tanggal 26 Mei  2013. Perhelatan politik di Provinsi ini tentu sangat strategis dalam relasi perpolitikan nasional, karena disamping jumlah pemilihnya  sangat besar,  peta dan dinamika politik diwilayah  ini juga menjadi barometer serta gambaran  percaturan politik riil yang terjadi  di negeri ini    yang bakal  mencapai puncaknya ditahun depan.

Karena sangat penting dan strategisnya posisi politik Provinsi ini   semua partai politik  sangat berkepentingan  menancapkan pengaruhnya melalui investasi politik di kemenangan di Pilgub Jateng.  Tiga pasang kandidat Cagub/ Cawagub yang berlaga  sejak awal pendeklarasiannya menunjukkan bahwa semua partai politik sangat berkepentingan menempatkan jagoannya sebagai petarung yang tangguh untuk memenangkan pesta demokrasi di Jawa Tengah.

Tiga Pasang kandidat  yaitu Hadi Prabowo-Don Murdono yang diusung PKS, PPP, PKB, GERINDRA, Hanura dan PKNU, kemudian Bibit Waluyo- Sudiyono yang diusung Partai Demokrat, PAN dan Partai Golkar serta  Ganjar Pranowo-Heru Sudjatmoko    yang hanya diusung PDI Perjuangan adalah gambaran betapa persaingan partai politik untuk memenangkan Pilgub Jateng  adalah sangat ketat. Semua ini ditempuh karena partai politik berkeyakinan siapapun pasangan yang menang dalam Pilgub ini akan berkorelasi dan berkontribusi  langsung pada proyek pemenangan politik nasional di tahun 2014.

Pertarungan dalam Pilgub Jateng  juga menjadi pertarungan gengsi serta sekaligus aktualisasi ambisi para tokoh/ elit politik di Jakarta untuk menanamkan pengaruhnya di daerah.  Setidaknya ada tiga tokoh politik di Jakarta yang diperkirakan memainkan peran penting di Pilgub Jawa Tengah yaitu Megawai, SBY dan Prabowo Subianto yang masing-masing memiliki jago sendiri-sendiri.

Megawati bersama seluruh kekuatan PDI-P  dipastikan akan menggerakkan segala potensinya untuk memenangkan Pilgub Jateng ini  karena wilayah ini menjadi basis kekuatan terpenting bagi partainya untuk memenangkan  pertarungan politik secara nasional. Militansi ini diperkuat dengan keberanian PDI-P untuk mencalonkan kadernya sendiri sebagai calon Gubernur    sebagai perlawana terhadap kekuatan incumbent yang dianggap telah ‘mbalelo’ dari garis dan ideologi politiknya. Hal ini beralasan karena Bibit Waluyo yang sekarang maju melalui koalisi Partai Demokrat, Golkar dan PAN  pada Pilgub tahun 2008 adalah maju melalui PDI-P dan menang dalam 1 putaran.

Menghadapi mesin politik PDI-P yang solid, maka SBY tampaknya tidak mau kalah, dirinya justru lebih  cepat menggaet  Gubernur Jateng Bibi Waluyo untuk diusung menjadi kandidatnya.  Kubu SBY seperti biasanya tampak lebih suka mengusung calon incumbent demi mengimbangi kekuatan calon dari partai lain agar lebih mudah memenangkan kompetisi politik dalam Pilkada. Hal ini ditempuh karena  dirinya sadar bahwa mesin partainya tidak semilitan, setangguh dan sesolid  PDI-P.

Ditengah pertarungan yang berhadap-hadapan itulah muncul Hadi Prabowo (Sekda Jateng) yang diusung partai-partai menengah di Jateng, setelah di detik-detik terakhir dirinya ‘gaga’l memperoleh rekomendasi dari PDI-P. Kandidat ini awalnya bergerak cukup progresif, namun setelah partai penyokong utamanya yaitu PKS terus digulung badai  dugaan korupsi impor sapi tampaknya keberadaannya kian melemah. Walaupun pasangan ini didukung oleh Prabowo Subianto tampaknya pamornya semakin meredup yang terlihat  dari setiap debat kandidat yang terkesan tidak siap dan tidak menguasai materi.

Berdasarkan gambaran itu, maka Pilgub Jateng di detik-detik terakhir lebih menjadi aktualisasi pertarungan gengsi Megawati Vs SBY. Hal ini sangat beralasan karena keduanya memiliki ambisi dan kepentingan paling dominan, dimana SBY ingin menujukkan kekuatannya  sebagai pemimpin tertinggi di negeri ini yang kekuatannya  masih efektif dan menyebar rata di berbagai daerah sebagai syarat mutlak agar dominasi politiknya tetap aman dimasa depan.

Besarnya gengsi politik Megawati sebagai simbol tokoh oposisi juga akan ditunjukkan di Pilgub Jateng yang menjadi basis kekuatan terbesar PDI-P di Indonesia. Jika Pilgub Jateng berhasil dimenangkan kadernya maka dirinya dapat berhasil menjaga kekuatan politik utamanya serta semakin memompa mentalitas politiknya dengan semakin optimis untuk menang dalam kompetisi politik di tingkat nasional.

Terhadap besarnya gengsi dan ambisi politik itu, maka kandidat keduanya memiliki peluang  yang relatif  sama. SBY dengan kandidat utamanya yang incumbent tetap merasa  sangat yakin menang karena sebagai Gubernur aktif akan lebih memiliki keleluasaan untuk memobilisasi berbagai potensi dan dukungan masyarakatnya. Namun demikian, Cagub ini juga memiliki kelemahan yang cukup riskan yang selama ini menonjol yaitu  sering berkonfrontasi dengan sebagian Bupati/ Walikota, gaya komunikasinya cendrung buruk  serta terlihat tampak arogan, terutama saat berhadapan dengan Jakowi.

Walaupun sebagai incumbent, Bibit Waluyo bukanlah kader partai politik pengusungnya sehingga dikawatirkan ‘militansi’  dari kader-kader  PAN, Demokrat dan Golkar  akan sulit mencapai puncaknya dalam mendukung kandidat ini.

Optimisme juga sangat tampak di Kubu PDI-P yang mengusung kadernya sendiri yaitu Ganjar Pranowo. Dengan mengusung kader sendiri maka PDI-P memiliki keuntungan untuk semakin mensolidkan barisan dan semakin memompa militansi kadernya untuk memenagkan Pilgub. Ganjar Pranowo  yang menjadi kandidat termuda tentu lebih diuntungkan dengan lebih bisa menyimbolkan serta  memobilisasi dukungan dari kaum muda. Ganjar juga menjadi pilihan alternatif ditengah pertarungan antara sang Gubernur dan Sekdanya sehingga dirinya lebih leluasa untuk ‘mengoreksi’  berbagai kekurangan pembangunan  di Provinsi jawa Tengah.

Ganjar juga memiliki keuntungan khusus karena didukung oleh partai pemenang di Jawa Tengah  yang semakin solid dan kader-kadernya cenderung militan. Dukungan ini  membuat dirinya semakin diunggulkan ketika Jokowi  secara terang-terangan terus berkampnye dan turun langsung mendukung dirinya di Pilgub  ini. Keberadaan Jokowi  yang selama ini menjadi idola masyarakat Jateng dan popularitasnya sangat tinggi, posisinya  pernah dilecehkan (dizalimi) oleh  Bibit Waluyo terutama saat dirinya menjadi Walikota Solo.

Itulah  potret Pilgub Jateng yang sesungguhnya, dimana yang sangat dominan adalah pertarungan gengsi politik  Mega Vs SBY. Dua tokoh politik sangat berkepentingan, sehingga jika Pilgub akhirnya  hanya berlangsung  1 putaran maka  Ganjar atau Bibit  adalah yang lebih berpeluang untuk tampil menjadi pemenangnya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 6 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 7 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 7 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 8 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 9 jam lalu


HIGHLIGHT

Aku Ingin .. …

Gunawan Wibisono | 7 jam lalu

Keasyikan itu Bernama Passion …

Ika Pramono | 7 jam lalu

Sisi Positif dari Perseteruan Politik DPR …

Hts S. | 7 jam lalu

Menyiasati kenaikan harga BBM …

Desak Pusparini | 8 jam lalu

Trah Soekarno, Putra Cendana, dan Penerus …

Service Solahart | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: