Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Adi Andriana

menulis untuk menulis

Kader PKS di Tengah Prahara

OPINI | 23 May 2013 | 10:53 Dibaca: 414   Komentar: 21   3

Semakin terlihat arahnya, kemana berikutnya arah opini yang ada, setelah LHI dicecar oleh sana dan sini, maka target berikutnya adalah kader PKS.

Sebagian yakin bahwa di luar dan di mata umum citra PKS sudah babak belur disebabkan kasus yang sedang melanda PKS.

Tapi sebagian sadar bahwa di internal PKS masih memiliki kader yang militant dan solid, dan inilah yang menjadi kekuatan PKS.

Maka arah yang diambil setelahnya adalah bagaimana menggoyahkan para kader untuk lepas dari PKS dengan berbagai asumsi dan berbagai serangan.

Karena ketika PKS ditinggalkan oleh para kadernya itulah awal kiamat bagi PKS, tapi ketika para kader tetap rekat dan merekat, PKS tidak akan bisa dihancurkan.

Tapi yang mesti difahami adalah para kader diikat dengan ikatan ideology, jadi ketika ideology tidak hancur para kader akan tetap eksis.

Sebagian mengarahkan, tidak usah ikut dalam politik, toh tanpa partai atau tanpa ikut dalam politik, para kader tetap bisa berbuat kebaikan.

Tapi yang mesti dimengerti adalah perjuangan dalam ranah politik adalah bagian dari ideology kader, di tubuh PKS tidak mengenal, pemisahan antara agama dan politik.

Oleh sebab itu sekeras apapun LHI dikaitkan dan diblow up kedekatanya dengan para wanita, itu tidak akan meruntuhkan moral kader PKS.

Sebagian mengatakan para kader itu taklid buta, cinta buta dan berbagai stigma negative lainya, tapi silahkan saja, sebab yang penting adalah bagaimana kader melihat stigma itu.

Tugas kader adalah melakukan pembuktian terbalik, untuk terus belajar dan memperbaiki diri, tidak kalah oleh stigma dan penilaian orang lain.

Tak perlu anda jadi simpatisan PKS, tidak ada paksaan untuk itu, sebab kami berfikir dengan atau tanpa anda, dakwah yang dibawa oleh PKS akan tetap berjalan dan bergerak.

Sampai atau tidak pada tujuan yang ingin diraih, itu tidaklah penting, yang lebih penting adalah terus bergerak, sebab itu yang akan dinilai oleh Yang Kuasa, bukan menang atau tidak, kemenangan itu domain Yang Kuasa.

Oleh sebab itu tidak ada menghalalkan segala cara ketika berfokus pada kerja dan gerak dan bukan pada hasil.

Tapi ada yang skeptis melihat target 3 besar PKS, tapi bagi kami, gantungkanlah cita-citamu setinggi langit.

Dan biar Allah yang akan mengatur segalanya, toh manusia hanya bisa berusaha.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ratusan Ribu Hingga Jutaan Anak Belum Dapat …

Didik Budijanto | | 31 July 2014 | 09:36

Olahraga Sebagai Industri dan Sarana …

Erwin Ricardo Silal... | | 31 July 2014 | 08:46

Espresso, Tradisi Baru Lebaran di Gayo …

Syukri Muhammad Syu... | | 31 July 2014 | 07:05

Rasa Takut, Cinta, Naluri dan Obsesi …

Ryu Kiseki | | 31 July 2014 | 03:42

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Jokowi Menipu Rakyat? …

Farn Maydian | 15 jam lalu

Gandhi-Martin Luther-Mandela = Prabowo? …

Gan Pradana | 17 jam lalu

Jokowi Hanya Dipilih 37,5% Rakyat (Bag. 2) …

Otto Von Bismarck | 19 jam lalu

Jokowi yang Menang, Saya yang Mendapat Kado …

Pak De Sakimun | 21 jam lalu

Dilema Seorang Wanita Papua: Antara Garuda …

Evha Uaga | 24 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: