Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Asmari Rahman

MEMBACA sebanyak mungkin, MENULIS seperlunya

Fustun di Balik Jubah

OPINI | 22 May 2013 | 19:53 Dibaca: 1203   Komentar: 8   2

Anggota Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul Sembiring berkeyakinan bahwa prahara Kuota impor daging sapi yang melibatkan mantan Presiden PKS itu tidak terlalu berpengaruh terhadap partai.  Mantan Presiden PKS yang juga Menkominfo ini menegaskan bahwa persoalan hukum yang dihadapi LHI adalah urusan personal bukan persoalan partai.

Keyakinan yang dilontarkan oleh Tifatul itu bukan tidak beralasan, mengingat PKS adalah partai kader, solidaritasnya sulit digoyahkan. Dengan sistem yang mereka bangun selama ini memudahkan elite PKS untuk berkomunikasi dengan kadernya sampai ketingkat yang paling bawah, dan dengan demikian pula mereka bisa melakukan konsolidasi dengan cepat dan baik.

Mudah-mudahan prediksi Sembiring ini benar adanya,  namun perlu dicatat bahwa yang membesar PKS itu bukan hanya para kadernya, ada pihak lain yang sangat besar jumlahnya dan telah memberikan sumbangan suaranya kepada PKS disetiap pemilu. Kelompok inilah yang disebut dengan simpatisan, kelompok  yang tidak terikat dengan partai manapun dan menjatuhkan pilihannya ke PKS karena tertarik akan sikap dan prilaku para elite dan kadernya.

Dalam benak para simpatisannya selama ini PKS adalah sebuah partai dakwah yang isinya terdiri dari orang-orang bersih dari prilaku tercela, amanah dan jauh dari perbuatan maksiat, Kemana-mana menenteng tasbih, mulutnya fasih mengucapkan ayat-ayat suci dan selalu menyeru ummat untuk fastabiqul khairat berlomba-lomba dalam kebaikan.

Bayangan seperti itu kini menjadi sirna sejak mencuatnya kasus suap impor daging yang melibatkan Luthfi Hasan Ishaq yang menjadi pucuk pimpinan partai. LHI yang dikenal acap berdakwah kesana kemari ternyata tidak jauh berbeda dengan kebanyakan politisi lainnya. Dia terlihat bersih karena kejahatannya belum  terungkap.

Penangkapan LHI ini merupakan rangkaian dari tertangkapnya Ahmad Fathanah, dengan seorang perempuan disebuah hotel mewah di Jakarta. Kemudian ceritanya berkembang bagaimana seorang Luthfi telah menggunakan pengaruhnya sebagai presiden partai untuk melancarkan bisnis teman karibnya, dan sebagai imbalannya dia memperoleh fee dalam jumlah milyaran rupiah.

Temannya ini tidak hanya seorang pengusaha tetapi juga punya koleksi perempuan cantik molek dan seksi. Luthfi juga tidak mau ketinggalan, dalam pembicaraan pertelpon diantara keduanya terungkaplah istilah Fustun, sebuah kosa kata yang tidak kita jumpai dalam kamus besar bahasa Indonesia. Konon kata itu bermakna perempuan cantik dari Pakistan. Luthfi dan Ahmad Fathanah tidak hanya sekedar berteman tetapi juga memiliki hobi yang sama yakni sama-sama suka menyimpan Fustun dibalik jubahnya.

PKS mungkin bisa berdalih, bahwa Luthfi hanyalah seorang dari sekian ribu kader partai, wajar jika diantara ribuan itu ada satu orang yang menyimpang, Sisanya masih banyak yang bersih dan tidak terlibat dengan kasus korupsi. Tetapi kalau diambil dari filosofi seekor ikan jika kepalanya busuk maka seluruh tubuhnya akan membusuk pula. Ingat Luthfi itu adalah presiden partai, pemimpin yang dipilih oleh anggota PKS.

Katakanlah dalam hal ini PKS telah keliru dalam memilih pemimpin, tapi kekeliruan itu seharusnya dijawab secara tegas dengan menyerahkan kader yang bersalah kepenagak hukum, dan membersihkan Fustun dari balik jubahnya, bukan sebaliknya melakukan pembelaan seperti yang tercermin dalam kisah penyitaan mobil milik Luthfi.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Nangkring Bareng Pertamina …

Maria Margaretha | | 29 August 2014 | 23:37

“Curhat Jokowi Kelelep BBM dan Kena …

Suhindro Wibisono | | 29 August 2014 | 16:40

Jose Mujica, Dihormati Meskipun Tidak Punya …

Putu Djuanta | | 29 August 2014 | 14:30

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Jogja Terhina, France Tidak Perlu Minta Maaf …

Nasakti On | 7 jam lalu

Rising Star Indonesia, ‘Ternoda’ …

Samandayu | 7 jam lalu

Yogya, Kamar Kos, dan Segarnya Es Krim Rujak …

Wahyuni Susilowati | 11 jam lalu

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 14 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

5 Polusi Rumah yang berbahaya selain Rokok …

Hendrik Riyanto | 7 jam lalu

Tentang Mengusahakan Jodoh …

Adin_noel | 8 jam lalu

V2 a.k.a Voynich Virus (part 19) …

Ando Ajo | 9 jam lalu

Meninjau Konsistensi kehalalan Produk …

Donny Achmadi | 9 jam lalu

Gojlokan Dian Kelana, Membuatku Kecanduan …

Seneng Utami | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: