Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Fajarbaru

menulis untuk melawan proses amnesia sejarah

Bola Salju Kritikkan Romo Magnis Suseno

OPINI | 21 May 2013 | 23:06 Dibaca: 2921   Komentar: 85   26

1369154217760959255

Illustrasi (shutterstock.com)

Rupanya pihak istana telah menutup mata alias memakai “kaca mata kuda” terhadap kritik yang dilontarkan Profesor Frans Magnis Suseno, seorang tokoh filsafat etika yang reputasinya tidak hanya dikenal di Indonesia tetapi mendunia. Profesor Magnis langsung secara pribadi telah mengirimkan surat protes ke yayasan ACF, lembaga pemberi penghargaan World Statemen untuk Presiden SBY. Satu per satu pejabat-pejabat di sekitar Presiden SBY angkat suara dengan “NADA DASAR” yang sama: DEFENSIF terhadap kritik pasca Surel (surat elektronik) Romo Magnis Suseno kepada pihak ACF!

Mulai dari Juru Bicara Presiden Bidang Luar Negeri, Julian A. Pasha yang secara tidak langsung mengatakan Romo Magnis Suseno yang menyampaikan kritik kepada pihak ACF sebagai orang berpikiran sempit, alias orang yang mempunyai “satu cara pandang yang sempit didasari penafsiran filsafat politik minus etika.”

Hari ini, Sekretaris Kabinet, Dipo Alam, malah lebih frontal melakukan serangan balasan kepada Romo Magnis dengan mengatakan: “Kita negara besar dan times to times, jadi kata-kata pak Magniz itu maaf kata, ya dia matanya dangkal, melihat Indonesia seolah-olah yang hanya ada di TV.”

Sedemikian pentingkah penghargaan itu bagi “eksistensi Presiden SBY” sehingga orang-orang istana, maaf kata, sepertinya menjadi tampak “kalap” ketika seorang Magnis Suseno berani menyampaikan kegelisahan pribadinya terkait objetivitas penilaian dan penghargaan dari pihak ACF kepada Presiden SBY?

Sikap kalap ini tampak sekali dalam kedua pernyataan defensif yang mereka lontarkan di atas. Apakah Romo Magnis berpikiran sempit menurut filsafat politik minus etika? Jika saja Julian mencermati baik-baik surat elektronik Magnis Suseno, kritiknya ditujukan kepada pihak ACF sebagai lembaga yang mendaku dirinya berbasiskan moralitas tetapi dalam penilaian dan pemberian penghargaan kepada Presiden SBY telah mengaibaikan FAKTA-FAKTA BENTUK TINDAKAN INTOLERANSI PADA MASA PEMERINTAHAN SBY. Apa yang disampaikan Romo Magnis pun bukan sebuah Filsafat Politik tetapi lebih sebagai “ungkapan hati” dan “rasa prihatin” yang mendalam sebagai seorang tua ketika melihat melihat berkembangnya tindakan-tindakan intoleransi belakangan ini tanpa ada komitment serius pemerintah pusat dalam menyelesaikannya.

Terkait pernyataan Dipo Alam, selaku Sekretaris Kabinet yang menilai Romo Magnis “bermata dangkal” ketika menyampaikan keberatannya kepada pihak ACF, perlu dipertanyakan kembali. Apakah Pak Dipo alam satu-satunya orang asing di negeri ini sehingga tidak tahu apa yang telah terjadi belakangan ini pada masa pemerintahan Presiden SBY terkait toleransi antarumat beragama? Tidak tahukah Pak Dipo alam bahwa intoleransi memang menguat akhir-akhir ini?

Satu lagi. Bukan hanya Romo Frans Magnis Suseno yang berpikiran sama. Pasca hebohnya media mem-blow up Surel Romo Magnis Suseno, tampak kian deras penolakan anak bangsa Indonesiayang  juga merasa keberatan dengan penghargaan tersebut. Buktinya, sebuah “petisi online” telah digerakan oleh seorang anak bangsa di www.change.org/natoSBY untuk menolak penghargaan tersebut diberikan kepada Presiden SBY dan sampai saat ini telah meraup 4000 tanda tangan dan masih memerlukan 2.379 dukungan dari total maksimal dukungan sebesar 5.121 orang?

Apakah pihak istana terutama Julian Pasha dan Dipo Alam sungguh-sungguh tidak tahu atau memang sengaja menutup mata terhadap fakta bahwa Departemen Luar Negeri Amereka Serikat sendiri malah telah mempublikasikan bahwa Pemerintahan SBY telah gagal melindungi hak-hak kaum minoritas di negeri ini? (Religious Freedom In Indonesia)

Semakin anda mengabaikan jeritan rakyat demi sebuah prestasi internasional, semakin anda terjebak dalam kedangkalan yang semakin parah!

Terkait:

Pemerintah Amerika Serikat saja Malah  ”Meragukan” Kepantasan Penghargaan untuk SBY

World Statesman Award untuk SBY, Sebuah Jebakan?

Tanggapan Defensif Pihak Istana atas Kritikan Sejumlah Pihak Terkait Penghargan oleh ACF

Romo Magnis Suseno pun Terpanggil Mengirim Surel ke Pihak ACF

Layakkah Presiden SBY Menerima Penghargaan Toleransi?

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[PENTING] Panduan ke Kompasianival 2014, …

Kompasiana | | 18 November 2014 | 15:19

Sensasi Menyelam di Tulamben, Bali …

Lisdiana Sari | | 21 November 2014 | 18:00

Spritualisme di Balik Pelantikan Ahok …

Daniel H.t. | | 21 November 2014 | 11:25

Jadi Perempuan (Tak Boleh) Rapuh! …

Gaganawati | | 21 November 2014 | 15:41

Ini Dia Nama Maskot Kompasiana! …

Kompasiana | | 17 November 2014 | 20:50


TRENDING ARTICLES

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 6 jam lalu

Rakyat Berkelahi, Presiden Keluar Negeri …

Rizal Amri | 8 jam lalu

Menteri Hati-hati Kalau Bicara …

Ifani | 9 jam lalu

Pernyataan Ibas Menolong Jokowi dari Kecaman …

Daniel Setiawan | 10 jam lalu

Semoga Ini Tidak Pernah Terjadi di …

Jimmy Haryanto | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Myanmar, Negeri Paling Dermawan di Dunia …

Rahmat Hadi | 7 jam lalu

Telaah Persaingan Perdagangan Tradisional …

Iin Sawitri | 7 jam lalu

Sensasi Menyelam di Tulamben, Bali …

Lisdiana Sari | 8 jam lalu

Pesan dari Bak Truk …

Idris Apandi | 8 jam lalu

Kami Hadir di Kompasianival …

Hibah Buku | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: