Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Kiki Amaliapra

mahasiswi jurnalistik UPN VETERAN YOGYAKARTA

Ahmad Fattanah Korupsi untuk Perempuan Atau Karena Perempuan?

OPINI | 20 May 2013 | 20:10 Dibaca: 787   Komentar: 9   1

Fenomena kasus Korupsi Daging Sapi yang terkait dengan Ahmad Fattanah cukup menggegerkan. Lebih lagi korupsi tersebut menyenggol sosok-sosok perempuan cantik yang muncul beriringan. Ayu Azhari, Vitaliashesya , Maharani pun muncul sebagai suguhan intens media bagi masyarakat terkait dengan citra negatif korupsi Fattanah tersebut. Kondisi ini membuat citra perempuan semakin terpuruk keberadaannya. Tak bisa disangkal setiap orang butuh materi, khususnya perempuan, namun semudah itukah harga diri ditukar dengan uang. Mungkin ini akan berbeda cerita ketika Ahmad Fattanah membagikan uang hasil korupsinya kepada laki-laki, namun kemudian justru dibuat “spektakuler” dengan adanya perempuan-perempuan cantik tersebut.

Cukup aneh ketika setiap perempuan cantik di sekeliling Fattanah tersebut ditanya mengenai kedekatan mereka dengan Fattanah, mereka menyangkal, tapi sanggahan mereka tidak bisa sinkron dengan alasan mereka menerima uang yang notabene berasal dari hasil korupsi Fattanah. Meski sekalipun mereka tidak tahu bahwa itu adalah uang korupsi, lalu apakah wajar bila seorang perempuan menerima uang dalam jumlah besar tanpa mengetahui latar belakang kenapa sang pria memberikan uang tersebut. Namun disisi lain, itu adalah hak mereka sehingga ketika pihak KPK meminta kepada para perempuan-perempuan tersebut untuk mengembalikan uangnya juga secara tegas menurut saya tidak benar, karena pada dasarnya yang bertanggung jwab besar terhadap permasalahan ini adalah Fattanah sendiri.

Masih menggelitik dipikiran saya, sebenarnya Fattanah melakukan korupsi untuk atau karena perempuan. Dalam artian Fattanah sudah korupsi terlebih dahulu, lalu merasa kaya dan membagi-bagikan uang korupsinya atau justru dia telah mengenal perempuan-perempuan tersebut dan membutuhkan uang cukup banyak untuk menghidupi perempuan-perempuannya sehingga perlu korupsi? Mungkin semuanya akan terjawab setelah kasus ini ditelisik lebih jauh oleh KPK.

Satu hal yang menarik dalam permasalahan ini adalah tanpa sadar disini ada bias gender. Media seakan mem – blow up kasus secara berlebihan ketika masalah-masalah ini cenderung menimpa perempuan. Hal ini mungkin perlu mendapat perhatian kita, media seharusnya dapat menempatkan konstruksi realitasnya tanpa harus menampakkan bias dari gender antara laki-laki dan perempuan, karena dengan menampilkan konstruksi yang berlebihan (pada kasus ini khususnya) akan menampilkan CITRA bahwa “seakan-akan perempuan dapat dibeli dengan uang “ . Satu hal bahwa tidak perempuan sama sehingga keberadaan media untuk idealis ketika memberitakan suatu hal khususnya yang dekat dengan isu gender.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Santri dan Pemuda Gereja Produksi Film …

Purnawan Kristanto | | 22 October 2014 | 23:35

Kontroversi Pertama Presiden Jokowi dan …

Zulfikar Akbar | | 23 October 2014 | 02:00

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Lilin Kompasiana …

Rahab Ganendra | | 22 October 2014 | 20:31

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Singkirkan Imin, Jokowi Pinjam Tangan KPK? …

Mohamadfi Khusaeni | 6 jam lalu

Pembunuhan Bule oleh Istrinya di Bali …

Ifani | 6 jam lalu

Ketua Tim Transisi Mendapat Rapor Merah dari …

Jefri Hidayat | 7 jam lalu

Jokowi, Dengarkan Nasehat Fahri Hamzah! …

Adi Supriadi | 13 jam lalu

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Air …

Hotman J Lumban Gao... | 7 jam lalu

Penguasaan Sumber Daya Strategis …

Kang Warsa | 7 jam lalu

Ironi Setalah Dialog Kerukunan dan …

Sapardiyono | 7 jam lalu

Kepercayaan untuk Pemimpin Baru …

Kasmui | 8 jam lalu

Revolusi dari Desa di Perbatasan …

Pepih Nugraha | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: