Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Uran

aku anak Petani, rindu kembali menjadi Petani, membangun kampung halaman. Dengan menulis, kubingkai potret kehidupan berpanorama selengkapnya

JOKOWI, TUKANG MEBEL PENERUS SOEKARNO JADI RI 1 DI TAHUN 2019

OPINI | 19 May 2013 | 22:43 Dibaca: 2550   Komentar: 9   7

Tulisan ini untuk menanggapi komentar Si Ruhut di yang dimuat di Kompas Online, http://megapolitan.kompas.com/read/2013/05/19/10435242/Ruhut.Tak.Pantas.Tukang.Mebel.Jadi.Presiden. terhadap pernyataan Ruhut ini, pengamat Politik  Gun Gun Heryanto mengatakan bahwa itu hanya psywar Ruhut.

Kenapa tukang Mebel tidak Bisa Jadi RI 1?

Ruhut dan partai Demokrat sekali lagi menunjukkan ke publik tentang kegagapan mereka dalam berkomunikasi politik. Mereka mencoba membelokan arus informasi, hasil survey dengan statemen-statemen murahan, bernada picisan, dan pepesan kosong. Ruhut mencoba membangun logika kegagal Jokowi bahwa :

Jalan Makin Macet.

Jakarta sudah rusak dan amburadul sejak jamannya Sutiyoso dan Si Foke yang didukung oleh PD. Katanya Foke itu Ahli. Slogan kampanye “ Serahkan Jakarta pada Ahlinya” ya, benar Jakarta di tangan ahli perusak. Jokowi Ahok bukanlah dewa yang hanya sekali bersabda maka akan terjadi. Kenyataan Jakarta macet kenyataan tapi bukan menjadi  alasan utama untuk mengatakan Jokowi Ahok gagal.

Publik tidak butah dan tidak tuli melihat dan mendengar progress pembangunan di Jakarta yang berfokus pada  nilai-nilai budaya, pada masalah real dan berorientasi pada solusi cepat dengan melibatkan masyarakat serta pendekatan kemanusiaan? Pada masa si Foke, pendekatan terhadap makam Mba Priok dengan cara kekerasan. Banyak Korban. Apakah ini tidak disebut kegagalan dan PD sebagai pengusung Foke harus malu? Jokowi Ahok melakukan pendekatan komunikasi Dialog dengan warga.  Program revitalisasi Pasar Tradisional, penataan PKL semuanya diawali dengan kunjungan langsung, alias blusukan untuk mengetahui kondisi real. Mana Foke perna masuk dalam gorong-gorong untuk melihat kondisi nyata?TIDAK PERNAH. Jika pendekatan melalui blusukan dikatakan pencitraan maka, si Ruhut perlu kembali ke Sekolah Dasar.

Jokowi tidak mencari media tetapi media yang terus meliputi tentang Jokowi bukan karna kebusukan seperti di PD tetapi karna media tahu bahwa ada sesuatu yang berharga, ada sesuatu yang Indah dari Jokowi Ahok dan berharap yang baik, indah ini tidak hanya milik Jakarta saja tetapi milik warga Nusantara ini.

Jokowi tidak dicalonkan PDI P?

PDIP tidak mungkin latah seperti PD ketika melakukan komunikasi politik ke Publik, jika dibandingkan dengan PD. Ketika kasus Hambalang, Nasarudin semua politisi Demokrat berbicara ke public tanpa ada control. Akhirnya menjadi bahan tertawaan public ketika melihat para politisi PD saling menyerang, saling membantah.

Hasil survey menunjukkan elektabilitas Jokowi lebih unggul dari kandidat lain menjadi bahan untuk refleksi PDI P untuk terus menata langkah, mempersiapkan figure yang  mampu untuk memimpin bangsa ini.  Sebagai bahan refleksi artinya ia menjadi bagian strategi yang tidak mudah/ latah diucapkan ke Publik.  Contoh sederhana, dengan melibatkan Jokowi dalam kampanye calon Gubernur di daerah lain, PDIP secara tidak langsung melakukan komunikasi politik ke masyarakat bahwa “ ini loh calon Presiden anda di tahun 2019”. Masyarakat tidak hanya melihat dan mendengar suara Jokowi di media Online dn cetak tetapi bersentuhan langsung, foto bersama.

Untuk pemilu 2014, saya percaya PDI P tidak akah gegabah atau latah mencalonkan Jokowi menjadi RI satu karna Jokowi bersama Ahok harus membuktikan komitmen pelayanan mereka bagi warga DKI ini. Bagi saya upaya seperti yang dilakukan oleh Ruhut ini hanya sebuah kerikil kecil untuk menghambat langkah Jokowi membenahi Jakarta, termasuk kerjasama dengan KPK membongkar kebobrokan keuangan selama kepemimpinan Foke yang disinyalir erat kaitan dengan sumber dana PD. Maka bagi Ruhut serangan ini minimal sebagai upaya membelokan arah angin perubahaan yang sedang meniup kencang ke PD.

Gimana, jadi Wali Kota Solo saja gagal, tukang mebel mau jadi capres,”?

Ini pernyataan  seperti orang mabuk yang baru keluar dari Lapo setelah menghabiskan 5 botol tuak dan berbicara tanpa data, yang penting bicara. Makanya di acara JLC, Prof JE Sahepaty mengatkan mulut Ruhut itu bau busuk. Kasus lain saat Ruhut Vs Mahfud MD berkaitan dengan Gelar Guru Besar dan Mahfud membalas dengan kearifan bahwa dia tamatan dari Airlanggar (http://news.detik.com/read/2011/05/25/092945/1646371/103/mahfud-md-lebih-senang-disebut-alumni-airlanggar) dan Mahfud mengatakan Ruhut sebagai pelawak (http://www.tempo.co/read/news/2011/05/21/063335829/Mahfud-Ruhut-Itu-Pelawak). Kalau merujuk pada sejarah hidup Presiden Abraham Lincoln (http://www.untukku.com/artikel-untukku/sejarah-abraham-lincoln-untukku.html) maka statemen Ruhut yang mulutnya bau ini dengan mudah dimentakhan. Abraham pernah menjalani pekerjaan sebagai pembela kayu. Dan Jokowi pun profesi awalnya sebagi “pembela Kayu” yang mengubah bentuk kayu menjadi sesuatu yang indah. Seandainya dia gagal mengapa beliau terpilih sebagai walikota terbaik di dunia, mengapa warga solo selau mengeluh-eluhkan dia, mengapa Solo terkenal dengan Karnaval Batik, mengapa pasar tradisional Solo berkembang lebih baik, mengapa satpol PP melakukan pendekatan secara kemanusiaan, mengapa relokasi PKL berjalan lancer dan dilakukan dengan cara Budaya? Fakta ini tidak bisa dilihat dengan jelas jiak orang-orang yang membaca dan mendengarnya telah lebih dahulu meneguk tuak atau bir atau anggur kerakusan.

Dari ulasan di atas, kesimpulan sederhana, Ruhut dan PD gagal membangun komunikasi politik yang sehat, dan Ruhut menunjukkan ke public tentang kehinaan dirinya dan martabatnya yang begitu murah semurah harga sebotol tuak di pinggi warung

Soekarno menitip RI ini ke Jokowi

(http://penggerak-perubahan.blogspot.com/2012/05/melalui-indonesia-mengajar-kita.html)

“Kutitipkan Bangsa dan Negeri ini kepadamu”. Beliau telah menitip bangsa ini ke sekian presiden ( kecuali Soeharto yang melakukan Kudeta) termasuk ke Putrinya dan setiap presiden menorehkan catatannta sendiri. Soeharto menorehkan catatan tentang  Pelanggaran HAM dibalik isu Kudeta, HB berani membuka kran kebebasan Pers dan memberikan kebebasan warga Timor Timur, Gus Dur menata kembali semangat Pluralisme, Megawati gagal melindungi pulau terluar RI sehingga jatuh ke tangan Malaysia dan SBY berhasil dalam membangun pencitraan sebagi Presiden yang mendukung penghancuran pluralisme, yang mendukung tindakan kekerasan dari mayoritas terhadap minoritas, yang mudah dibungkam mulutnya oleh pihak Luar Negeri dengan sebongkah dan secarik penghargaan dan Presiden yang mudah mengeluh.

Catatan perjalan bangsa ini mendorong warganya untuk mecari sosok yang tepat. Di tengah kehadiran para calon presiden, Media dengan apik menyodorkan ke public sosok Jokowi. Respon yang luar biasa, Jokowi mengalahkan tingkat elektabilitas baik dari  semua sisi terhadap calon lain.

Jokowi seorang tukang mebel, mampu mengolah potongan kayu menjadi indah dan berharga. Ia mampu menyatukan potongan-potongan kayu menjadi satu kesatuan, ia mampu memilah jenis kayu berpadu bentuk dan ia sadar perlu ada sentuhan warna.

Indonesia, mozaik indah butuh seniman seperti  tukang kayu… Abraham tukang bela kayu, Jokowi tukang kayu….

Jokowi, di tanganmu, Soekarno menitip Nusantara tercinta ini. Pemilu 2019 menanti anda dan warga Indonesia siap menyambutmu menjadi Soekarnonya Indonesia masa kini.

Uran, anak petani yang menggagumi Soekarno

Salam

www.bolyuranblogspot.com

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Mau Ribut di Jerman? Sudah Ijin Tetangga …

Gaganawati | | 24 October 2014 | 13:44

Pesan Peristiwa Gembira 20 Oktober untuk …

Felix | | 24 October 2014 | 13:22

Ikuti Kompasiana-Bank Indonesia Blog …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 10:39

Sedekah Berita ala Jurnalis Warga …

Siwi Sang | | 24 October 2014 | 15:34

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Pak Jokowi, Kemana Pak Dahlan Iskan? …

Reo | 3 jam lalu

Akankah Jokowi Korupsi? Ini Tanggapan Dari …

Rizqi Akbarsyah | 8 jam lalu

Jokowi Berani Ungkap Suap BCA ke Hadi …

Amarul Pradana | 9 jam lalu

Gerindra dapat Posisi Menteri Kabinet Jokowi …

Axtea 99 | 11 jam lalu

Nurul Dibully? …

Dean Ridone | 11 jam lalu


HIGHLIGHT

Angkuh …

Retna Kusumawati | 7 jam lalu

Transfusi Darah …

Raka Pratama | 7 jam lalu

Agama adalah Kebudayaan yang Disucikan …

Kawar Brahmana | 7 jam lalu

KPK Selamatkan Jokowi dari Intervensi …

Rusmin Sopian | 7 jam lalu

Jokowi dan Prabowo, Indonesia Kita …

Awaluddin Madjid | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: