Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ahmad Sofyan

Arsitek dan desainer web freelance yang suka nulis dan ngeblog. Mantan kolumnis majalah INTELIJEN.

Yang Tercecer dari Kerusuhan Mei 98 (Isu Perkosaan Massal)

OPINI | 18 May 2013 | 13:50 Dibaca: 32920   Komentar: 44   6

136885890130648668

Keluarga Korban Rusuh Mei 98 Melakukan Tabur Bunga (photo: Kompas.com)

Kerusuhan Mei 1998 lalu merupakan luka dan aib bagi bangsa ini, dan kembali, yang menjadi terutuduh adalah TNI dan umat Islam. Oknum-oknum jenderal TNI dituduh berada dibalik kerusuhan, sementara umat Islam dituding telah melakukan perkosaan terorganisir terhadap amoy-amoy di Jakarta waktu itu.

Ternyata sodokan berita di internet tidak hanya bisa menohok seseorang. Sebuah negara pun bisa kelabakan dibuatnya. Anda tentu masih ingat isu perkosaan massal yang muncul pasca kerusuhan Mei 1998 lalu?

Selang beberapa waktu dari kerusuhan yang banyak menelan korban jiwa itu, tiba-tiba muncul berita ratusan amoy diperkosa. Padahal tidak ada satu wartawan pun yang mendapatkan berita itu, meski saat kerusuhan banyak awak media yang tersebar di berbagai sudut Jakarta. Lantas darimana sumbernya, sehingga tidak ada wartawan yang tahu ?

Usut punya usut, ternyata awal ceritanya juga bermula dari internet. Di salah satu news group (news:soc.culture.indonesia) di internet dikutip cerita pengakuan seorang gadis etnis Tionghoa bernama Vivian serta beberapa amoy lainnya yang diperkosa ramai-ramai oleh pemuda pribumi. Yang keterlaluan, dikisahkan para hidung belang itu berkata, “Kamu diperkosa karena kamu Cina dan non muslim,” lantas mereka bertakbir sebelum memperkosa.[i]

Isu ini telah memancing sentimen ras dan keagamaan. Rasa saling curiga dan kebencian menggerogoti hati anak-anak negeri ini yang sempat bersatu dalam menjatuhkan Soeharto. Jelas berita perkosaan missal itu telah mencoreng wajah Islam dan kaum muslimin seluruhnya.

Celakanya, cerita seperti ini dipercaya begitu saja oleh kalangan pers dengan memblow-up besar-besaran. Padahal berbagai media juga tidak kunjung berhasil mewawancari langsung amoy-amoy yang menjadi korban, seperti ketika wartawan koran criminal memberitakan kasus perkosaan lainnya.

Para aktivis gerakan feminisme dan HAM seperti mendapatkan durian runtuh ketika mendengar isu ini. Mereka sibuk menggerakkan demo menentang perkosaan missal yang tidak jelas siapa dan dimana korbannya itu. Mereka pun lantas membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) bersama berbagai fihak lain untuk menyelidikinya.

Ironis, meski berkali-kali mendatangi DPR dan memberikan keterangan di media, TGPF tetap tidak bisa membuktikan siapa korban dan data-data akurat lainnya. Padahal mengapa mereka tidak membela ratusan - mungkin ribuan, warga Jakarta yang terpancing menjarah lalu terjebak dalam pusat-pusat perbelanjan yang sengaja dibakar.

Meski demikian, isu perkosaan wanita Tionghoa terus menggelinding hingga ke luar negeri. Surat kabar Sidney Herald Tribune dan New York Times yang bertiras besar tidak ketinggalan memuat isu ini pula dan memperburuk citra Indonesia di mata dunia.

Tetapi, isu perkosaan massal ini masih simpang siur kebenarannya. Terutama ketika situs Indonesia Huaren Crisis Center (IHCC) yang merupakan corong “resmi” kasus perkosaan ini, masih meragukan beberapa foto yang disertakan tim investigasi independen. IHCC bahkan meminta pengunjung untuk melaporkan apabila foto-foto yang ditampilkan itu bersumber dari situs lain yang tidak ada kaitannya dengan isu yang dipersoalkan. Diduga beberapa foto perkosaan diambil dari situs pornografi dan tragedi kerusuhan Timor Timur. Berikut kutipan dari web IHCC :

We’ve found some fake/false photos in internet. We believe that it can reduce the integrity of our movement. So, we put a list of photos that we’ve confirmed as fake photos that have nothing to do with Indonesian Huaren and May’s riot. If you see the photos in other sites, please contact the webmaster and tell them to remove it.
These photos are fake/false because of following reasons :

  • They are about Timor Timur crisis, which is not related to Indonesian Huaren, or
  • They can be found in pornographic sites, and available BEFORE May’s riot.

Ketika penulis mencoba menelusuri halaman web yang berisi foto-foto perkosaan amoy, link-link gambarnya tidak dapat diakses dan hanya menampilkan halaman putih atau tidak ditemukan. Alamat situs IHCC dapat diakses di : http://reocities.com/capitolhill/4120/index.html.

Ini jelas mengherankan, dalam milist Marinir (http://www.polarhome.com/mailman/listinfo/marinir), seorang member bernama RM. Danardono menyatakan keheranannya tersebut :

               Aneh sekali kebijakan pengelola website "Indonesian Huaren Crisis Center" (IHCC)!!!  
               Statement:  "If you've ever seen these photos in other unrelated site (e.g :
porn sites), or maybe you know they are have nothing to do with Indonesian Huaren, please tell us".
               Ini sama saja seperti ingin mengatakan: "IHCC tidak bertanggung jawab atas kepalsuan atau rekayasa gambar-gambar foto perkosaan Mei'98 yang ditayangkan dalam website IHCC"
               Kalau masalah yang demikian sensitif dan prinsipiel, IHCC tidak bisa mempertanggung jawabkan keaslian dan kebenarannya, jadi apalagi yang bisa dipercaya?
"Times New Roman";mso-ansi-language:EN-US;mso-fareast-language:EN-US;
mso-bidi-language:AR-SA">[ii]

"> 
               Sama halnya dengan kelompok diskusi milik Persatuan Pelajar Indonesia di India (ppiindia) yang beralamat di : http://www.mail-archive.com/ppiindia@yahoogroups.com/info.html, terdapat pula ungkapan keraguan mengenai kebenaran isu perkosaan pada bulan Mei 1998 :
               ...Memang agak aneh kisah perkosaan wanita cina saat kerusuhan Mei 1998 itu.... banyak cerita berseliweran, tapi faktanya sedikit sekali....
               Majalah tempo pernah melakukan investigasi, dan hanya menemukan satu wanita korban perkosaan.... itupun si wanita mengalami stress berat sehingga sulit menuturkan kembali kisah perkosaan itu secara baik....
               Banyak yang bilang para wanita cina korban perkosaan itu telah diterbangkan ke luar negeri karena mengalami trauma... mungkin benar begitu... tapi apa mungkin semuanya sudah pergi...? Dan kalaupun di luar negeri apa mereka tak bisa bercerita...? tentu dengan cerita yang solid dan bisa diverifikasi....
               Saya sungguh berharap kisah kelabu ini lekas terkuak, sehingga menghilangkan fitnah dan desas-desus diantara sesama anak bangsa....
 
               Salam,
               Nugroho Dewanto
               Perhatikan pula pendapat bung Martin (martin3053950) dalam milis tionghoa-net@yahoogroups.com :
               Dizaman internet si sohib masih suka percaya dongengan rasial amoy diperkosa massal, kacian deh luh.
               Kalau sebagian cina yang sehari-harinya punya hobi mendiskreditkan pemerintah, gue masih ngerti karena mereka lebih suka bertingkah laku kearah perpecahan dari parda persatuan yang bisa menguatkan bangsa. Makanya fitnahan amoy diperkosa massal terus akan digulirkan supaya orang cina marah dan membenci negaranya.
               Jangankan pejabat pemerintah yang menyangkal, kofi annan or paus or dalai lama or malaikatpun kalau berani omong perkosaan amoy massal itu gak ada, mereka akan dibilang bodoh or jahat oleh tukang fitnah tersebut.
               Pada tanggal 12-13-14 Mei 1998 di indonesia gua juga percaya ada pemerkosaan, sama seperti kemarin dan hari ini, tanggal 17-18 Mei 2005, dari berita tv gua dengar orang ditangkep karena memperkosa. Yah tiap hari ada pemerkosaan, apalagi Mei 98, sangat memungkinkan ada  jai hwa cat yang ambil kesempatan untuk nyicipi amoy secara paksa.
               Kasus aib nasional Mei 98 belum terungkap, karena disengaja oleh para tukang fitnah 'amoy diperkosa massal'. Mereka tahu sampai kiamatpun dongengan sara ini gak akan memunculkan seorangun saksi, dan akibatnya mereka berhasil bikin buntu kasus Mei ini. Dan karena kasus ini gak terungkap, tiap tahun tukang fitnah ini punya alasan untuk menyudutkan pemerintah sambil melestarikan perasaan curiga etnis cina.
               Bila tukang fitnah ini tersudut, dikeluarkanlah argument-argumen dogol yang hanya dipercaya oleh orang-orang yang dasarnya sudah punya sentimen sama penguasa/militer/islam. Mulai dari cerita vivian palsu, foto palsu, bahkan romo yang terkenal itupun sekarang mengunakan perkosaan di aceh sebagai rujukan,  Ketika foto palsu terbongkar, eh si sohib omong "foto perkosaan palsu di internet bukanlah argumen yg kuat utk mengcounter adanya perkosaan apalagi utk mengeliminir kasus Mei 98".
               Sohib, apa ente gak terbalik, justru mengemukakan perkosaan fiktif akan mengeliminir kasus Mei 98.
               Pemerkosaan amoy massal Mei 1998 adalah fitnah untuk menjatuhkan bangsa, saya berani katakan ini karna begitu pertama kali baca kasus vivian di internet diawal Juni 98, saya langsung ke lokasi kejadian  dan menanyakan penduduk/pedangang disekitar apartemen, semua menjawab gak ada dan gak perah dengar amoy diperkosa, apalagi ngeliat mayat. Saya juga sempat ngobrol semalaman suntuk sambil mancing di perahu dengan seorang anak nelayan yang di dua hari jahanam tsb kerjanya menjarah apartemen tempat vivian tinggal, jawabnya, jangankan memperkosa, ketemu penghuni juga gak, karena mereka semua udah kabur dengan mengonci pintu apartemennya.Dan selama bertahun-tahun bila lagi omongin soal Mei 98, baik di Indo, di Sydney dan di Singapore gak ada satupun dari orang cina yang saya tanya pernah jumpa dengan korban, bahkan teman dari teman-teman merekapun gak pernah ada yang pernah kenal korban. Logika saya, bila benar amoy diperkosa massal, mestinya dengan mudah saya akan mendengar pengakuan dari orang-orang yang kenal korban langsung atau via famili/teman-temannya.
               Jadi sohib, keyakinan ente ada perkosaan amoy massal ini dari mana? Coba deh jelaskan barangkali gue bisa jadi percaya. Tapi kalau sumbernya cuma cerita Vivian dari internet atau dari kata orang, seperti yang dipercaya oleh para dogol tukang fitnah sara mending lue gak usah ngomongin perkosaan ini karena hanya mengeliminir kasus Mei 98. Gue setuju kasus Mei bukan soal perkosaan, kalaupun ada perkosaan itu hanya efek sampingan. 
               Gua simpati sama para cina yang harta dan jiwanya melayang akibat dari kerusuhan tersebut, juga para penjarah yang terjebak hangus maupun penjarah kesiangan yang diburu seperti memburu tikus got di pantai indah kapuk. Gua mengutuk tukang fitnah yang mengeliminir kasus tsb dengan kisah2 horor pemerkosaan massalnya.
               Dua hari lagi bangsa kita akan merayakan hari kebangkitan nasional (20 Mei), semoga para tukang fitnah sara dapat merenungkan betapa malunya tingkah laku mereka yang bertolak belakang dengan para pendiri bangsa yang menyatukan Negara ini.
"Times New Roman";mso-ansi-language:EN-US;mso-fareast-language:EN-US;
mso-bidi-language:AR-SA">[iii]
 
Salam,
Martin.
 
        
font-family:">Keraguan akan benar-tidaknya isu perkosaan amoy itu pun diungkapkan sebuah artikel di Asian Wall Street Journal yang berjudul "Some Indonesia Rape Photos on the Internet Are Frauds" ditulis oleh  dua orang reporter Wall Street Journal, Jeremy Wagstaff dan Jay Solomon. Sekarang artikel tersebut sudah tidak didapati, kecuali jika anda mengakses arsip rtikel itu selengkapnya dapat dibaca di situs IHCC : http://reocities.com/capitolhill/4120/false.html.
        Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa Kapolri saat itu, Letjend Roesmanhadi  yang mengancam akan menuntut kelompok hak-hak asasi manusia karena telah menyebarkan berita dan informasi palsu, jika mereka tidak kunjung mampu menyediakan bukti-bukti yang mendukung klaim adanya 168 wanita Tionghoa yang diperkosa.
               Sejumlah photo yang ditunjukkan kelompok HAM itu berasal dari sejumlah media massa asing, seperti koran South China Morning Post di Hongkong bulan Juni 1998 yang menyoroti kondisi etnis Tionghoa Indonesia pasca kerusuhan Mei. Setidaknya ada 15 gambar yang diambil dari sebuah situs pornografi Asia, Sexy Asian Schoolgirls. Demikian yang dinyatakan dalam buku The Bamboo Network, yang mengurai jaringan tersembunyi dibalik isu perkosaan missal tersebut. Sayang, buku itu hanya beredar sekitar 3 bulan, setelahnya hilang begitu saja di pasaran.
               Bahkan saya ingat betul saat itu menjelang magrib melihat di TVRI, almarhum Jaksa Agung Bismar Siregar ketika menanggapi foto-foto perkosaan para amoy yang disodorkan kepadanya, "Masa perkosaan seperti yang sudah siap-siap. Seperti yang menikmati?"
               Menanggapi hal tersebut, budayawan dan rohaniawan yang tergabung dalam kelompok hak asasi manusia dan getol melakukan investigasi, Romo Sandyawan menuduh tersebarnya foto-foto porno itu sebagai upaya mendiskreditkan isu perkosaan massal dan menghentikan investigasi mereka.
               Menyebarnya isu sekaligus foto-foto ini keluar negeri dengan begitu mudah menggambarkan kekuatan komputer dan internet yang sedang tumbuh. Memang terasa pahit, tapi itulah konsekuensi menjadi pecundang di abad informasi. Seperti yang dikatakan Alvin Toffler dalam bukunya The Third Wave (Gelombang Ketiga), revolusi gelombang ketiga yang berupa revolusi teknologi informasi ini memiliki efek penyatuan (unifying effect). Yakni berita mengenai sesuatu dapat dengan cepat disebarkan ke berbagai wilayah sehingga memberi dampak yang meluas.

Masalahnya, menurut sosiolog UI yang juga pengamat internet, Imam B. Prasodjo, dalam dunia riil kerap terjadi ketidaksetaraan penguasaan informasi. Kelompok kuat (dominant group) memiliki akses untuk menyebarkan informasi, sementara kelompok lemah (less dominant group) hanya menjadi obyek. Sehingga kecenderungan terjadi fenomena dominasi dan eksploitasi satu fihak oleh fihak yang lain.

Fakta ini menegaskan bahwa internet - termasuk mailing list (milist), meski masih terbatas penggunanya pada kalangan menengah ke atas, tapi karena yang sedikit itu adalah kelompok dominan, maka peran internet tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.

Mengapa para aktivis HAM itu tidak menyoroti aktivitas Mr. XX yang sibuk menelpon saat kerusuhan di sebuah lokasi di luar Jakarta. Dalam aktivitas telponnya, Mr XX itu selalu berkata, “Bagus, betul begitu. Betul disitu…” Mengapa tidak ada yang memanggil beliau ?

Lalu mengapa tidak ada yang menyoroti pertemuan HJ dengan LO di suatu tempat, dimana HJ meminta LO untuk mengakhiri krisis moneter dan menurunkan nilai dollar, tetapi kemudian LO menolak permintaan HJ.

Mengapa para aktivis HAM itu tidak ada yang menyoroti tipe peluru yang menembus tubuh mahasiswa Trisakti yang bukan standar TNI, karena peluru itu memiliki kemampuan memecah diri jadi tiga begitu menembus target ? (baca : Skenario Martir Dalam Aksi Massa http://hankam.kompasiana.com/2012/07/25/skenario-martir-tumbal-dalam-gerakan-subversif-dan-aksi-massa-473823.html)

Mengapa tidak ada yang menyoroti latihan ala militer oleh sekelompok sipil di gunung Salak sekitar bulan sekitar bulan September-November 1998, menjelang SI (Sidang Istimewa) MPR ?

Isu perkosaan yang didesas-desuskan pelakunya bertakbir sebelum memperkosa, sepertinya di arahkan untuk memancing sentiment sektarian (SARA) dengan pertama : menggelembungkan isu perkosaan gadis/wanita ras tionghoa, dimana di negeri ini masih banyak tersimpan kecemburuan sosial-ekonomi terhadap saudara-saudara dari etnis Tionghoa. Isu ini diharapkan memancing dan membakar rasa kecemburuan itu, dan berhasil. Terbukti dengan adanya rusuh massa pada waktu itu. Kedua : digelembungkan pula bahwa pelakunya adalah muslim dengan harapan akan muncul sentiment anti muslim dan Islam, sehingga apapun yang berbau Islam atau muslim, tidak akan mendapat dukungan atau delegitimasi. Ketiga : saya sulit menerima dengan akal sehat jika TNI/ABRI lah pelaku atau otak kerusuhan Mei 98. Sebagai insitusi yeng memegang doktrin mempertahankan kedaulatan NKRI, mengapa TNI harus mengingkari dan membahayakan dirinya sendiri dengan mengatur kerusuhan rasial seperti itu ? Bukankah dengan merebaknya kerusuhan rasial itu akan menjadi bumerang bagi doktrin dan lembaga TNI itu sendiri?

Hingga hari ini, tidak kunjung jelas siapa korban, dan mengapa mereka tidak kunjung hadir bersaksi? Hanya ada nama Vivian, amoy korban perkosaan yang namanya beredar di internet. Bukan di Komnas HAM, TPGF, maupun Pengadilan.

Saya serahkan kepada Allah yang Maha Mengetahui. Dia-lah Hakim yang Seadil-adilnya.


[i] http://groups.google.com/group/soc.culture.indonesia/

[ii] http://www.polarhome.com/pipermail/marinir/2005-May/000707.html

[iii] http://groups.yahoo.com/group/tionghoa-net/35230

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Heritage Kereta Api, Memadukan Bisnis …

Akhmad Sujadi | | 20 August 2014 | 08:31

Kabar Gembira, Kini KPK Ada TVnya! …

Asri Alfa | | 20 August 2014 | 11:16

Kesadaran Berdaulat Berbuah Ketahanan dan …

Kusuma Wicitra | | 20 August 2014 | 12:38

Saonek Mondi Sebuah Sudut Taman Laut Raja …

Dhanang Dhave | | 20 August 2014 | 12:13

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58


TRENDING ARTICLES

Nikita Willy Memukul KO Julia Perez …

Arief Firhanusa | 6 jam lalu

Kalau Tidak Bisa Legowo, Setidaknya Jangan …

Giri Lumakto | 7 jam lalu

Di Balik Beningnya Kolang-kaling …

Hastira | 8 jam lalu

Menebak Putusan Akhir MK di Judgment Day …

Jusman Dalle | 9 jam lalu

Massa ke MK, Dukungan atau Tekanan Politis? …

Herulono Murtopo | 10 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: