Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ninoy N Karundeng

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya selengkapnya

Mampukah PKS dan LHI Paksa Ahmad Fathanah Jadi Justice Collaborator PKS?

OPINI | 18 May 2013 | 08:39 Dibaca: 1466   Komentar: 20   5

Menarik sekali mengikuti persidangan kasus suap impor daging yang dipimpin oleh Ahmad Fathanah. Lelaki berjenggot tipis tersebut sangat fenomenal karena mampu meluluhlantakkan keindahan dan kekuatan abadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Pemberitaan yang memertontonkan saga dan drama antara KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) - yang dibumbui kehadiran Maharany Suciono pelacur yang terlibat dugaan gratifikasi seks yang diperankan oleh Ahmad Fathanah - jelas menghantam kesalehan PKS yang mendapuk dirinya sebagai partai dakwah PKS - bukan dakwah yang lain.

Kini drama di pengadilan mengarah pada pembuktian apakah Ahmad Fathanah yang mengaku sebagai makelar proyek, pengusaha memang berkaitan dengan para petinggi PKS? Jawabannnya iya. Kenapa? Alasannya justru betapa semua petinggi PKS mencoba menjaga jarak dan membuang Ahmad Fathanah dari pertemanan dengan para elite PKS. Untuk agar publik tahu bahwa Ahmad Fathanah adalah manusia tidak baik - setelah sekian lama bekerjasama, berteman dan bersohib - LHI menyebut bahwa AF pernah dipenjara di Australia.

Juga disebutkan oleh pengacara LHI bahwa AF berhutang miliaran rupiah dengan LHI. Bahkan Ahmad Fathanah yang berteman dengan Saidi Matta - adik mantan Presiden PKS Anis Matta - juga memiliki piutang Rp 50 juta pada Ahmad Fathanah. LHI pun agar mengaburkan bahwa AF tidak baik disebutkan bahwa AF meminta dirinya untuk memerkenalkan dan mendekati Mensos dan Keminfo selain Mentan yang dekat dengan PKS. Namun senyatanya fakta semakin menunjukkan betapa LHI diyakini oleh AF mampu memengaruhi tiga kementerian itu. Upaya pengaburan peran singular kasus impor daging menjadi semakin melebar dang menguatkan peran LHI sendiri sebagai sohib koruptor Ahmad Fathanah.

Bahkan saking ingin membuang peredaran Ahmad Fathanah dari kesan dekat dengan lingkungan PKS, ketua Dewan Syuro PKS Hilmi Aminuddin dan Ridwan yang sebulan lalu bersama anaknya menyatakan tidak kenal dengan Ahmad Fathanah - kasihan sekali membuang silaturahmi - namun fakta dari penyidik KPK menunjukkan Hilmi pernah bertemu di berbagai acara berduaan dengan Ahmad Fathanah. Akhirnya Hilmi mengaku bertemu - tetapi tidak sadar kalau ada Ahmad Fathanah. Berkali bertemu dan difoto oleh penyidik KPK - atau mendapatkan foto dari pendukung KPK seperti badan intelejen dan penggiat anti korupsi - membuat Hilmi tak berkutik.

Pusaran pengaburan kasus impor daging ini jelas tak akan mampu membebaskan LHI dari jerat KPK. Bahkan jika LHI dan PKS tidak kooperatif bukan tidak mungkin kasus ini akan diarahkan oleh KPK ke ranah institusi PKS - dengan jeratan pada para pejabat dan elite PKS. Ingat, PKS bukan satu-satunya partai politik di Indonesia. Kesadaran PKS tentang adanya konspirasi luar partai sebenarnya menunjukkan indikasi adanya bahaya keterlibatan pihak lain yang mendorong pelebaran kasus ini.

Kontra politik dalam arti perlawanan untuk melawan pengaruh dan keinginan memengaruhi situasi tertentu. PKS tampaknya salah dalam melangkah terkait kontra-spionase melawan kontra-spionase hingga menjadikan dirinya masuk ke dalam pusaran kasus lebih dalam lagi. PKS terjebak ketika disodorkan mapping kekuatan dan kelemahan PKS dalam menyikapi kasus LHI. PKS tidak sadar ada namanya partai Golkar, Partai Demokrat yang menjadi gembong korupsi.

Ingat para koruptor tidak juga selalu bersatu - kecuali sesama partai dan bahkan lintas fraksi jika para anggota DPR sudah berteman, dan ini masuk dalam rangkaian pencucian uang rampokan APBN berwujud perusahaan yang jauh dari fraksi sendiri - dan memiliki kepentingan sendiri. Langkah PKS yang menguasai sektor strategis juga menimbulkan kecemburuan Golkar dan Demokrat sebagai dewa korupsi di Indonesia. Dan, PKS yang eksklisif itu lebih senang berjamaah sendiri dalam melakukan korupsi seperti di kementerian sosial dan pertanian - ada kesan penyaluran dan bantuan pupuk dan aneka kebutuhan pertanian dari hulu sampai hilir dikuasai oleh para kader PKS.

Tampaknya PKS terjebak dalam permainan dan mengalami kegagalan dalam mengidentifikasi diri - meskipun berisi para manusia cerdas, pintar, terpelajar dan berpendidikan tinggi meskipun jumud dan taklid - sehingga mengikuti arus. Paling kurang terdapat beberapa hal yang menunjukkan kegagalan PKS dalam mengelola langkah melawan spionase dan konspirasi dari luar PKS.

Pertama PKS menolak dan tidak membenarkan dan membela LHI sebagai maksum dan tak bersalah. Kedua, PKS terjerumus melawan KPK karena PKS merasa besar dan kuat. Ketiga, PKS didukung oleh kader militant yang menjamin kebenaran akan terkuat sebagai kebenaran menurut PKS - PKS lupa yang akan menghukum LHI bukanlah PKS namun KPK yang dilawan oleh PKS.

Secara logika manusia waras, PKS seharusnya lebih tawadhu dan merenungi dengan bertobat nasuha - langkah awal brilian yang disampaikan Anis Matta yang menuai simpati publik namun akhirnya setelah tampak besar. PKS ‘terkompori’ lawan politik dan para musuh PKS menjadi melawan semua yang dianggap musuh sehingga menyebabkan PKS tampak seperti ‘makhluk khusus’ dan makhluk asing. Ini jelas tidak menguntungkan PKS sebagai partai.

Jadi langkah-langkah PKS melawan KPK dan membuang Ahmad Fathanah pada awalnya dan sekarang ada kecenderungan menekan AF untuk memaksa AF sebagai Justice Collaborator bagi PKS justru akan dilihat oleh KPK dan publik sebagai tindakan perlawanan dan tidak taat hukum dan memersulit pemeriksaan oleh hakim. Keadaan ini justru akan kontra produktif bagi upaya pembelaan oleh PKS terhadap kasus ini. Menjadikan AF sebagai Justice Collaborator bagi PKS juga akan bersiko mengingat PKS sendiri menjelek-jelekkan AF dan menuduh AF sebagai pembohong segala.

Taktik taktik kontra tindakan spionase dan perang psikologi mewarnai semua tindakan, langkah dan kebijakan PKS yang justru semakin membelit PKS sebagai institusi. Ini semua berawal dari kesalahan PKS dalam melokalisasi masalah dan ingin 100% menang dan KPK kalah 100%. PKS lupa bahwa bukan hanya PKS yang memiliki kepentingan politik di mata publik, KPK juga perlu imaji dan citra benar dan bersih - dan memang KPK paling kredibel soal korupsi sebagai tukang jagal koruptor hingga jelas kasus sapi yang melibatkan PKS akan dijagal oleh KPK.

Salam bahagia ala saya.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Apa yang Kau Dapat dari Kompasianival 2014 …

Hendi Setiawan | | 22 November 2014 | 22:39

OS Tizen, Anak Kandung Samsung yang Kian …

Giri Lumakto | | 21 November 2014 | 23:54

Inilah Para Peraih Kompasiana Awards 2014! …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 21:30

Obama Juara 3 Dunia Berkicau di Jaring …

Abanggeutanyo | | 22 November 2014 | 02:59

Inilah Pemenang Lomba Aksi bareng Lazismu! …

Kompasiana | | 22 November 2014 | 19:09


TRENDING ARTICLES

Duuuuuh, Jawaban Menteri ini… …

Azis Nizar | 21 November 2014 22:51

Zulkifli Syukur, Siapanya Riedl? …

Fajar Nuryanto | 21 November 2014 22:00

Memotret Wajah Jakarta dengan Lensa Bening …

Tjiptadinata Effend... | 21 November 2014 21:46

Ckck.. Angel Lelga Jadi Wasekjen PPP …

Muslihudin El Hasan... | 21 November 2014 18:13

Tak Berduit, Pemain Bola Indonesia Didepak …

Arief Firhanusa | 21 November 2014 13:06


Subscribe and Follow Kompasiana: