Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Abu Faiz

Pencari Kebenaran

Kepada Saudaraku di PKS

OPINI | 18 May 2013 | 09:43 Dibaca: 746   Komentar: 9   5

Malam ini saya melihat berbagai status yang menyerang orang-orang yang memberitakan rekaman sadapan LHI dan AF, namun mungkin mereka lupa tingkah dan polah mereka sendiri yang banyak mendzalimi muslim lain yang berada di dalam institusi KPK, seolah-olah hanya diri merekalah yang berhak mendapat husnudzon sementara pihak lain diluar kelompok mereka tidak boleh mendapat hak yang sama. mereka merasa terdzalimi karena beberapa ikhwah yang mulai jenuh dan muak dengan perilaku mereka yang menuduh kanan kiri secara sembrono, menebar fitnah tanpa bukti dan fakta.

Bukan sekali dua kali saya ingatkan untuk tidak menebar berita2 yang sesungguhnya adalah bentuk su’udzon dan fitnah kepada muslim yang berada di KPK, serta menunggu persidangan agar melihat fakta dan alat bukti yang dipaparkan dipengadilan, namun perilaku mereka sungguh diluar batas terus menebarkan fitnah, cerita-cerita kibul yakin dan itu terus disebarkan oleh kader-kader mereka.

Namun ketika orang menyuguhkan fakta-fakta dipersidangan yang menohok, mengoyak dan membantah semua cerita dusta mereka, mereka mengatakan orang tersebut berpesta pora atas bukti yang menohok mereka, bahkan tanpa malu-malu berbelok 180 derajat, melakukan rekonstruksi ulang cerita yang dulu mereka bangun, cerita konspirasi ahmad fathonah adalah agen yang hendak membumihanguskan partai mereka, sekarang menjadi pahlawan, ya orang yang mereka lepeh bagaikan kotoran penuh najis dan menjijikkan, sekarang mereka ambil sebagai penyelamat, kata-katanya yang dulu disebut penuh kebohongan disematkan kata tsiqoh terpercaya, rekaman sadapan dikatakan rekayasa, padahal itu adalah bukti yang kuat yang bisa dibuktikan secara ilmiah.

Sadarilah saudaraku apa yang kalian tanam itulah yang kalian petik, masi ada waktu untuk kalian memperbaiki institusi kalian yang dirusak oleh ketamakan elit-elit kalian, sungguh kami mencintai kalian dengan cara yang berbeda, mungkin itu lebih sakit ketimbang pujian yang melenakan kalian, kalian boleh menyebut kami barisan sakit hati, orang-orang yang memiliki jiwa hasad, dan ribuan sebutan menyakitkan lainnya, namun ketahuilah sesungguhnya kalianlah cinta pertama kami, seperti kata para pujangga, cinta pertama tidak pernah hilang, selalu ada romantisme, nostalgia penuh dengan kerinduan, namun ada kalanya cinta memilih jalannya masing masing, dengarlah seruan cinta dari hati kami, kembalilah sebagaimana kami mengenal kalian dalam episode cinta pertama kami …

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Penambang Belerang Kawah Ijen yang …

Mawan Sidarta | | 17 September 2014 | 10:13

Referendum Skotlandia, Aktivis Papua Merdeka …

Wonenuka Sampari | | 17 September 2014 | 13:07

Seni Bengong …

Ken Terate | | 16 September 2014 | 16:16

[Fiksi Fantasi] Keira dan Perjalanan ke …

Granito Ibrahim | | 17 September 2014 | 08:56

Setujukah Anda jika Kementerian Agama …

Kompasiana | | 16 September 2014 | 21:00


TRENDING ARTICLES

Percayalah, Jadi PNS Itu Takdir! …

Muslihudin El Hasan... | 7 jam lalu

Yang Dikritik Cuma Jumlah Menteri dan Jatah …

Gatot Swandito | 7 jam lalu

Sebuah Drama di Akhir Perjalanan Studi …

Hanafi Hanafi | 8 jam lalu

Di Airport, Udah Salah Ngotot …

Ifani | 9 jam lalu

Pak Ridwan! Contoh Family Sunday di Sydney …

Isk_harun | 13 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: