Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Nudinlubis

Saat ini saya hanya seorang anak bangsa

Curhat untuk Para Calon Gubernur Jateng

OPINI | 18 May 2013 | 22:39 Dibaca: 465   Komentar: 5   0

Saya kok sedih rasanya liat tiga kandidat Calon Gubernur Jawa Tengah programnya apa, pandangannya apa ini kok belum jelas semua. Bagaimana tidak sedih, di Jawa Tengah ini saya punya hak pilih. Ada yang satu cuma pamer semboyan “Bali ndeso Mbangun Deso”. Ya sudah begitu saja, isinya apa itu nggak pernah nyampe kaya apa programnya. Pokoknya wong ndeso pada pulang semua ke desanya.

Ada lagi calon Gubernur yang programnya pake kartu-kartu, nah ini saya juga kurang cocok. Selain nanti tetep nggak efektif, program kartu kan cuma akan jadi proyek pengadaan kartu saja. Sudah titik bagi saya sih hanya itu, wong KTP saja kadang-kadang nggak ada gunanya selain fotokopinya.

Ada lagi calon Gubernur yang programnya mau bagi-bagi uang, tiap desa dikasih uang sekian ratus juta. Lha kira-kira buat apa uang cuma ratusan juta, paling buat bikin jalan kampung selesai, ngapain kita punya Gubernur kalo baru bisa buat bikin jalan kampung.

Bapak-bapak calon Gubernur Jateng yang saya hormati, coba kita tengok pendidikan di Jateng, pendidikan yang untuk menyiapkan generasi tenaga kerja. Adakah pendidikan tersebut akan menghasilkan lulusan sekolah kejuruan yang selain menjadi pekerja pabrik di Jadetabek? Coba tengok ke SMK sampai di pelosok desa juga jurusannya otomotif dan komputer, suatu bidang ilmu yang tidak aplikatif pada lingkungan sekitar siswanya sehingga jika mereka tak hidup merantau maka menjadi generasi yang tidak mempunyai keahlian untuk menggarap potensi wilayahnya. Rata-rata kita ini orang tani, Jateng itu sungguh luar biasa dikaruniai tanah yang subur dan air yang melimpah. Masa kita mau bertani yang begitu-begitu saja.

Kita butuh SMK Pertanian, yang bisa menghasilkan tenaga teknis bidang pertanian. Anak-anak petani supaya bisa sekolah disitu GRATIS. Coba pikir saya punya tetangga anak petani sekolahnya STM, jurusannya otomotif, montir bengkel sudah banyak. Masa kita sudah hidup susah, bayar sekolah susah cuma keluar jadi babunya perusahaan otomotif. Andai dia sekolah dan diberi pendidikan tentang industri pertanian, mungkin wawasannya akan terbuka untuk terjun di dunia usaha pertanian dan menggarap lahan orang tuanya.

Coba bayangkan saja, akhir-akhir ini kita banyak diterpa lonjakan harga kebutuhan pokok yang tidak stabil, bulan ini daging nanti bulan depan bawang, harga buah impor mahal, semakin mahal. Jawa ini karunia Tuhan dengan tanahnya yang subur dan air melimpah. Airnya bisa mengalir ke utara dan selatan karena puncak tertinggi pulau ini tepat berada di tengah-tengahnya. Andai petani-petani kita dengan generasi barunya bisa menghasilkan hasil-hasil bumi yang lebih variatif dan berkualitas, tentunya negara ini tak perlu banyak-banyak impor, atau bahkan kita yang ekspor. Tak perlu lagi anak-anak muda Jateng ini harus cari kerja ke Jadetabek untuk jadi buruh pabrik otomotif yang nanti lebaran bermacet-macetan mudik.

Andai bapak-bapak cagub ini punya program ini, bapak cagub akan menuai hasilnya di akhir kepemimpinan menjadi gubernur jateng. Andai berhasil, akan menjadi modal yang sungguh luar biasa sebagai prestasi jika ingin mencalonkan kembali. Ya tentunya tidak cuma sekolah, tapi juga harus didorong investasi ke sektor pertanian. Dengan disiapkannya tenaga kerja yang handal, tentu tidak akan meragukan investor-investor untuk berinvestasi di bidang agrobisnis. Percayalah dasar suatu bangsa dan negara berdaulat itu pangan, bangsa agraris tidak diciptakan daya belinya sehingga konsumtif, tapi bangsa agraris itu bangsa yang mandiri, kuat dan punya nilai jual yang tinggi.

Begitu saja bapak-bapak calon gubernur curhatan saya, besok-besok mungkin saya akan curhat lagi.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Pemangsa Anak-anak Sasar Sekolah-sekolah …

Jonas Suroso | | 24 April 2014 | 01:14

Di Balik Cerita Jam Tangan Panglima …

Zulfikar Akbar | | 24 April 2014 | 01:13

Bapak-Ibu Guru, Ini Lho Tips Menangkap …

Giri Lumakto | | 24 April 2014 | 11:25

Pedagang Racun Tikus Keiling yang Nyentrik …

Gustaaf Kusno | | 24 April 2014 | 10:04

Mengenal Infrastruktur PU Lewat Perpustakaan …

Kompasiana | | 21 April 2014 | 15:12


TRENDING ARTICLES

Demam Masha and Bear, Lagi-lagi Film Animasi …

Heru Andika | 5 jam lalu

Senayan, Panggung Baru Para Artis… …

Iswanto Junior | 7 jam lalu

Nasib Capres ARB (Ical Bakrie) dan Prabowo …

Mania Telo | 8 jam lalu

Provokasi Murahan Negara Tetangga …

Tirta Ramanda | 8 jam lalu

Aceng Fikri Anggota DPD 2014 - 2019 Utusan …

Hendi Setiawan | 9 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: