Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Je

'sangat sedikit yang saya tahu, selebihnya belum tahu dan tidak tahu.

Polemik Lampung Memilih : ‘Pilih Calon Pemimpin bukan Calon Penguasa’

OPINI | 17 May 2013 | 01:05 Dibaca: 230   Komentar: 0   0

Polimik tak berujung, mungkin kalimat ini yang pas untuk menggambarkan situasi politik local di bumi ruwa jurai ini terkait pesta demokrasi rakyat pemilihan umum kepala daerah gubernur Lampung (PILGUB) yang masih menjadi perdebatan urat syaraf para elit (penguasa dan politik) local. Terlebih perang opini antara eksekutif, legeslatif, KPUD dan tokoh partai politik. Dan yang menarik adalah semua mengatas namakan kepentingan rakyat, walau sebenarnya rakyat yang mana juga belum jelas ? karena rakyat sebenarnya terlalu sibuk dengan urusan perut, mahalnya berobat, biaya pendidikan yang tinggi, dan masalah ekonomi keluarga yang semakin mencekik leher rakyat.

Kenapa sich ngak berani jujur? Kalau polimik tak berujung ini demi kepentingan kekuasaan atau kepentingan kelompok tertentu? Eksekutif bilang, “GUE BELUM MAU DIGANTI” atau Legeslatif ngomong “IKAM LAWAK JELAS JATAH NO (kami belum jelas jatahnya) atau KPUD bilang, “INI PROYEK JATAH KAMI”. Sehingga tidak terjadi tarik menarik keyakinan si penguasa (eksekutif) segera mengajukan anggaran pelaksanaannya, si wakil rakyat (legeslatif) membahas dan menyetujuinya, dan si pelaksana (KPUD) benar – benar mempersiapkan segala sesuatunya tanpa tergopoh – gopoh harus 2 Oktober 2013 sambil menunggu gong pusat apakah itu yang menjadi dasar hukumnya RUU Pilkada atau terbitnya Perppu.

Tetapi sebenarnya yang menarik bagi kami sebagai rakyat justru adalah siapa pemimpin kami bukan siapa calon penguasa kami ?! karena jujur sejujurnya kami bingung apalagi dengan istilah para aktifis “HATI – HATI JANGAN PILIH KUCING DALAM KARUNG” sementara kami tidak diberitahu mana KUCING YANG DILUAR KARUNG ?!.

Yang kami tahu ada beberapa bakal calon penguasa yang memakukan gambar mereka dipohon – pohon pinggir jalan yang kami tanam, kenapa NGAK BUAT NUTUP DINDING RUMAH atau ATAP RUMAH KAMI YANG BANYAK BOCOR YA? daripada merusak pohon pelindung di jalan raya yang jelas kurang sedap dipandang mata, wahai bapak ibu yang terhormat. Belum lagi yang membuat kami sebagai rakyat jengkel adalah ditempelnya sticker – sticker gambar orang ngetop dan pengen ngetop itu, tanpa ijin di dinding pagar rumah kami, yang jelas hal tersebut sangat merugikan kami sebagai warga masyarakat dinding ata pagar yang kami cat rapi – rapi jadi rusak karena ditempeli sticker, sehingga kami berpikir praktis (boleh dunk rakyat juga berpikir praktis, jangan hanya para politikus yang bisa berpikir praktis) mau jadi pemimpin koq tidak memberikan contoh teladan yang baik, semisal jangan merusak pohon pinggir jalan untuk menempel banner atau alat peraga sosialisasi lainnya, atau pula ijin pemilik rumah kalau mau menempel sticker gambar sang kandidat dipagar atau dinding rumah reot kami.

Jujur dari obrolan ke obrolan kami di gardu ronda atau pintu masuk Mushola, kami sebagai bagian dari masyarakat Lampung sangat khawatir kalau sampai dipimpin orang – orang yang salah yaitu mereka yang haus kekuasaan, serakah dan tidak peduli nasib rakyat seperti kami ini, wah ngak terbayang nasib kami mbesok, sekarang saja sudah sulit apalagi sampai dipimpin mereka yang lalim bisa-bisa mati berdiri kami ini.

Kegelisahan kami bukan tidak berdasar, karena kami ingin memiliki pemimpin bukan penguasa, yang benar-benar mampu membawa perubahan yang lebih baik bagi kami, jangan sampai kami dihadapkan pada pilihan yang tidak ada pilihan bagi kami sebagai masyarakat Lampung yaitu dipaksakan untuk memilih 3 (tiga) kelompok calon penguasa diantaranya KELOMPOK SERAKAH, KELOMPOK TAK TAHU DIRI dan KELOMPOK TAK TAHU MALU.

Siapakah kelompok tersebut? Yang pertama KELOMPOK SERAKAH adalah mereka yang haus kekuasaan termasuk didalamnya mereka – mereka yang masih berkuasa baik sebagai pejabat sipil maupun militer yang tugas dan tanggung jawab mereka untuk melayani masyarakat saja belum selesai bahkan belum membuahkan hasil yang maksimal sudah bernafsu menjadi pemimpin yang lebih besar lagi, apalagi sampai memproklamirkan diri mereka yang menyatakan mereka siap maju sebagai calon Gubernur Lampung karena diminta rakyat. EMANG PERNAH RAKYAT BENAR – BENAR MEMINTA DEMIKIAN? Itu kan kata mereka !.

Kelompok yang ke-dua KELOMPOK TAK TAHU DIRI adalah mereka yang karena usia sudah semakin lanjut dan tidak produktif lagi, maka mereka masuk ke dalam masa pensiun atau paripurna, artinya mereka sudah semestinya segera bercermin diri jangan lagi berambisi untuk menjadi penguasa dunia, melainkan lebih banyak menyediakan waktunya guna berkumpul dengan anak cucu mereka atau memperbanyak ibadah sebagai persiapan menghadapi kehidupan akherat, boleh lah mereka memproklamirkan diri ingin mengabdi sampai mati untuk rakyat dan bangsa ini, tetapi kan banyak cara lain untuk mengabdi tidak mesti harus jadi Gubernur kale… ??! kalau bentuk pengabdian harus jadi Gubernur, berarti 7 juta lebih masyarakat Lampung belum ada yang mengabdi dunk ?! ada – ada aja statement orang – orang mulai pikun ini.

Kelompok yang terakhir atau yang ke tiga KELOMPOK TAK TAHU MALU, yang masuk kedalam kelompok ini adalah mereka yang tak jera – jera alias pantang menyerah yaitu sudah berulang kali mencalonkan diri sebagi calon penguasa baik eksekutif maupun legeslatif tetapi kalah terus. Ngak tahu apakah karena sudah garis tangan atau memang tidak dipilih rakyat, semestinya sadar diri atau paling tidak introspeksi dirilah bahasa elitnya. Lebih baik semangat pantang menyerahnya dialihkan kebentuk pengabdian yang lainnya, semisal menjadi donatur kemanusiaan atau keagamaan, pasti lebih membawa manfaat bagi orang banyak.

Dari opini jalanan diatas semoga calon – calon pemimpin bumi ruwa jurai ini tidak ada yang masuk kedalam 3 (tiga) kelompok diatas, sehingga masyarakat Lampung benar – benar bisa memilih pemimpin yang amanah dan mampu membuat perubahan yang lebih baik bagi masyarakat Lampung bukan perubahan pada diri dan kelompoknya saja. Selain itu kami sebagai rakyat atau calon pemilih benar – benar bias memilih KUCING DILUAR KARUNG yaitu MEMILIH PEMIMPIN BUKAN PENGUASA !

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Pengalaman Jadi Pengamen Pada 1968 – 2013 …

Mas Ukik | | 23 April 2014 | 21:14

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 17 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 19 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 20 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 21 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 22 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: