Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Tengku Bintang

Pencak silat, binatang buas. biola.

Para Pembenci PKS Mulai Diserang Penyakit Gatal-gatal

OPINI | 17 May 2013 | 00:06 Dibaca: 5478   Komentar: 93   12

Bukan sulap bukan sihir, boleh percaya boleh juga tidak. Kemarin sore seorang tetangga saya yang sangat membenci PKS terpaksa digotong ke rumahsakit karena sesak nafas. Apa pasal? Rupanya ia terlalu percaya pada pemberitaan televisi tentang isu suap daging sapi sehingga emosinya memuncak. Akibatnya ia semakin kuat merokok. Ketika rokok putih kebiasaannya habis, tembakau linting pun dilibasnya juga. Akhirnya sesak nafas, dadanya berbunyi setiap menarik nafas, dan kalau ia bicara suaranya seperti bebek. Untung bukan serangan jantung!

Di tempat lain, dua orang kenalanku yang juga blogger lumutan mulai diserang gatal-gatal. Setiap hari menulis di blognya, silang-menyilang soal PKS, makin banyak ia bicara makin banyak orang tak percaya. Lagaknya seperti politisi cap macan tetapi kerjanya cuma memelototi komputer. Rambutnya mulai awut-awutan, jarang sikat gigi, badannya mulai berbau. Sejak kasus daging meruyap, rupanya ia mandi hanya sekali dalam tiga hari. Pantaslah kulitnya mulai ditumbuhi jamur dan mengidap gatal-gatal!

Di tempat lain mungkin situasinya lain lagi. Lihat pula di televisi pada acara ILC, perbedaan raut wajah Fahri Hamzah dan Johan Budi. Ketika Fahri Hamzah mampu bicara lepas, wajahnya cerah, kadang-kadang tertawa dan berbisik kepada teman di sebelahnya. Sementara Johan Budi tampak tegang, tertekan, dan maaf…., gerakan bola matanya menyerupai orang sakit migren.

Padahal, kita para simpatisan PKS ini biasa saja. Makan, mandi, bercengkerama biasa saja. Anda benci atau bersimpati kepada PKS tak ada bedanya. Yang penting, sebarkan kedamaian dimana pun berada. Tegakkan hukum, langit takkan runtuh, karena dengan tegaknya hukum itulah kita meyakini kedamaian dapat dicapai. Jangan ada rekayasa hukum, jangan ada politisasi. Kalau salah nyatakan salah, kalau benar nyatakan benar. Siapa pun pelakunya, semua sama di depan hukum!

KPK itu adalah lembaga negara milik seluruh Bangsa Indonesia. Satu-satunya tumpuan harapan untuk memberantas korupsi. Jika Lembaga KPK adalah milik negara, maka Johan Budi adalah milik anak-isterinya, yang kebetulan diberi amanat ikut menjalankan UU Tipikor. Jika Lembaga KPK tak pernah bersalah, maka komisionernya tak luput dari khilaf dan nafsu duniawi. Jika mereka melakukan kekhilafan, mesti diingatkan. Jika melakukan pelanggaran hukum, mereka pun tak luput dari sanksi hukum. Itu harus kita tanamkan. Itulah tandanya kita mencintai Lembaga KPK, dengan cinta yang sebenarnya.

Salam damai Bhinneka Tunggal Ika

*****

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Taman Balekambang, Bukti Cinta Orangtua …

Agoeng Widodo | | 30 September 2014 | 15:39

Gedung DPR Dijual …

Hendra Budiman | | 30 September 2014 | 11:55

Bahkan Macan Asia pun Butuh Demokrasi …

Yudhi Hertanto | | 30 September 2014 | 12:16

Langkah Kecil, Meninggalkan Jejak yang …

Ngesti Setyo Moerni | | 30 September 2014 | 15:07

Kamukah Pemenang Sun Life Syariah Blog …

Kompasiana | | 29 September 2014 | 09:44


TRENDING ARTICLES

UU Pilkada, Ahok dan Paham Minoritas …

Edi Tempos | 8 jam lalu

People Power Menolak Penghapusan Pilihan …

Daniel Setiawan | 8 jam lalu

Hobi Berbahaya Anak Muda di Saudi …

Umm Mariam | 9 jam lalu

Inilah Cara SBY Membatalkan UU Pilkada …

Rullysyah | 10 jam lalu

Pembantu yang Berani Mimpi Jadi Big Bos …

Seneng Utami | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Kisah Senja …

Angger Christina | 7 jam lalu

Serial Bunny si Kelinci Mungil: “Jujur …

Siti Nurhardianti | 7 jam lalu

Kisah Seorang Pedagang Sayur Naik Haji …

Imam Adryan | 8 jam lalu

Penjahat dan Rumput Liar …

Betty Tiominar | 8 jam lalu

Sejarah Tafsir dan Perkembangannya …

Khoiruz Zadit Taqwa | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: