Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Yeremias Jena

Anak daerah yang bekerja sebagai guru di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta.

Surat Protes Prof Magnis kepada ACF yang Akan Memberikan Penghargaan World Statesman Award Kepada Presiden SBY

REP | 16 May 2013 | 14:32 Dibaca: 1205   Komentar: 9   2

Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ, guru besar filsafat dari STF Driyarkara Jakarta (Sumber foto: http://www.reformed-crs.org/pic/content_232_romomagnis_ok.jpg)

Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ, guru besar filsafat dari STF Driyarkara Jakarta (Sumber foto: http://www.reformed-crs.org/pic/content_232_romomagnis_ok.jpg)

Pada akhir Mei ini, sebuah organisasi yang mempromosikan perdamaian, demokrasi, toleransi, dan dialog antar kepercayaan yang berbasis di New York, Amerika Serikat, Appeal of Conscience Foundation (ACF), akan memberikan penghargaan negarawan dunia 2013 atau ‘World Statesman Award’ kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Berikut surat protes Franz Magnis-Suseno yang ditujukan kepada ACF di surel: http://meditativestate.wordpress.com/2013/05/16/open-letter-of-franz-magnis-suseno-to-the-acf/

————————————————————————————————————————————-

Ladies and Gentlemen of the Appeal of Conscience Foundation (ACF),

I am a Catholic Priest and professor of philosophy in Jakarta. In Indonesia we learnt that you are going to bestow this year’s World Stateman Award to our President Susilo Bambang Yudhoyono because of his merits regarding religious tolerance. This is a shame, a shame for you. It discredits any claim you might make as a an institution with moral intentions.

How can you take such a decision without asking concerned people in Indonesia? Hopefully you have not made this decission in response to prodding by people of our Government or of the entourage of the President.

Do you not know about the growing difficulties of Christians to get permits for opening places of prayer, about the growing number of forced closures of churches, about the growth of regulations that make worshipping for minorities more difficult, thus about growing intolerance on the grassroot level? And particularly, have you never heard about the shameful and quite dangerous attitudes of hardline religious groups towards so called deviant teachings, meaning members of the Achmadiyah and the Shia communities, and the government of Susilo Bambang Yudhoyono just doing nothing and saying nothing to protect them? Hundreds of their people have under Susilo Bambang Yudhoyono’s presidentship been driven out of their houses, they still live miserably in places like sports halls, there have allready Achmadis and Shia people been killed (so that the question arises whether Indonesia will deteriorate to conditions like Pakistan dan Iran [favor of President G. W. Bush] where every months hundreds of Shia people are being killed because of religious motivations)?

Do you not know that President Susilo Bambang Yudhoyono during his up to now 8 1/2 years in office has not a single time said something to the Indonesian people, that they should respect their minorities? That he has shamefully avoided responsibility regarding growing violence towards Achmadiyah and Shia people.

Again, whom did you ask for information before making you award choice? What could be your motivation to bestow upon this President a reward for religious tolerance who so obviously lacks any courage to do his duty protecting minorities?

I have to add that I am not a radical, not even a “human right extremist” (if such exist). I am just appaled about so much hypocrisy. You are playing in the hands of those – still few – radicals that want to purify Indonesia of all what they regard as heresies and heathen.

Franz Magnis-Suseno SJ

————————————————————————————————————————————-

VERSI BAHASA INDONESIA (Terjemahan Yeremias Jena)

Yang terhormat Bapak dan Ibu dari The Appeal of Conscience Foundation (ACF),

Saya seorang Imam Katolik dan profesor filsafat di Jakarta. Di Indonesia kami diberitahu bahwa Anda akan memberikan World Stateman Award (Penghargaan Negarawan Dunia) tahun ini kepada Presiden kami, Susilo Bambang Yudhoyono, karena jasanya memajukan toleransi beragama. Ini hal yang memalukan, memalukan bagi Anda. Ini akan mendiskreditkan klaim apapun yang mungkin akan Anda buat sebagai institusi dengan niat moral.

Bagaimana mungkin Anda mengambil keputusan ini tanpa sedikit pun bertanya kepada orang-orang terkait di Indonesia? Kami berharap semoga saja Anda tidak membuat keputusan ini sebagai tanggapan Anda terhadap dorongan orang-orang dari pemerintah kami atau dari kalangan kepresidenan.

Apakah Anda tidak tahu tentang semakin sulitnya orang-orang Kristen mendapatkan izin mendirikan rumah ibadah, tentang semakin meningkatnya penutupan gereja-gereja, tentang semakin bertambahnya peraturan-peraturan yang membuat kegiatan ibadah bagi kaum minoritas menjadi lebih sulit, dan itu menyangkut semakin banyaknya perilaku tidak toleran pada tingkat akar rumput? Dan khususnya, apakah Anda memang tidak pernah mendengar tentang sikap yang memalukan dan cukup berbahaya dari kelompok-kelompok keagamaan garis keras terhadap apa yang mereka sebut sebagai ajaran sesat, dalam hal ini adalah komunitas Ahmadiyah dan Shia, dan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono tidak mengambil tindakan apa pun dan tidak mengatakan apa pun untuk melindungi mereka? Ratusan orang-orang mereka di bawah kepemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono telah terusir dari rumah-rumah mereka, mereka masih hidup secara sangat menyedihkan di tempat-tempat seperti lapangan olahraga, juga sudah ada orang-orang Ahmadiah dan Shia yang terbunuh (sehingga pertanyaannya adalah apakah Indonesia akan mengalami kemunduran ke keadaan seperti Pakistan dan Iran [yang didukung oleh Presiden G.W. Bush] di mana setiap bulannya ada ratusan orang Shia yang terbunuh karena alasan-alasan agama?

Apakah Anda tidak tahu bahwa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selama 8 ½ tahun masa pemerintahannya hingga sekarang tidak pernah sekalipun mengatakan sekata pun kepada orang Indonesia, bahwa mereka harus menghormati kaum minoritas? Bahwa dia secara memalukan menghindari tanggung jawab terkait dengan semakin meningkatnya kekerasan terhadap kelompok Ahmadiyah dan Shiah?

Sekali lagi, siapakah orang-orang yang Anda mintai pendapat sebelum Anda memutuskan memberikan penghargaan itu? Apa yang sesungguhnya menjadi motivasi Anda untuk memberikan penghargaan bagi toleransi agama yang sangat terang benderang tidak memiliki keberanian untuk melakukan kewajibannya dalam melindungi kaum minoritas?

Saya harus menambahkan bahwa saya bukanlah seorang yang radikal, bahkan bukan seorang “ekstriminis hak asasi manusia” (jika istilah itu ada). Saya hanya menyerukan tentang begitu banyaknya kemunafikan. Anda sedang bermain di tangan kaum – meskipun sedikit orang – radikal yang ingin memurnikan Indonesia dari semua hal yang mereka anggap sebagai sesat dan kafir.

Franz Magnis-Suseno SJ

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sukses sebagai Pengusaha Telur Asin …

Tjiptadinata Effend... | | 21 December 2014 | 11:54

Cegah Lintah Darat Merajalela dengan GNNT …

Agung Soni | | 21 December 2014 | 11:16

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

[Langit Terbelah Dua] Pohon Malaikat …

Loganue Saputra Jr ... | | 21 December 2014 | 16:39

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Campur Tangan Joko Widodo dalam Konflik di …

Imam Kodri | 11 jam lalu

Di Kupang, Ibu Negara yang Tetap Modis namun …

Mba Adhe Retno Hudo... | 12 jam lalu

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 16 jam lalu

Lebih Baik Pernyataan Dwi Estiningsih …

Hendi Setiawan | 16 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 16 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: