Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Adi Andriana

menulis untuk menulis

Pemeriksaan Ketua Dewan Syura PKS, Menghancurkan PKS?

OPINI | 15 May 2013 | 10:25 Dibaca: 471   Komentar: 6   3

Pemanggilan dan pemeriksaan yang dilakukan oleh KPK atas ketua Dewan Syuro; Hilmi Aminudin, juga Anis Matta selaku presiden PKS, dimana Hilmi Aminudin sebagai saksi bagi LHI dan Anis Matta sebagai saksi atas Ahmad Fathanah.

Publik mungkin akan menilai, bahwa pemanggilan itu adalah tusukan di jantung PKS, sebab kedudukan Ust Hilmi tidak sebatas kedudukan struktur di partai, akan tetapi ia adalah guru bagi kader-kader PKS.

Seorang guru adalah orang yang mencintai anak didiknya, dedikasinya besar dalam mengembangkan murid-muridnya, terbukti Ust Hilmi Aminudin telah berkiprah dalam jamaah tarbiyah sejak tahun 80, ketika gerakan itu masih embrio.

Sehingga penghormatan kader-kader PKS terhadap Ust Hilmi begitu besar, hubungan kader-kader denganya adalah hubungan cinta, ukhuwah dan hormat, karena ia telah mengajarkan arti dan bagaimana memandang kehidupan bagi banyak kader.

Padahal jantung PKS bukan terletak pada figure, akan tetapi pada kader-kadernya, dan Ust Hilmi adalah symbol PKS, maka di satu sisi anggapan itu benar tapi di sisi lain salah; bahwa Ust Hilmi adalah symbol yang sangat dihormati akan tetapi jantungnya terletak pada kader-kadernya.

Penyematan symbol itupun, khusus dialamatkan kepada beliau, tapi secara umum kepada para pendahulu PKS yang telah lama berkiprah di gerakan tarbiyah ini, yang tersusun pada majlis Syuro, mereka adalah para sesepuh PKS, bukan godfather, maka laiknya sesepuh di semua tempat yang selalu dihormati dan dicintai, pun demikian kader-kader PKS terhadap para pendahulu PKS.

Maka ketika ada yang mengatakan bahwa pemeriksaan ust Hilmi adalah demoralisasi kader, sebenarnya pendapat itu kurang tepat, sebab walau kader-kader sangat mencintai para sesepuhnya, tapi ikatan kader dengan para sesepuh adalah ikatan ideology, tidak ada kultus individu.

Dan ketika ada yang menganggap pemeriksaan itu akan menggoyahkan kader-kader PKS, atau bahkan kasus yang tengah melanda elit PKS saat ini akan membuat hancur PKS, dimana PKS akan ditinggalkan kader-kadernya, anggapan itu salah besar, PKS mungkin akan ditinggalkan oleh swing voter,

Tapi tidak akan ditinggalkan oleh para kadernya, PKS bukanlah partai yang bertumpu pada figure, walau kecintaan pada figure kuat, tapi PKS adalah partai kader, yang diikat oleh ideology dan dibesarkan oleh ideology itu.

Itulah sebab kenapa, setelah penangkapan LHI kader PKS tetap solid, bahkan mampu bekerja dan berperan dalam kemenagan pilgub jabar dan sumut, dan kerja-kerja itu dilakukan oleh para kader, yang tidak tampak oleh mata komentator, atau bahkan oleh mata pengamat.

Di sisi lain, sebagian orang di luar PKS menganggap yang dimaksud ajaran itu adalah brain wash, padahal tidak ada yang pernah masuk dan mendengarkan ceramah-ceramahnya secara langsung, sehingga tidak heran jika kader-kader PKS melihat anggapan itu hanya asumsi belaka, jauh panggang dari api.

karena kenyataanya yang dipelajari dan diajarkan oleh para guru itu, di tingkat terendah hingga teratas, secara garis besar hanyalah berkisar pengenalan Allah, Rasul, Al-Quran, islam, hakikat manusia, dakwah dan keumatan, itu saja.

Dan di tubuh PKS, selain para sesepuh, orang yang berkompeten untuk mengajarkan hal-hal itu jumlahnya banyak, dan dari latar belakang pendidikan agama yang beragam dan dari beragam universitas, dan ketika yang mereka ajarkan sama, artinya apa yang diajarkan di universitas-universitas itu tidak jauh berbeda dengan apa yang diajarkan di tubuh PKS.

Sebab ketika berbeda, pasti aka nada pertentangan dan perbedaan, bukan persamaan, maka pada titik inilah anggapan brain wash itu tidak relevan, tapi ketika masih keukeuh ada brain wash, itu artinya universitas-universitas besar islam di beragam negri itu telah mengajarkan brain wash juga, sebab sama apa yang diajarkan di tubuh PKS dengan apa yang diajarkan di universitas-universitas itu.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Hasil SPP2013: Nasib Petani Tanaman Pangan …

Kadir Ruslan | | 24 July 2014 | 05:48

Topan Lain Akan Memasuki Filipina (Topan …

Enny Soepardjono | | 24 July 2014 | 08:53

Muda Kaya dan Bahagia …

Radixx Nugraha | | 24 July 2014 | 03:25

Dunia Prostitusi ‘De Wallen’ …

Christie Damayanti | | 24 July 2014 | 11:40

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Sengketa Pilpres 2014 Akhirnya Berujung di …

Mawalu | 9 jam lalu

Inilah Salah Satu Warisan Terbaik Pak Beye …

Raisa Atmadja | 10 jam lalu

Timnas U-19 Batal Tampil di Spanyol …

Achmad Suwefi | 12 jam lalu

Akhirnya Prabowo-Hatta Melangkah ke MK …

Bang Pilot | 17 jam lalu

Jokowi “Penyebar Virus” kepada …

Hendrik Riyanto | 18 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: