Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ninoy N Karundeng

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya selengkapnya

KPK Vs PKS: Tukang Jagal Lawan Sapi dan Langkah Blunder PKS Polisikan Johan Budi

HL | 14 May 2013 | 23:12 Dibaca: 3630   Komentar: 83   18

1368562191526124328

Ilustrasi/Admin (Kompas.com)

Babak baru perseteruan antara KPK melawan PKS yang terinspirasi Cicak lawan Buaya sungguh indah untuk diamati. Awal perseteruan antara KPK dengan PKS adalah adanya deal tentang KPK tidak membawa soal gratifikasi seks ke dalam pembuktian kasus Ahmad Fathanah dan Luthfi Hasan Ishaaq. KPK telah konsisten dengan deal tersebut yakni melepaskan semua perempuan yang terkait dengan Ahmad Fathanah tanpa adanya indikasi KPK akan menyidik soal gratifikasi seks - untuk itu dalam dua bulan pertama kasus tersebut hanya Maharany Suciono yang terlihat dan terekspos ke publik karena KPK komit dengan deal tersebut. Namun, tingkah laku PKS yang ingin 100% win dalam kasus KPK yang baik hati mengakibatkan KPK berbalik arah.

Pengacara PKS alias Luthfi Hasan Ishaaq merasa menang dengan mengatakan duit Rp 1 miliar belum sampai ke tangan LHI - ingat M. Assegaf mengatakan BELUM sampai. Fakta adanya rekaman pembicaraan dan pertemuan di medan dengan PT Indoguna dengan LHI, Suswono dan jelas cecunguk Ahmad Fathanah membuktikan bahwa AF dan LHI saling terkait. KPK yang merasa akan dikadali PKS lalu melakukan pengembangan dengan penerapan pasal TPPU (tindak pidana pencucian uang).

Terakhir hari ini pengacara LHI, menyatakan Ahmad Fathanah punya hutang miliaran rupiah kepada LHI. Ini dagelan paling asyik meniru Saidi Matta yang mempunyai piutang kepada Ahmad Fathanah. LHI dan pengacaranya membuat alibi terkait aliran dana dari Ahmad Fathanah akan disebut sebagai pembayaran hutang AF kepada LHI. Sungguh scenario mantap menurut PKS dan pengacara. Namun publik telanjur percaya bahwa upaya all-out PKS membela LHI justru secara psikologis menunjukkan bahwa PKS dan LHI memang bersalah.

PKS meradang karena asset LHI - yang jelas akan menyeret PKS jelas banyak dari dana yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Terbukti KPK menyita 3 rumah mewah di Condet dan Batu Ampar serta di Pasar Minggu selain mobil-mobil yang ada di DPP PKS yang sudah diatasnamakan orang lain namun digunakan oleh DPP PKS - sama halnya dengan rumah yang diatasnamakan Ahmad Zaky.

Nah, dari mobil yang akan disita yang telah diatasnamakan orang lain - dengan bukti pengalihan nama dari LHI atau orang dekat LHI ke tangan kedua atau ketiga - KPK akan menyitanya. Kejanggalan terjadi karena untuk apa mobil-mobil atas nama orang yang tidak jelas dipakai oleh DPP PKS untuk kendaraan operasional. Yang lebih aneh lagi mobil-mobil tersebut terkait dengan LHI. PKS jelas akan melindungi diri dengan tidak membiarkan masalah LHI dan Ahmad Fathanah melebar ke mana-mana.

Maka ketika penyitaan mobil akan dilakukan PKS dengan gagah berani melawan KPK dengan menghalang-halangi upaya penyitaan. PKS sangka tindakan ini akan mendapat dukungan publik. Nyatanya PKS semakin dinilai tidak taat hukum dan all-out melindungi LHI benar atau salah tak peduli. Dugaan PKS salah besar. PKS justru terjebak dan akhirnya pun akan menyerahkan asset LHI untuk disita KPK. Selesai? Belum.

PKS yang merasa menang dan benar melawan KPK, mencoba melawan lewat media dan mencoba mengecoh dan membelokkan kasus LHI dan Ahmad Fathanah dan Suswono serta kemungkinan kejahatan korporasi PKS terlibat, dengan langkah melaporkan Juru Bicara KPK Johan Budi terkait masalah penyitaan. PKS lupa bahwa KPK telah melalui prosedur. Pun KPK juga bisa menuntuk balik bahkan melakukan tindakan represif terhadap para kader PKS yang menghalangi eksekusi penyitaan. Namun KPK tidak melakukannya karena tidak ingin membuat permasalahan semakin meruncing.

Akan tetapi sikap KPK ini dinilai sebagai kelemahan oleh PKS. Maka dengan gagah berani PKS melaporkan Johan Budi ke polisi. PKS lupa bahwa sebagian besar penyidik KPK adalah para polisi. Selain itu PKS harus ingat, dua kali kasus perseteruan Cicak Vs Buaya dan Cicak Vs Polri, tetap cicak yang menang karena dukungan rakyat yang luar biasa. KPK masih dilihat sebagai lembaga paling bersih di antara semua lembaga negara di Indonesia. Maka perseteruan antara KPK vs PKS yang dapat diibaratkan perang antara Tukang Jagal (KPK) melawan Sapi untuk analogi Cicak Vs Buaya diganti dengan Tukang Jagal melawan Sapi. Kini sapi (KPK) tengah melawan Tukang Jagal. Siapakah yang akan menang?

Salam bahagia ala saya.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ketika Keluarga Indonesia Merayakan …

Zulham | | 28 November 2014 | 11:19

Ahok, Kang Emil, Mas Ganjar, dan Para …

Dean | | 28 November 2014 | 06:03

Ditangkapnya Nelayan Asing Bukti Prestasi …

Felix | | 28 November 2014 | 00:44

Kay Pang Petak Sembilan …

Dhanang Dhave | | 28 November 2014 | 09:35

Ikuti Blog Competition ”Warna Warni Indah …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 10:50



HIGHLIGHT

Edisi Khusus: Kompas 100 Halaman Dalam …

Tubagus Encep | 8 jam lalu

Pemuda Papua Unjuk Kreativitas Seni ‘Papua …

Viktor Krenak | 8 jam lalu

Pembuktian Slogan Aku Cinta Indonesia …

Lukman Salendra | 8 jam lalu

Prosedur Sidang SIM di PN …

Kambing Banci | 8 jam lalu

Penundaan Revisi UU MD3 dan Kisruh Golkar …

Palti Hutabarat | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: