Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Mohammad Vitrho

Mahasiswa Ekonomi Islam, Universitas Airlangga. Pengusaha Beras Semi Organik www.mohammadvitrho.blogspot.com Twitter: @MVitrho

Komentar Rakyat Bodoh terhadap PKS vs KPK

OPINI | 15 May 2013 | 11:46 Dibaca: 1038   Komentar: 7   1

Hingga hari ini, topik yang jadi perbincangan top-markotop di berbagai media adalah percekcokan antara PKS dengan KPK. Saya pribadi sebagai rakyat bodoh yang bukan pakar hukum, bukan pakar politik, apalagi negarawan merasa mendapat hiburan baru dari situasi ini.  PKS yang notabene partai Islam, dikenal bersih, dan merupakan kumpulan dari para Ustadz dan da’i akhirnya tersangkut juga dalam pusaran kasus Korupsi. Yang bikin kami sebagai rakyat bodoh merasa terhibur adalah banyaknya hal-hal yang memang menghibur dalam kasus ini.

Yang pertama adalah hadirnya para wanita cantik yang menghiasi kasus ini. Sebagai rakyat bodoh, kita tidak mau tahu lebih lanjut apakah ini wanita memang benar-benar termasuk aktor dari permainan daging sapi atau tidak tapi yang jelas, mereka sudah cukup menghibur kami dengan paras mereka yang ayu dan rupawan.

Yang kedua, lucu sekali rasanya melihat beberapa kader PKS yang tampil di layar kaca kemudian berkomentar dan berusaha membela diri. Kita sebagai rakyat bodoh sih sangat terhibur karena tingkah mereka. KPK yang selama ini di mata kami rakyat bodoh merupakan satu-satunya lembaga yang berhasil membuktikan secara nyata perlawanan terhadap korupsi ternyata malah berusaha dilawan oleh PKS. Pakai mengadu ke polisi segala. Hal ini yang membuat kami terpingkal-pingkal. Kalau memang bersih, tidak terlibat korupsi, dan mendukung penuh pemberantasan korupsi mengapa sampai mengadu ke polisi?

Yang ketiga, komentar-komentar dari para kompetitor PKS juga tak kalah lucu. Ini ditunjukkan oleh Sutan Batoegana yang di beberapa media menyebut bahwa PKS sedang galau. Belum lagi komentar sinisnya dalam acara Indonesia Lawyers Club semalam yang mengatakan bahwa Demokrat yang sudah menjadi “pasien” ILC selama 2 tahun santai-santai aja dan tidak pernah menyebut nama partai lain, sementara PKS yang baru saja menjadi pasien terkesan menggebu-gebu, tidak terima, dan menyelipkan partai demokrat dalam beberapa statementnya.

Tapi yang perlu diingat, kami rakyat bodoh adalah mayoritas di Indonesia dan bukan berarti ketika kami terhibur otomatis akan memberi simpati kepada PKS. PKS harus berbenah jika ingin mendapat simpati dan suara kami. Dalam beberapa komentar, kader PKS menyebut bahwa PKS tidak mengejar menang atau kalah. Tapi apa benar-benar sama sekali tidak mau suara kami? Munafik kalau mengatakan tidak mau! :)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Sukses sebagai Pengusaha Telur Asin …

Tjiptadinata Effend... | | 21 December 2014 | 11:54

Cegah Lintah Darat Merajalela dengan GNNT …

Agung Soni | | 21 December 2014 | 11:16

Rahasia Keberhasilan Pariwisata: Jangan …

Jimmy Haryanto | | 21 December 2014 | 08:18

[Langit Terbelah Dua] Pohon Malaikat …

Loganue Saputra Jr ... | | 21 December 2014 | 16:39

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24


TRENDING ARTICLES

Campur Tangan Joko Widodo dalam Konflik di …

Imam Kodri | 7 jam lalu

Di Kupang, Ibu Negara yang Tetap Modis namun …

Mba Adhe Retno Hudo... | 8 jam lalu

Lain Fahri Hamzah, Lain Pula Fadli Zon …

Ajinatha | 12 jam lalu

Lebih Baik Pernyataan Dwi Estiningsih …

Hendi Setiawan | 12 jam lalu

Beda Fahri Hamzah, Fadli Zon, Setya Novanto …

Ninoy N Karundeng | 12 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: