Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ahudan

Melukis hidup... membincang peradaban. Ini hidupku tak kusia siakan

Fahri Hamzah Wajihah Guard from PKS

OPINI | 15 May 2013 | 09:56 Dibaca: 1002   Komentar: 27   1

1368586335548493377

Awalnya saya mengetahui sosok fahri hamzah melalui sejumlah media cetak dan tulis. Tidak ada simpati sedikitpun padanya ketika mengetahui bahwa ide ide yang disampaikannya begitu Kontroversial. Kontroversialnya seorang fahri hamzah akan sangat kentara sekali dengan ide dan cara cara penyampaiannya yang begitu KERAS. Pemahaman mengenai fahri hamzah yang seperti ini berlanjut dan bertambah kental khususnya setelah melihat sebuah acara di TV swasta pada waktu itu, dimana terjadi kasus ketidak sefahaman antara DPR komisi III dengan KPK. Tepatnya ketika komisi III hendak membesuk seorang oknum yang ditangkap KPK namun ditolak kunjungannya tersebut. Sehingga hal ini diluapkan oleh Fahri Hamzah di Media dengan kata kata keras kepada Johan Budi. Kata kata yang terngiang di telinga saya adalah………  BUNG !!!. Penggunaan kata kata bung dengan intonasi yang agak keras di pahami oleh saya adalah kata kata tantangan & bentuk penghinaan.

Semenjak saat itulah terbentuknya pemahaman bahwa pribadi Fahri hamzah sebagai pribadi yang keras dan meninggalkan aspek aspek etika yang seharusnya dipegang oleh seorang Da’i. Sebagai seorang mantan aktivis pergerakan yang pernah mencicipi jabatan presiden BEM, saya memahami apa yang dilakukan oleh Bung Fahri ini sebagai karakter yang memang harus dimiliki oleh aktivis. Bahkan menurut pandangan saya tidak pantas bila seorang aktivis yang sering turun ke jalan itu menampilkan pribadi yang letoi, lemah lembut dan sebagainya. Aktivis itu adalah seorang yang lantang berbicara tegas & keras dalam rangka mengkoordinir pasukannya di jalan agar disiplin, sekaligus menyemangati & menggelorakan peserta aksi di jalan. Namun seyogyanya karakter tersebut sudah harus berganti ketika, kita turun menjadi warga di masyarakat. Karena atmosfir di masyarakat itu berbeda dengan kondisi di aktivis. Atmosfir di masyarakat yang saya ketahui pada lingkungan jawa adalah budaya menghormati dan berbicara santun. Itulah mungkin sebabnya dakwah walisongo meninggalkan kesan yang mendalam pada masyarakat jawa. Bagaimanakah mungkin seorang pendatang dari negeri  lain, busananya lain, bahasa yang digunakan lain, adat istiadatnya lain namun mempunyai pengaruh yang kuat pada masyarakat jawa pada waktu itu. Kemenangan dakwah di tanah jawa waktu itu terjadi karena syarat syarat kemenangan itu telah dipenuhi oleh para da’i. Mereka telah mendapatkan tempat di hati di masyarakat jawa. Teringat pulalah dengan perkataan salah satu murobbina yang mengatakan bahwa “hati itu hanya bisa di sentuh dengan hati pula”. Maka tidak heran salah satu do’a yang dianjurkan untuk dibaca adalah doa agar dilembutkannya hati kita dan dilembutkannya perkataan kita. Seksamailah ternyata do’a ini telah menjelma pada banyak sosok kader tarbiyah. Hampir sebahagian besar kita dapati disana bagaimana karakter yang ditampilkan kader kader tarbiyah PKS, menjadi representasi doa doa yang dipanjatkan tadi. “Ya Alllah anugrahi kami hati yang lembut dan lisan yang lembut pula”.

Pada mulanya ada pertempuran batin yang luar biasa ketika mendapati salah satu qiyadah yang bernama Fahri Hamzah itu ternyata menampilkan sosok yang sama sekali berbeda dengan apa yang kita dapati pada sebagian kader kader PKS di daerah. Sosok yang ditampilkannya kini serasa telah menjungkalkan anggapan bahwa kader itu haruslah berperilaku lembut. Di sini saya mulai membuka diri bahwa memang medan tempur setiap da’i itu berbeda satu sama lain. Barangkali sosok beliau ini diperlukan di dalam menguatkan kepentingan dakwah ini. Akhirnya saya teringat dengan salah satu do’a UMAR bin Khattab “Ya Allah aku berlindung dari Orang kuat yang zalim, dan ketidak berdayaan orang baik yang lemah”. Lihatlah kasus negara meksiko dimana pada tahun 2011 puluhan aparat penegak hukum memilih untuk mundur , karena takut akan kejahatan mafia narkoba. Geng kartel narkoba melakukan teror pada polisi setempat dengan memutilasi korban korbannya. Oleh karena itu disinilah letak 2 kekuatan bertemu. Sekumpulan orang baik namun lemah bertemu dengan sekumpulan orang kuat namun zalim. Kelihatannya Bung Fahri hendak mengubah kekawatiran itu semua, ia laiknya sang Khalid yang menguatkan dan memperteguh posisi dakwah. Disini kita memahami bahwa kesantunan dan kesolihan itu tidaklah cukup untuk membuat orang yang zalim itu tersadar. Bahkan kesantunan dan kesolihan itu dianggap kelemahan sehingga semakin menjadilah jadi dominasi kezaliman terhadap kesantunan & kesolihan tersebut.

Memang dalam perjalanannya kita dapati bahwa pernyataan fachri hamzah ini seringkali diplintir dan ditangkap berbeda oleh kebanyakan orang. Bagi penulis pribadi ide ide yang dilontarkan beliau begitu dalam dan luas, namun bagi masyarakat awam tentunya pemikiran pemikiran beliau susah untuk bisa dicerna. Karena masyarakat awam secara umum lebih melihat pada ekspresi, gesture dan kesantuanan orang dalam berbicara. Mereka lebih tertarik pada packagingnya dan bukan pada content nya. Lihatlah bagaimana perkembangan kasus suap daging ahmad Fathanah. Tagline yang ditampilkan media begitu menyesatkan dan provokatif. Mereka menampilkan citra fachri yang begitu meledak ledak dibandingkan dengan citra johan budi yang begitu kalem. Dan ini tentunya merupakan sasaran empuk bagi media untuk mendramatisasi seolah olah karakter yang ditampilkan fachri hamzah adalah karakter kejahatan, otoriter, dan semau gue.

Kita menyadari bahwa dengan kasus ini mungkin ada peluang citra PKS akan turun, namun kelak sejarah ini akan mencatat bahwa PKS bukanlah selemah apa yang mereka kira. Sehingga lawan lawan politik yang hendak berlaku zalim akan memikirkan dampak yang akan ditimbulkan bila melakukan kriminalisasi terhadap PKS. Anggapan sebagaian orang bahwa kader kader pks adalah kader yang taklid membabi buta pada qiyadah sepenuhnya tidak benar apalagi salah benar tetaplah dibela. Menurut saya pribadi ini adalah anggapan yang salah. Lihatlah kader kader PKS itu mempunyai background pendidikan yang lumayan tinggi2. Juga ternyata untuk memasuki jenjang pengkaderan hingga level  DPP itu begitu berat, menyangkut kualitas hafalan qur’annya, haditnya, amaliah harian dan tugas tugas wajib kejama’ahan. Bersih yang menjadi tagline PKS itu bukan berarti kebersihannya akan menyamai kebersihan MALAIKAT. Namun bersihnya itu tetap pada level manusia yang juga dimungkinkan ada salah dan khilaf. Tugas organisasi PKS hanyalah membuat sistem yang rapi dan disiplin untuk mewujudkan pribadi pribadi yang bersih. Tanyalah pada sebagian anggota legislatif PKS berapa kah yang diwajibkannya untuk mengkhatamkan alquran pada bulan bulan ramadhan ? Walau memang dalam perjalanannya masih terdapat beberapa kader yang dianggap melakukan kesalahan. Lebih karena sifat kemanusiannya yang tidak luput dari kesalahan. Ada Dewan Syariah yang mengatur hal tersebut. Dan dalam islam pun terdapat ruang untuk memperbaiki kesalahan yakni bertobat.

Ini adalah pandangan pribadi saya mengenai PKS. Maaf bila lancang  dan salah dalam memberikan opini mengenai partai dan sosok yang saya cinta ini.

**Penulis on Twitter @hudan_vote

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cara Unik Menyeberangkan Mobil ke Pulau …

Cahayahati (acjp) | | 16 September 2014 | 14:16

Korupsi Politik Luthfi Hasan Ishaaq …

Hendra Budiman | | 16 September 2014 | 13:19

Kenapa Narrative Text Disajikan di SMA? …

Ahmad Imam Satriya | | 16 September 2014 | 16:13

[Fiksi Fantasi] Runtuhnya Agate: …

Hsu | | 16 September 2014 | 05:54

Ayo, Tunjukan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24


TRENDING ARTICLES

Ganggu Ahok = Ganggu Nachrowi …

Pakfigo Saja | 8 jam lalu

Kabinet Jokowi-JK Terdiri 34 Kementerian dan …

Edi Abdullah | 10 jam lalu

UU Pilkada, Ken Arok, SBY, Ahok, Prabowo …

Ninoy N Karundeng | 10 jam lalu

Ternyata Ahok Gunakan Jurus Archimedes! …

Tjiptadinata Effend... | 11 jam lalu

Revolusi Mental, Mungkinkah KAI Jadi …

Akhmad Sujadi | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Golkar Butuh Pemimpin Sekelas AL …

Agung Laksono Berka... | 8 jam lalu

Ikan Mas Koki Dioperasi Untuk Angkat Tumor …

Tjiptadinata Effend... | 8 jam lalu

Anomali Ahok: Pahlawan atau Pengkhianat? …

Choirul Huda | 8 jam lalu

Bukan Bagi-bagi Kursi, Tapi Bagi-bagi …

Wahyu Hidayanto | 8 jam lalu

Pengacara Seribu Rupiah …

Mini Praise | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: