Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Muhammad Cobain

Geologist, Jolma Kumoring, Budak Plaju

Buah Simalakama PKS

OPINI | 15 May 2013 | 17:51 Dibaca: 432   Komentar: 4   0

Prahara yang terjadi di partai yang bernama PKS akhir – akhir ini semakin memuncak, prahara PKS dimulai dengan tertangkapnya AF yang merupakan orang dekat dari LHI yang merupakan presiden PKS dan akhirnya juga menyeret LHI sebagai tersangka di KPK. Perlahan tapi pasti kasus yang menyeret mantan presiden PKS ini menyebabkan para elit PKS mendapatkan buah simalakama yang harus di makan dengan berbagai macam konsekuensinya.

Dua rasa buah simalakama yang didapatkan oleh PKS dapat di uraikan sebagai berikut :

1. Diam, berarti membiarkan mantan presiden partainya ‘dikerjai’ KPK dengan resiko kehilangan para kader partai yang loyal akibat kecewa pada para elit partai khususnya LHI sebagai presiden dan simbol partai PKS yang ternyata juga terkait kasus korupsi.

2. Melawan, mencoba menggiring opini publik dan para kader PKS yang loyal melalui berbagai macam media (termasuk kompasiana) baik dengan berbagai macam tulisan beserta dengan ulasan dan pembelaannya, juga melalui segala macam bentuk statement - statement para elit PKS (berbagai statment fahri hamzah yang berusaha menyudutkan KPK, tuduhan konspirasi dari Anis Matta dan juga pernyataan Bluffing dari Hilmi Aminudin ketua dewan syuro PKS) dan akhirnya tindakan ‘Melawan’ PKS ini diwujudkan dengan melaporkan juru bicara KPK Johan Budi oleh Fahri Hamzah yang mewakili PKS  terkait penyitaan mobil yang berada di kantor DPP PKS ke MaBes POLRI dengan tuduhan perbuatan tidak menyenangkan. Perlawanan PKS terhadap KPK dengan berbagai dalilnya memiliki resiko kehilangan para swing voters dan simpatisan PKS, yang berangapan bahwa PKS adalah partai yang bersih dan berpegang teguh pada ideologi partai.

Pelaporan  Fahri Hamzah sebagai elit PKS terhadap juru bicara KPK ke MaBes POLRI mengesankan bahwa PKS mencoba menyelam sambil minum air, karena seperti kita ketahui dewasa ini hubungan antara KPK dan POLRI kurang harmonis, semoga elit PKS yang mebuat laporan ini berniat tulus untuk mencari keadilan dan bukan karena balas dendam atau sakit hati seperti seorang preman yang kalap dan mencoba menggangu kinerja KPK dalam memberantas korupsi khususnya yang melibatkan kelompok dan golongannya, karena kepentingan bangsa dan negara harus didahulukan di atas kepentingan pribadi dan golongan.

Alasan - alasan  yang terkesan terlalu dipaksakan terkait pelaporan Fahri Hamzah sebagai elit PKS terhadap  juru bicara KPK Johan Budi ke Mabes POLRI sebaiknya di cabut atau dibatalkan, karna tidak ada manfaatnya buat PKS sebagai institusi partai, karna sebagian besar publik akan menilai bahwa PKS sama saja dengan partai – partai lainnya yang cenderung bersifat arogan jika partai atau salah satu elit partainya terkait dengan kasus – kasus korupsi, padahal PKS adalah partai dakwah yang berideologi dan lahir dari semangat reformasi,  jika benar seperti yang didengungkan para elit PKS bahwa alasan utamanya adalah kesalahan prosedur pihak KPK dalam melakukan penyitaan, sebaiknya PKS melakukan Pra Peradilan terhadap KPK bukan malah melaporkan Johan Budi yang saat itu tengah menjalankan tugasanya sebagai Juru Bicara KPK ke MaBes POLRI.

Buah simalakama telah di makan dan di telan bulat – bulat, PKS melalui Fahri Hamzah telah membuat keputusan dengan ‘melawan’ KPK, semoga prahara di partai PKS ini menjadi pelajaran bagi partai – partai lainnya dan PKS khususnya dalam bersikap dan menjadi lebih dewasa, karna yakinlah bahwa PKS sebagai partai yang berideologi dan jika kembali kepada marwahnya masih dibutuhkan di Republik ini dibandingkan partai – partai lain yang lebih bersifat cair dan lahir dari semangat mencari serta mendapatkan kekuasaan guna memperkaya kelompok dan golongannya dan bukan semangat untuk memperbaiki Negara Republik Indonesia yang kita cintai ini menjadi lebih baik.

Salam Bumi

(BTH - MC)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kalau Bisa Beli, Kenapa Ambil yang Gratis?! …

Tjiptadinata Effend... | | 01 November 2014 | 14:03

Sebagai Tersangka Kasus Pornografi, Akankah …

Gatot Swandito | | 01 November 2014 | 12:06

Danau Toba, Masihkah Destinasi Wisata? …

Mory Yana Gultom | | 01 November 2014 | 10:13

Traveling Sekaligus Mendidik Anak …

Majawati Oen | | 01 November 2014 | 08:40

Ayo Wujudkan Rencana Kegiatan Sosialmu …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 10:19


TRENDING ARTICLES

MA si Tukang Sate Ciptakan Rekor Muri …

Ervipi | 8 jam lalu

Jokowi Kelolosan Sudirman Said, Mafia Migas …

Ninoy N Karundeng | 9 jam lalu

Pramono Anung Sindir Koalisi Indonesia Hebat …

Kuki Maruki | 9 jam lalu

Keputusan MK Tentang MD3 Membuat DPR Hancur …

Madeteling | 10 jam lalu

Karena Jokowi, Fadli Zon …

Sahroha Lumbanraja | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Photo-Photo: “Manusia Berebut Makan …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Kisruh di DPR: Jangan Hanya Menyalahkan, …

Kawar Brahmana | 8 jam lalu

Saran Prof Yusril Ihza Mahendra Kepada …

Thamrin Dahlan | 8 jam lalu

Korupsi yang Meracuni Indonesia …

Cynthia Yulistin | 8 jam lalu

MA Pasti Segera Bebas, Karena Kemuliaan …

Imam Kodri | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: