Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Buat Antum Saudaraku di PKS

OPINI | 14 May 2013 | 09:00 Dibaca: 27449   Komentar: 100   29

Perlu antum fahami saudaraku, PKS yang dahulu bernama PK (Partai Keadilan) adalah salah satu partai yang semula sangat saya harapkan menjadi directur of change, menjadi leader dan motor penggerak bagi perubahan di negeri yang sangat kelam ini. Partai yang berasal dari jamaah dakwah dengan berbasiskan kaderisasi yang kuat mengakar. Simpati dan harapan besar itu muncul manakala ada salah seorang anggota dewannya yang memarkir sepeda motor diruang parkir senayan yang mirip showroom mobil mewah .

Subhanallah, betapa sederhana dan bersahajanya anggota dewan kita saat itu. Dahulu saat masih bernama PK (Partai Keadilan) tajam lisan anggota dewan kita menyuarakan alhaq. Kita benar-benar memiliki taring untuk mengatakan tidak pada al-bathil. Saat itu saya begitu bangga dan benar-benar merasakan betapa izzah -kemuliaan- kita sebagai seorang muslim begitu tinggi. Bangga rasanya diri ini menjadi kader partai. Walaupun saat itu anggota dewan kita hanya berjumlah tujuh orang. Sedikit memang, tetapi menggigit, sedikit tetapi berkualitas, sedikit tetapi bisa menyeret salah seorang koruptor kelas kakap masuk kedalam penjara. Dan saat ini, saya tidak mendapati itu dilakukan oleh anggota dewan -elite- PKS

Kebanggaan saya semakin kuat menghujam manakala melihat militansi kadernya yang luar biasa. Mencitrakan diri sebagai ‘partai dakwah’ dengan jargon bersih, peduli dan profesional menambahkan aroma keharuman dalam perjuangan. Tapi apa lacur saudaraku, seiring perjalanan waktu dan tuntutan jaman semuanya pudar. Semuanya berubah dengan cepat hari demi hari, fase demi fase. PKS sudah tidak yakin lagi dengan jati dirinya yang dulu. PKS mulai malu memakai nama Islam dan mulai risih jika disebut sebagai partai dakwah. Hingga detik ini, saya teramat yakin jargon dan idiom lama itu masih melekat dan tersimpan baik didalam hati tulus setiap kadernya. Tapi kini hal itu hanya menjadi bumbu ‘penyedap rasa’ saja saudaraku. Kenyataannya, semuanya jauh panggang dari api

Perlu antum fahami saudaraku, saya akan menyampaikan sedikit saja contoh perubahan yang terjadi dalam tubuh jamaah yang kita cintai ini. Hanya sedikit saudaraku, ‘tidak banyak’. Tidak pula memaparkannya dari berbagai aspek dan sudut pandang, hanya sedikit saja.

1. Dahulu materi-materi al-wala wal-barro, ghozwul fikr, madza ya’ni intima lil islam, tarbiyah jihadiyah, tarbiyah ruhiyah, tarbiyah dzatiyah begitu marak dikaji disetiap lingkaran -halaqoh- dan menghujam pada diri kader aktivis tarbiyah saat itu. Kini semuanya sudah berubah total, materi-materi itu mungkin dianggap sudah usang dan dianggap mengganggu agenda politik partai.

2. Dahulu perangkat tarbiyah untuk menjaga ruhiyah berupa mabit dan qiyamulail begitu ramai dihadiri oleh para kader. Kini tidur diatas kasur empuk menjadi pilihan utama para ikhwan karena lebih nyaman daripada mabit yang dingin dan banyak nyamuk.

3. Dahulu kebersahajaan begitu nampak terasa, teduh mata ini melihat dan bertemu sesama ikhwah dengan pandangan ruhul jamaah. Sekarang berubah menjadi nampak begitu angkuh dan terlihat sangat cerdas saling mengintrik sabun colek antar kader.

4. Dahulu qiyadah kita begitu qonaah dan tawadhu. Entah mengapa sekarang terlihat berubah. Menjadi begitu sakti, sangar dan ‘didewakan’ dengan segala macam ide besar dan cita-cita politik yang menembus langit.

5. Kesederhanaan bertukar menjadi kehidupan mewah, padahal saya paham betul dahulu masih pada miskin. Sudah petentang-petenteng seperti bos. Mulai sering tidak hadir jika diundang mengisi dauroh di kampus dan pengajian dipelosok desa karena ’sibuk’. Tak lagi suka ceramah dimasjid-masjid, karena tidak memberikan ‘benefit’.

6. Ukhuwah berganti menjadi sikat dan sikut, berlomba-lomba mencari order ceramah, permusuhan dan rebutan kursi caleg. “..saya sudah habis 300 juta lebih..”

7. Pertemuan tersekat jenjang kader, amanah dan lini dakwah; “gue syiasi, gue dakwi, gue ilmy!”. Senyuman selintas dan pelukan dengan tepukan basa basi

8. Keikhlasan berganti dengan rasa pamrih, rasa khawatir jika terlihat tidak aktif ber’amal dipartai atau wajihahnya. Tilawah qur’an karena merasa tidak enak dengan kader sejawat, hadir syuro karena perasaan tidak enak dengan mas’ul, bukan karena bagian dari prinsip dakwah. Takut dikatakan tidak amanah.

9. Pro pada penderitaan rakyat kini berganti berlomba-lomba mencari proyek. Demi menjaga komitmen koalisi permanen dua periode dengan SBY, mempeti eskan banyak kasus besar demi menjaga eksistensi presiden agar terbebas dari pamakzulan, sedangkan suara rakyat yang menjerit seakan tidak terdengar. “Ooh tidak benar akhi.. kami tetap memperjuangkan walaupun harus berhadapan dengan negara..”. Maaf, saya sudah tidak percaya! Basi!

10. Menjadikan SBY sebagai “midholah” (payung pelindung), dengan mengatakan, “Bapak Presiden SBY, bagi kami kebersamaan dalam koalisi ini bukan sekedar agenda program politik kami, tetapi itu merupakan aqidah kami, iman kami”. Subhanallah, luar biasa muroqib ‘amm, ketua Majelis Syuro PKS ini, ‘menjual’ aqidah dan iman demi koalisi. Dengan kitab tafsir apa agar saya bisa memahami maksud perkataannya?

11. Dan tidak aneh jika terkadang mengikuti selera rakyat. Rakyat suka yang ‘dilarang’ agama, harus diikuti selera mereka. Rakyat suka berjoget. Rakyat harus dipuaskan. Asal semua mendukung dan memilihnya. Nasyid sudah tidak laku lagi saat kampanye, lebih memilih band terkenal agar menarik minat hati orang ammah. Tidak berfikir panjang untuk mengeluarkan dana ratusan juta, yang penting rakyat terpuaskan dan entah dimana nilai manfaatnya. Kader pun memilih tsiqoh (percaya) sambil berkata, “itu sudah disyurokan oleh orang-orang sholeh di PKS”

12. Aurat wanita seakan menjadi maklum saat artis terkenal bernyanyi dan bergoyang diatas panggung kampanye. Disaksikan ribuan pasang mata kader. Mereka tidak malu, tidak pula merasa risih. Para ummahat dan akhwat-pun seolah tidak merasa bahwa izzahnya di injak, bahkan suami tercinta ikut melihat mendampingi. Ketika salah seorang al-akh yang hanif bertanya kepada Dewan Syari’ah melalui sms, “‘Afwan akhi, maksudnya kampanye PKS itu apa ya? Hukumnya apa yang begitu itu?”. Make your mouth shut, silent please! Bungkam!

13. Oligarki politik serta diinasty kekuasaan menggantikan perasaan tanggung jawab dihadapan Allah ~’Azza wa jalla~

14. Dahulu qiyadah kita begitu bersahaja dan menjadi tempat menumpahkan curahan hati. Sekarang berganti menjadi tampak begitu sangar dan penuh arogansi. “Lo gak nurut sama gue, mending keluar aje, gabung sama partai laen atau bikin jama’ah baru!”, atau “Ente kesenayan lagi, gue irup darah anak bini lu!”. Saya membatin dalam hati, seperti itukah jamaah ini mengajarkan seorang qiyadah?

15. Kadernya sudah merasa pintar dan cerdas-cerdas, pandai beretorika, pandai mengeluarkan argumen, pandai mengeluarkan pendapat, pandai merekayasa, pandai bermain intrikan dan pandai berorasi. Sudah tidak berselera lagi untuk hadir bermajelis ilmu dalam tatsqif dan kajian mendengarkan nasehat ust dan taujih robbani

16. Liqo sudah sangat jauh dari semangat taqorub ilallah, ruhul jihad dan ittibaur rasul. Kini berganti membicarakan politik, rekayasa pemenangan ‘dakwah’, curhat qodhoya, bahkan habis dengan diskusi ngalor-ngidul, candaan sia-sia. Selesai larut malam tanpa ada semangat baru yang membekas. Datang telat menjadi hal yang biasa dan sangat maklum. Tidak ada iqob, baik sekali sang murobbi. Tidak ada catatan materi dibuku, karena mutarobbi ’sudah hafal’ materi diluar kepala. Tidak pernah ada setoran hafalan alquran lagi, karena sang kader selalu mengatakan “aduh, afwan ya akh, ane belom hafal, gimana ya, mm, hehehe”. Pulang liqo larut malam, kecapean, berat untuk qiyamulail, sholat shubuh kesiangan. Teruus begitu, tidak pernah berubah

17. Demo menolak intervensi asing terhadap negeri-negeri muslim, dimanfaatkan dalam mengolah isu untuk menakut-nakuti Cikeas agar tidak direshufle. Sekarang semuanya hanya untuk kepentingan politik. Tidak bersungguh-sungguh berniat membela hak umat Islam

18. Untuk memperlihatkan kepada publik bahwa PKS ini masih solid dan banyak pendukungnya, akhirnya show of force pada milad 13 PKS di Senayan. Dikerahkanlah orang-orang dari luar Jakarta, seperti: Banten, Karawang, Bogor dan Lain-lain. Tujuan politisnya juga jelas, untuk mempromosikan cagub-cawagub DKI Jakarta. Ketika salah seorang simpatisan ditanya, “Apa motivasi ibu datang ke acara milad ini?”.“Aah enggak.. kite lagi jalan-jalan aje mas, maen aja ke Jakarta ngeliat monas begitu..”

19. Dahulu kita sangat bangga jika bisa demo besar-besaran mengepung kedubes AS di Jakarta menentang kebijkan standard ganda mereka terhadap negeri-negeri muslim, terutama di Palestina, Irak, dan Afganistan, tapi sekarang rute demo PKS sudah dirubah permanen. Pindah dari Monas, Patung Kuda dan akhirnya HI atau sebaliknya. Kedubes AS sudah tidak akan pernah menjadi target demo PKS lagi. Dan teriakan, “Amerika Amerika.. Terorist Terorist..”. Jaminan mutu, sudah tidak akan terdengar lagi

20. Kini PKS sudah kehilangan sibghoh dakwahnya. Qiyadahnya lebih memilih melalui jalur taklimat qoror untuk mencuci otak kadernya, mereka sudah tidak berselera dengan tabayun dan diskusi para asatidz. Qorornya pun jelas: “Jika antum masih mengkritisi PKS, silahkan antum keluar saja. Gabung dengan partai atau jamaah lain atau buat jamaah baru, lalu kita berfastabikul khoirot”. Masya Allah..

Begitu indah sebuah untaian penuh hikmah dari hamba Allah yang sholeh. Ibnu Mas’ud mengatakan, “Jadikakanlah qudwah itu orang yang sudah mati, karena orang yang hidup, tidak pernah aman dari fitnah

Perlu antum fahami saudaraku, demikianlah tadi keistimewaan PK (sekarang PKS) dibanding dengan partai lain. Saya juga sudah memberikan sedikit catatan ringan tentang beberapa perubahan yang terjadi selama ini. PKS masih bisa menjadi agent of change asal mau memperbaiki diri, PKS bisa meraih kemenangan jika mau bersabar dalam mentarbiyah umat, PKS tetap menjadi simpati rakyatnya jika tetap menjaga citra positif sebagai partai yang bersih dan peduli dengan memperjuangkan nilai-nilai moral, dan PKS pun akan senantiasa menjadi harapan bagi kadernya jika tetap menjaga kemurnian dakwah -asholah-, khittah perjuangan dan kesucian dakwahnya. PKS tidak boleh istijal (terburu-buru) dalam meraih kemenangan dakwahnya. Walaupun mihwar dakwah begitu cepat, tribulasi dakwah begitu luar biasa dan tuntutan dakwah begitu besar. Ingatlah saudaraku, kita ini hendak berdakwah dan mentarbiyah umat. Membina dan mendidik masyarakat adalah misi utama para nabi dan rasul, misi utama dalam jamaah kita

Perlu antum fahami saudaraku, tidak boleh alat (washilah-partai) menjadi tujuan dakwah, tidak boleh kursi kekuasaan menjadi ukuran kemenangan dakwah dengan mengabaikan aspek tarbiyah islamiyah dikampus dan masyarakat. Bukankah dakwah Rasulullah itu bermula dari pembinaan pribadi, keluarga dan masyarakat? Bukankah Imam Hasan Albanna dalam marotibul ‘amalnya mengatakan hal yang serupa?

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Ratusan Ribu Hingga Jutaan Anak Belum Dapat …

Didik Budijanto | | 31 July 2014 | 09:36

Akh Jokowi? Kita Lihat Dulu Deh Kabinetnya …

Ian Wong | | 31 July 2014 | 08:18

Menghakimi Media …

Fandi Sido | | 31 July 2014 | 11:41

Punya Pengalaman Kredit Mobil? Bagikan di …

Kompasiana | | 12 June 2014 | 14:56

Teman Saya Pernah Dideportasi di Bandara …

Enny Soepardjono | | 31 July 2014 | 09:25


TRENDING ARTICLES

Satpol PP DKI Menggusur Lapak PKL Saat …

Maria Margaretha | 1 jam lalu

Tipe Karyawan yang Perlu Diwaspadai di …

Henri Gontar | 9 jam lalu

Evaluasi LP Nusa Kambangan dan …

Sutomo Paguci | 9 jam lalu

Revolusi Mental Pegawai Sipil Pemerintah …

Herry B Sancoko | 13 jam lalu

Misteri Matinya Ketua DPRD Karawang …

Heddy Yusuf | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: