Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Daryani El-tersanaei

Direktur Eksekutif Parameter Nusantara & Kepala Laboratorium Ilmu Politik IISIP Jakarta. Pengajar di FISIP IISIP selengkapnya

Strategi Pemenangan Partai Dalam Kontestasi Pemilu 2014

OPINI | 12 May 2013 | 10:25 Dibaca: 6944   Komentar: 0   0

Bila tak ada aral melintang, hajatan Pemilu Legislatif akan digelar pada 9 April 2014, tahun depan. Sebanyak 15 partai peserta Pemilu yang terdiri dari 12 partai nasional dan 3 partai lokal (Aceh) akan bertarung memperebutkan kursi legislatif di tingkat kabupaten/kota, provinsi, dan pusat (nasional). 12 Partai nasional dimaksud yaitu: (1) Partai NasDem; (2) PKB; (3) PKS; (4) PDI Perjuangan; (5) Partai Golkar; (6) Partai Gerindra; (7) Partai Demokrat; (8) PAN; (9) PPP; (10) Partai Hanura; (14) PBB; dan (15) PKP Indonesia. Sementara 3 partai lokal Aceh (dan nomor urutnya) yang akan bertarung yaitu Partai Damai Aceh (11); Partai Nasional Aceh (12); dan Partai Aceh (13). Pertarungan itu juga melibatkan 6.576 Caleg DPR RI, ribuan Caleg DPD RI, dan puluhan ribu Caleg DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota.

Bagi partai nasional, kontestasi Pemilu 2014 dipastikan lebih berat ketimbang kontestasi Pemilu 2009 lalu. Sebab, PT (parliamentary threshold) atau ambang batas perolehan suara partai secara nasional untuk bisa menempatkan wakilnya di parlemen (DPR RI) pada Pemilu 2014 lebih tinggi, yakni 3,5 %. Sementara PT dalam Pemilu 2009 hanya 2,5 % suara. Selain itu, biaya yang harus dikeluarkan partai juga dipastikan akan semakin besar.

Dalam kontestasi Pemilu, tidak ada satu pun partai yang ingin kalah. Semuanya bermaksud meraih kemenangan. Minimal, target lolos PT 3,5 % tercapai. Contohnya, target PKP Indonesia. Sebuah target minimal yang terlihat mudah diraih seandainya suara pemilih terbagi rata ke dalam 12 partai peserta Pemilu. Akan diperoleh rata-rata 8,33 % suara. Namun, hal itu merupakan sesuatu yang hampir mustahil. Persebaran suara pemilh ke partai selalu merata. Itu terjadi mulai dari Pemilu pertama 1955 di era orde lama, 6 kali Pemilu orde baru, sampai Pemilu 2009 atau pemilu ketiga di era reformasi ini.

Untuk bisa menang dalam pertarungan, partai mutlak membutuhkan strategi pemenangan yang tepat. Pada titik inilah, ada kesamaan antara kontestasi Pemilu dan perang dalam militer. Perang membutuhkan strategi. Tidak ada kemenangan yang lahir tanpa strategi. Menang dan kalahnya sebuah peperangan sangat bergantung pada tepat atau tidaknya strategi yang digunakan. Begitu pun kontestasi Pemilu.

Secara etimologis, strategi berasal dari kata Yunani strategia, yang diartikan art and science of directing military forces, seni atau ilmu tentang mengatur dan mengarahkan kekuatan militer. Dengan kata lain, strategia atau strategos berarti seni menjadi seorang jenderal atau panglima perang. Dalam konteks di atas, strategi dimaknai sebagai cara untuk mendapatkan kemenangan atau mencapai tujuan. Jadi, partai yang ingin menang atau hanya sekedar lolos PT 3,5 % membutuhkan strategi untuk mencapainya. Di dalam strategi, tercakup taktik dan logistik.

Antara Perang dan Pemilu

Di dunia militer, ada adagium, “kenali dirimu sendiri, kenali musuhmu  maka seribu kali perang engkau akan menang”. Oleh karena itu, dalam strategi perang seorang panglima perang harus mengenal kekuatan pasukannya dan kekuatan pasukan musuh, untuk menyusun strategi dan taktik pertempuran yang akan digunakan. Untuk bisa memilih strategi dan taktik yang tepat, seorang panglima perang harus mengenal betul kondisi CUMEMU (istilah dunia militer yakni Cuaca, Medan dan Musuh). Ini penting mengingat CUMEMU sangat mempengaruhi keberhasilan dalam pertempuran.

Pada dasarnya, strategi dalam memenangi kontestasi Pemilu memiliki kemiripan dengan strategi perang. Tentu, ada pula yang membedakannya. Pembeda yang sangat kentara terletak pada target yang disasar untuk mencapai kemenangan. Dalam perang, target yang disasar adalah melemahkan dan merusak atau menghancurkan pasukan musuh baik fisik maupun moral (baca: mental), dan segala logistik perang serta hal pendukung lainnya sehingga pasukan musuh menyerah atau binasa. Dengan itu, kemenangan diraih. Sementara dalam kontestasi Pemilu, target yang disasar partai adalah simpati pemilih agar ia menjatuhkan pilihannya dalam Pemilu pada partai bersangkutan. Partai yang paling banyak dipilih oleh pemilih akan keluar sebagai pemenang. Jadi, pasukan menang dalam perang kalau musuh menyerah, sementara partai memenangi kontestasi pemilu kalau mendapatkan suara pemilih terbanyak.

Namun demikian, perbedaan tersebut tak menghalangi untuk mengadopsi dan memodifikasi strategi perang menjadi strategi pemenangan partai dalam Pemilu. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menerjemahkan istilah CUMEMU untuk kepentingan strategi pemenangan partai. Cuaca dapat diterjemahkan sebagai timing dan momentum, preferensi pemilih, budaya politik, perilaku pemilih, dan regulasi pemilu. Medan bisa diterjemahkan sebagai pemilih dan lingkungannya. Sementara musuh adalah partai kompetitor dan segala aspek pendukungnya. Terjemahan target yang disasar adalah menguasai medan atau pemilih dan lingkungannya.

Strategi pemenangan yang tepat hanya bisa dihasilkan tatkala interpretasi CUMEMU di atas dapat diidentifikasi dengan tuntas dan jelas, dan dijadikannya sebagai salah satu input pembuatan strategi. Input lainnya adalah pengetahuan mengenai kondisi eksisting partai dan kapasitas yang dimilikinya. Misalnya, struktur kepengurusan partai dan dana yang dimilikinya, serta para calegnya. Dalam konteksnya ini, caleg diibaratkan sebagai senjata utama yang berfungsi sebagai vote getter.

Dengan kedua input di atas, maka strategi pemenangan yang tepat dapat dibuat. Baru kemudian merumuskan taktik untuk tiap-tiap strategi yang dipilih, dan menyiapkan logistiknya. Kemenangan bisa diraih bila strategi dan taktik tersebut dapat diimplementasikan atau dieksekusi secara efektif.

Kontestasi Pemilu 2009: Sebuah Referensi

Pemilu 2009 yang digelar pada 9 April 2009 diikuti 38 partai nasional dan 6 partai lokal (Aceh), dengan sistem yang relatif berbeda dengan pemilu sebelumnya (2004). Dalam pemilu 2009 ini kali pertama diberlakukan sistem proporsional terbuka dikombinasikan dengan ketentuan PT (Parliamentary Treshold) 2,5 % perolehan suara partai untuk bisa menempatkan wakilnya di parlemen (pusat). Kursi parlemen diberikan kepada caleg terpilih dengan suara terbanyak dari partai yang mencapai 2,5 % perolehan suara secara nasional. Perhitungan suara partai dan caleg untuk dikonversi menjadi kursi bisa sampai tiga tahap.

Fakta Pemilu yang memperebutkan 560 kursi DPR RI itu menunjukkan bahwa angka Golput masih demikian tinggi. Dari 171.265.442 DPT Pemilu 2009, terdapat 49.677.076 (29,01%) pemilih yang tidak memberikan suaranya.

Terlepas dari uraian data dan fakta di atas, kontestasi Pemilu 2009 telah memberikan gambaran mengenai strategi pemenangan yang digunakan partai dalam hajatan reguler demokrasi lima tahunan. Secara garis besar, terdapat 3 model strategi jangka pendek yang bisa diidentifikasi dari partai kontestan Pemilu 2009 lalu. Pertama, strategi pencitraan dan PR (public relations) politik. Hampir semua partai politik menjadikan strategi ini sebagai strategi utama untuk bisa meningkatkan elektabilitas partainya. Partai Demokrat sebagai rulling party sangat piawai memainkan strategi ini dengan mengklaim keberhasilan-keberhasilan pemerintah sebagai keberhasilan partainya. Sementara partai koleganya di koalisi pemerintahan SBY-JK, Partai Golkar, tidak optimal mengidentifikasikan keberhasilan Pemerintahan SBY-JK sebagai keberhasilan Partai Golkar.

Untuk pendatang baru, Partai Gerindra adalah partai sangat massif menggunakan strategi pencitraan lewat media. Iklan kampanye muncul setiap hari di seluruh stasiun TV. Belanja iklan kampanye Partai Gerindra tercatat sangat besar.

Kedua, strategi rekrutmen anggota dan/atau publik figure sebagai vote getter. Banyak partai yang terobsesi merekrut anggota sebanyak-banyaknya dalam waktu cepat. Caranya dengan pembuatan dan pembagian KTA (Kartu Tanda Anggota). Konon, Partai Gerindra telah membuat KTA sampai pemilu 2009 itu sebanyak 13 juta KTA. Realitas, hasil perolehan suara Partai Gerindra hanya 4.642.795 suara. Berarti, ada sesuatu yang salah dalam implementasi strateginya.

Selain itu, public figure-seperti kalangan artis-banyak direkrut partai dengan harapan bisa berfungsi efektif sebagai pendulang suara. Banyak kalangan artis yang dipasang menjadi Caleg. PAN, termasuk partai yang dianggap banyak merekrut kalangan artis. Tidak heran, bila PAN pernah diplesetkan kepanjangannya menjadi Partai Artis Nasional.

Ketiga, strategi ekstensifikasi kepengurusan. Strategi ini dilakukan dengan memperbanyak struktur kepengurusan dan jumlah pengurus partai. Dengan jumlah pengurus yang banyak, diharapkan mampu merekrut pendukung yang banyak pula. Mereka berasumsi, bahwa 1 pengurus bisa merekrut pendukung rata-rata 10 orang. Partai yang terlihat menonjol mengedepankan strategi ini adalah PDP (Partai Demokrasi Pembaharuan) yang dipimpin oleh Roy BB Janis dan Laksamana Sukardi. Pimpinan PDP itu pernah mengatakan bahwa partainya memiliki 2 juta orang pengurus. Dengan itu, mereka menargetkan perolehan suara di Pemilu 2009 sebanyak 20 juta suara. Hasil Pemilu 2009 menunjukkan perolehan suara PDP jauh lebih kecil ketimbang jumlah pengurusnya, yakni hanya 896.959 suara. Hal ini menunjukkan ada masalah dengan klaim jumlah 2 juta pengurus di atas.

Selain 3 model strategi di atas, sebenarnya terdapat strategi kaderisasi. Namun, strategi ini tidak dipilih sebagai strategi utama yang berorientasi meraih kemenangan dalam waktu dekat atau tujuan jangka pendek. PKS, termasuk partai yang berkesinambungan kaderisasinya.

Strategi Partai Peserta Pemilu 2014

Secara umum, tak ada perbedaan signifikan yang dilakukan partai kontestan Pemilu 2014 dengan partai kontestan Pemilu 2009. Tiga model strategi jangka pendek tersebut di atas masih menjadi pilihan. Kalau pun ada yang berbeda, terletak pada cara atau taktiknya saja. Sebagai contoh, rekrutmen anggota dengan pembuatan KTA yang pernah dilakukan Partai Gerindra secara manual, saat ini dilakukan Partai pendatang baru, Partai NasDem, dengan memanfaatkan jaringan internet melalui program O250. Melalui program itu ditargetkan terekrut sekitar 25 juta lebih.

Strategi pencitraan dan PR politik masih menjadi primadona, terutama melalui media TV. Saluran media sosial atau media baru juga semakin intens digunakan. Prabowo dan Partai Gerindra terlihat semakin agresif memanfaatkan dunia maya untuk kepentingan pencitraan dan PR politiknya.

Hal terkait dengan pilihan strategi kemenangan yang semakin diterima sebagai input dan evaluasi-baik terus terang maupun sembunyi-sembunyi-adalah hasil survei politik. Hasil survei yang paling banyak mendapat perhatian adalah mengenai tingkat elektabilitas.

Pada akhirnya, apapun pilihan strategi yang digunakan 12 partai kontestan Pemilu 2014, akan diuji efektifitasnya pada Pemilu 2014 mendatang. Apakah strategi yang digunakan mampu mengantarkan partai tertentu menjadi pemenang, atau sebaliknya, menjadi pecundang dan terhalang masuk senayan.

Semoga bermanfaat. Amien.

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

[Pileg] Pertarungan antar “Kontraktor …

Syukri Muhammad Syu... | | 23 April 2014 | 22:57

Pengalaman Jadi Pengamen Pada 1968 – 2013 …

Mas Ukik | | 23 April 2014 | 21:14

Ini yang Penting Diperjelas sebelum Menikah …

Ellen Maringka | | 23 April 2014 | 13:06

Bumiku Sayang, Bumiku Malang …

Puri Areta | | 23 April 2014 | 16:46

Kompasiana Menjadi Sorotan Pers Dunia …

Nurul | | 22 April 2014 | 19:06


TRENDING ARTICLES

Hotma Paris Hutapea dan Lydia Freyani …

Zal Adri | 12 jam lalu

Jokowi, Prabowo, dan Kurusetra Internet …

Yusran Darmawan | 14 jam lalu

Wuih.. Pedofilia Internasional Ternyata …

Ethan Hunt | 15 jam lalu

Bukan Hanya BCA yang Menggelapkan Pajak …

Pakde Kartono | 16 jam lalu

Kasus Hadi Poernomo, Siapa Penumpang …

Sutomo Paguci | 17 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: