Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Afrianto

penikmat buku, pendidik, pembelajar, dan pemulung hikmah yang terserak di setiap jengkal kehidupan

Menyimak ‘Sepak Terjang’ Fahri Hamzah

OPINI | 12 May 2013 | 18:18 Dibaca: 2123   Komentar: 42   0

OOleh: Afrianto Daud*

Satu minggu belakangan, sosok Fahri Hamzah (FH) kerap muncul ke publik melalui tayangan berita atau acara beberapa stasiun televisi nasional setelah kasus (usaha) penyitaan dan penyegelan beberapa mobil di DPP PKS oleh KPK pada pada 6-7 Mei 2013 lalu. Fahri kerap berbicara atas nama PKS mempersoalkan tata cara tim KPK yang datang ke markas besar PKS di jalan TB Simatupang yang menurut PKS tidak prosedural, bahkan tidak beretika. Penyegelan mobil itu sendiri adalah terkait kasus tindak pidana korupsi dan pencucian uang yang disangkakan kepada Luthfi Hasan Ishaaq (LHI).

Gagalnya usaha tim KPK menyita mobil milik LHI di kantor DPP PKS, karena ditolak security gedung DPP PKS. Tim security beralasan bahw rombongan KPK tidak membawa surat resmi penyitaan, masuk ke markas DPP secara diam-diam, dan tidak memperkenalkan diri. Namun isunya kemudian berkembang menjadi berita bahwa PKS terkesan menghalang-halangi penegak hukum dalam menjalankan tugasnya. Berita ini kemudian menjadi headline banyak media, apalagi dipoles dan dilengkapi dengan tayangyan para wanita-wanita cantik temannya Ahmad Fathanah.

Berita miring tentang PKS seringkali memang menjadi santapan besar banyak media cetak dan elektronik untuk dijual atau untuk menaikkan oplah/rating mereka. Dan adalah Fahri Hamzah kemudian yang menjadi ‘petarung tangguh’, mengklarifikasi, beropini, dan melakukan perlawanan dari sisi PKS di tengah festivalisasi media terhadap berita miring penyitaan mobil yang disebut milik LHI itu. FH kemudian menjadi sangat lekat di mata publik.

Siapa Fahri Hamzah?

Sebenarnya sosok FH bukanlah wajah baru dalam berita politik Indonesia. Bagi anda yang melek informasi politik nasional dan sering mengikuti berita atau diskusi politik di meda elektronik, anda mungkin sudah tidak asing dengan sosok anak muda jebolan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia yang saat ini bertugas menjadi wakil rakyat di DPR RI. Fahri dulu sering diundang tampil dalam acara Jakarta Lawyers clubnya TV One, misalnya. Dia juga kerap tampil dalam beberapa diskusi politik di stasiun TV lainnya. Dia bahkan pernah dinobatkan sebagai salah satu dari tiga politisi paling kontroversial hasil media screening dari Charta Politica, bersama Sutan Batugana dan Ruhut Sitompol tahun 2012.

Jauh sebelum itu, para aktivis 1998 tentu sudah cukup lama familiar dengan nama ini. FH adalah salah satu tokoh puncak mahasiswa di zamannya yang ikut memimpin ribuan mahasiswa dalam beberbagai demonstrasi besar menggulingkan rejim Suharto di Jakarta. Di bawa bendera Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), FH adalah salah satu pelaku sejarah perubahan zaman, dari Orde Baru ke Era Reformasi.

Belakangan dia adalah mantan aktivis mahasiswa yang masuk legislatif, memperjuangkan idealismenya, dari parlemen jalanan menjadi parlemen beneran. Dan masih seperti dulu, sepak terjangnya di parlemen cukup sering diperhitungkan, kawan ataupun lawan. Bicaranya masih keras dan lugas. Aura idealisme aktivis dan intelektualismenya juga masih cukup kental dan kuat sampai sekarang. Keberaniannnya melawan arus dalam mengkritisi lembaga superbody KPK adalah salah satu bentuk ketangguhan daya juangnya. (Anda bisa mensearch namanya di youtube dan bisa melihat bagaimana sepak terjangnya di gedung dewan itu).

Di mata saya, Fahri memang sosok kader PKS yang relatif berbeda dengan tampilan kader PKS mainstream. Tidak seperti kebanyakan kader PKS lain yang cendrung tenang dan kalem saat berbicara, FH adalah sosok kader yang sering bersuara keras dan lugas. Bahasanya sering meledak-ledak dan kadang cendrung bisa menyakitkan bagi yang mereka tidak suka mendengar substansi pembicaraannya. Gaya FH inilah yang sering membawanya pada sosok politisi kontroversial itu. Namun yang menarik dari sosok FH adalah bahwa dia tidak hanya sekedar keras dari sisi pilihan kata dan nada suara dalam berdiskusi, namun juga pada substansi pemikiran yang dia sampaikan. Banyak ide dan pemikirannyacendrung radikal dan ekstrim. Kritikan dan ide pembubaran KPK yang dia suarakan adalah salah satu bentuk ide radikal itu.

Gaya khas FH ini kemudian sangat kentara terlihat saat dia diwawancara atau beredebat dengan beberapa pihak terkait kasus penyitaan dan penyegelan beberapa mobil di markas PKS itu. Dalam debat live dengan juru bicara KPK, Johan Budi, di Metro TV dua hari yang lalu misalnya, dia bahkan menyebut KPK telah bertindak seperti preman, tidak beradab, dan menuduh Johan Budi telah melakukan kebohongan publik. Sangat keras memang.

Menghitung Resiko

Sikap keras FH (dan beberapa petinggi PKS lainnya) dalam menyikapi kasus penyegelan mobil di DPP PKS memang bisa dipahami. Ini adalah satu bentuk reaksi balik (untuk tidak menyebut perlawanan’) dari PKS yang merasa telah dizhalimi oleh oknum penegak hukum di KPK pada malam usaha penyitaan itu. Apalagi ketika media seperti membesar-besarkan berita ini, dan membumbuinya dengan berita seputar wanita cantik di sekitar Ahmad Fathanah, maka bisa dipahami jika banyak kaderi PKS merasa telah diberlakukan tidak adil. Karenanya, sikap FH yang keras dan lantang saat tampil di media itu sepertinya diamini dan didukung oleh banyak kader PKS di lapangan. FH seakan bisa mewakil suara dan perasaan mereka yang ikut geram dengan perlakuan oknum KPK yang ditenggarai arogan. Rasa keadilan banyak kader PKS mungkin juga terlukai ketika mereka membandingkan bagaimana cara KPK memperlakukan kasus LHI dengan beberapa kasus korupsi lainnya, seperti Hambalang, Century. Apalagi ketika berita tentang usaha penyitaan yang gagal ini justru merembet gak jelas kemana-mana, bahkan sampai pada suara pembuburan PKS. Woow!

Namun di balik gaya keras ala FH, PKS sepertinya juga harus berhitung tentang efek lain dari ‘gaya Sumbawa ‘ yang dibawa FH ini dalam kasus penyitaan mobil oleh KPK ini. Pertama, karena jika tidak hati-hati, publik bisa salah memahami bahwa PKS sedang berusaha menyerang KPK. Ini tentu tidak baik bagi citra PKS, karena suka atau tidak, sampai hari ini KPK masih dianggap sebagai lembaga penegak hukum yang relatif dipercaya banyak orang di republik ini. Dan tentu akan sangat merugikan PKS sendiri, jika publik salah paham bagaimana posisi PKS sebenarnya dalam hubungannya dengan KPK pada kasus ini.

Kedua, karena ada kecendrungan sebagian masyarakat kita yang tidak terlalu suka dengan gaya bahasa keras alah FH. Sebagian masyarakat cendrung melihat ‘cara’ berbicara, ketimbang ‘isi’ pembicaraan. Merefleksi pada gaya bahasa Amin Rais yang cendrung blak-blakan dan gaya SBY yang dulu sering terkesan santun, sepertinya publik lebih suka gaya SBY berkomunikasi dibanding gayanya Amin Rais. Saya menduga bahwa kekalahan Amin Rais saat pencalonan presiden RI dulu salah satunya disebabkan oleh gaya bicaranya yang cendrung keras dan lugas itu. Ini mungkin suatu hal yang paradoks. Namun, begitulah fakta kebanyakan calon pemilih di tanah air dalam merespon gaya bicara seorang politisi. Nah, di titik ini, mungkin saudara FH dan atau PKS perlu sedikit merefleksi ulang tentang efektivitas ‘gaya FH’ ini dalam menuntaskan kasus (usaha) penyitaan KPK ini. Bukankah politik itu tidak bisa dipisahkan dengan image builidng, persepsi, dan opini? Wallahu’alam.

*Penulis adalah aktivis Monash Indonesian Islamic Society (MIIS) Monash University, Australia

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Naik Mule di Grand Canyon …

Bonekpalsu | | 26 July 2014 | 08:46

Mudik Menyenangkan bersama Keluarga …

Cahyadi Takariawan | | 26 July 2014 | 06:56

ISIS: Dipuja atau Dihindari? …

Baskoro Endrawan | | 26 July 2014 | 02:00

ASI sebagai Suplemen Tambahan Para Body …

Andi Firmansyah | | 26 July 2014 | 08:20

Ikuti Lomba Resensi Buku Tanoto Foundation! …

Kompasiana | | 11 July 2014 | 16:12


TRENDING ARTICLES

Gaya Menjual ala Jokowi …

Abeka | 5 jam lalu

Jenderal Politisi? …

Hendi Setiawan | 5 jam lalu

Tuduhan Kecurangan Pilpres dan Konsekuensi …

Amirsyah | 5 jam lalu

Gugatan Prabowo-Hatta Tak Akan Jadi Apa-apa …

Badridduja Badriddu... | 6 jam lalu

Legitimasi Pilpres 2014, Gugatan ke MK dan …

Michael Sendow | 14 jam lalu

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: