Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ikrom Zain

Mahal Kita...... Bukan kita yang mahal Tapi......... Aku cinta kamu

Pilwali Malang 2013: Plis, Kita Udah Bosen Liat Tampang Kalian

OPINI | 11 May 2013 | 10:29 Dibaca: 240   Komentar: 7   0

138810943514561482

Enam Pasangan Peserta Pilkada Kota Malang 2013 (www.tempo.com)

23 Mei 2013. Warga kota malang akan menyalurkan aspirasinya melalui Pilwali. Pemimpin 5 tahun ke depan akan ditentukan hari itu. Sama seperti kota/kabupaten/propinsi lain, Pilwali Malang diikuti sejumlah pasang calon kepala daerah. Kali ini Pilwali Malang diikuti 6 pasang calon walikota dan wakil walikota.

Nah heboh Pilwali ini sebenarnya udah kerasa 2 tahun sebelumnya. Jalan-jalan dan papan rekaleme yang biasanya heboh dengan promosi iklan-iklan atau konser-konser udah lenyap kalah ama foto orang-orang yang tampil ngeksis. Tidak hanya lewat baliho ato spanduk, tiap jengkal wilayah kota mulai dari warung nasi, bengkel sepeda motor, tempat les-lesan, laundry, angkot, bahkan tukang pijat pasti ada foto salah satu calon walikota/wakil walikota. Kalo satu dua hari lihat tampang mereka sih oke-oke aja, tapi hampir 2 tahun tiap pergi sekolah, jalan-jalan, atau berbelanja di pasar lihat tampang mereka rasanya eneg dan pengen muntah. Apalagi salah satu calon yang dengan enaknya memasang foto di pohon-pohon menambah keenegan.

Sah-sah saja mengenalkan diri dengan cara memasang foto seperti itu. Tapi lihat kondisi lah. Ada tempat yang tidak boleh digunakan untuk pemasangan foto atau iklan semisal pohon. Kalau belum jadi walikota aja udah melanggar, apalagi kalau udah jadi.

Berbicara tentang permasalahan kota Malang sendiri, sebagai warga asli Malang jujur kota Malang tidak mengalami peningkatan. Banjir, macet, dan permukiman kumuh menjadi PR tersendiri bagi walikota Malang mendatang. Pembangunan Mall dan ruko yang tak terkendali membuat kota Malang yang dulunya dingin mejadi panas. Kota Malang yang dulunya tidak pernah terkena banjir sekarang diguyur hujan deras sebentar saja sudah banjir. Ada yang salah dengan pembangunan kota Malang saat ini. Kondisi ini diperparah semakin menjamurnya budaya kongkalikong aparat pemerintahan. Contoh konkritnya adalah masalah laham parkir yang sering menyebabkan tumbal. Masalah pendidikan juga tak kalah komplek. Sekolah di Malang boleh dikata paling mahal. Untuk masuk SMA favorit di Malang, orang tua harus merogoh kocek sekitar 5 juta, kalau tidak tertampung meski berprestasi. Meski mahal, pendidikan di Malang seakan jalan di tempat, tertinggal dari daerah lainnya. Belum lagi masalah kesehatan, dll.

Dari masalah-masalah tersebut saya kira para cawali kurang elok jika mengenalkan diri dengan berbagai foto yang terkesan tertawa di atas penderitaan rakyat. Kita gak perlu janji muluk-muluk kok. Just talk less do more untuk membangun Bumi Arema. Semoga tanggal 23 Mei nanti warga kota Malang diberi hidayah oleh Allah SWT untuk memilih pemimpinnya sesuai hati nurani, pertimbangan yang matang, rasional, dan berpikir jernih.

Tags: pilwali malang

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Anak Kabur dari Pesantren, Salah Siapa? …

Mauliah Mulkin | | 28 August 2014 | 14:00

Pulau Saonek Cikal Bakal Raja Ampat …

Dhanang Dhave | | 28 August 2014 | 10:40

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Gap Year: Setahun Nganggur …

Marlistya Citraning... | | 28 August 2014 | 11:39

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Dulu Saat Masih Dinas, Kakek Ini Keras …

Posma Siahaan | 6 jam lalu

Rieke Diah Pitaloka Tetap Tolak Kenaikan …

Solehuddin Dori | 9 jam lalu

Ahok Nggak Boleh Gitu, Gerindra Juga Jangan …

Revaputra Sugito | 10 jam lalu

Tomi & Icuk Sugiarto Nepotisme! …

Asep Rizal | 11 jam lalu

Sebab SBY dan Jokowi Tak Bicarakan BBM di …

Pebriano Bagindo | 13 jam lalu


HIGHLIGHT

Kabinet Ramping Jokowi: Cukup 20 Menteri …

Roes Haryanto | 7 jam lalu

Listrik dari Sampah, Mungkinkah? …

Annie Moengiel | 7 jam lalu

Sensasi Rasa Es Krim Goreng …

Topik Irawan | 8 jam lalu

Indonesia Abad ke-9 Masehi …

Ahmad Farid Mubarok | 8 jam lalu

Catatan Harian: Prioritas di Kereta Wanita …

Nyayu Fatimah Zahro... | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: