Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ahudan

Melukis hidup... membincang peradaban. Ini hidupku tak kusia siakan

Skenario Hebat…. Ketika KPK dan PKS Dibenturkan

OPINI | 10 May 2013 | 09:49 Dibaca: 590   Komentar: 18   1

Ahudan | Sepenuh cinta

Publik kembali dihadirkan pada perseteruan terbaru antara KPK dan PKS. Walau sebetulnya kata kata yang tepat untuk menggambarkan kejadian tersebut bukanlah perlawanan PKS. Namun begitu canggihnya media kita ini sehingga seakan opini yang terbentuk menyatakan rencana penyegelan mobil yang berada di kantor DPP PKS itu gagal total disebabkan adanya sejumlah perlawanan dari team security di kantor tersebut.  Rame ramelah banyak orang memberikan komentar disana. Seperti halnya ICW mengatakan PKS haruslah menghormati proses hukum yang berlaku dan team security disana akan terkena dampak hukum bila tetap melakukan perlawanan. Senada dengan yang disampaikan ICW Jubir KPK mengatakan bahwa KPK sudah menanjalankan proses hukum ini sesuai SOP yang berlaku di KPK. Pun demikian pendapat yang dilayangkan dari kuasa hukum ustad LHI bahwa rencana penyegelan pada hari senin itu tidak menyertakan surat penyitaan dan tidak jelas mana mobil yang akan disita. Pembelaan juga dilakukan Fahri hamzah pada acara di sebuah stasiun televisi (8/5/13) yang akan melakukan perlawanan  bila cara yang digunakan adalah cara cara preman. Kita sungguh menyakini bahwa analisis yang sampai pada telinga kita itu adalah benar adanya, ketidak adilan yang di pertontonkan KPK menyangkut kasus ustad LHI ini begitu menyandera nurani. Hal yang kita yakini bahwa opini yang terbangun antara KPK dan PKS sudah deras mengucur ke publik. Dari kedua opini tersebut akhirnya publik haruslah memutuskan 3 kesimpulan. Yang pertama adalah pro dengan KPK dan melihat PKS sewenang wenang melakukan perlawanan, yang kedua adalah pro dengan PKS mengingat PKS sedang terzalimi, yang ketiga adalah mengambang tidak pro maupun kontra. Sedang di ujung sana sudah menunggu orang yang kipas kipas duduk di kursi santai sambil mengamati reaksi apa yang dilakukan PKS, sambil berkomat kamit berharap agar PKS melakukan kesalahan yang mengakibatkan menurunnya pemilih PKS pada pemilu 2014. Orang ini tidak sadar bahwa kader pks tidaklah bekerja karena sebuah opini, karena hasil survey atau karena masalah yang menyandera 1 atau 2 kader saja. Namun kita bekerja untuk kalimat yang lebih tinggi dari itu yakni meninggikan kalimat Allah. Kalaulah ternyata 2014 benar adanya pks mengalami kekalahan melalui kasus ini. PKS akan terus bekerja dan terus bekerja. Tidak peduli pada tahun berapa Allah karuniakan kemenangan. Hingga bisa memimpin negeri, menata ulang dan menghadirkan kebahagiaan dibumi pertiwi. Jadi kemenangan itu adalah soal waktu. Sebagaimana firman Allah… “ … …  Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) (QS.Ali Imran (3): (140-141). Ini adalah sunnatullah yang harus kita yakini. Tugas kita hanyalah menyiapkan diri sebaik baiknya manakala anugrah kemenangan itu datang. Ini adalah rumus ketuhanan yang tak bisa dilawan. Orang orang yang menghalalkan segala cara hingga sikut kiri dan kanan tak melihat formula ketuhanan ini merasuk dalam jiwa mereka. Maka bila mana kedua hal ini dibenturkan maka manakah yang unggul apakah tabiat manusia ataukah tabiat ketuhanan ?. Ia menyangka bahwa PKS bisa dibonsai dan dikerdilkan menjadi partai pesakitan. PKS bolehlah engkau kerdilkan bersama dengan kasus ini, namun setelah itu kejayaan akan mengiringi. Sesungguhnya diperlukan 8 abad lamanya untuk meraih predikat hadits nabi termulia “Konstantinopel pasti akan ditaklukkan kalian, sebaik-baiknya panglima adalah panglima penaklukan itu, dan sebaik-baiknya pasukan adalah pasukan itu.”. Sehingga kita tahu sebaik baik pasukan itu bernama pasukan mehmed II yakni muhammad al fatih. Yakinlah jama’ah ini adalah sebaik baik pasukan dan sebaik baik panglima yang dipersiapkan Allah untuk menjadi muhammad al fatih di bumi indonesia. Maka untuk itu bersiap siagalah menghadapinya.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Pemuda Sebagai Ide …

Muhammad Handar | 8 jam lalu

Saatnya Import Substitution Strategy untuk …

Ahmad Mikail | 8 jam lalu

Jangan Bakar Jembatan …

Bonekpalsu | 8 jam lalu

Kios Pasar Pon Diperjual Belikan Oknum …

Fajar Agustyono | 8 jam lalu

Kuda-kuda yang Terluka …

Feri Sapran | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: