Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Daniel H.t.

Bukan siapa-siapa, yang hanya menyalurkan aspirasinya. Berasal dari Fakfak, Papua Barat. Twitter @danielht2009

Pelintiran Informasi ala PKS Piyungan

OPINI | 10 May 2013 | 15:06 Dibaca: 13993   Komentar: 155   29

Di laman PKS Piyungan (www.pkspiyungan.org)  ditayangkan berita yang dibuat seolah-olah yang menulis berita tersebut adalah Metro TV. Meskipun benar sumber beritanya diambil dari tayangan Metro TV, Rabu, 8 Mei 2013, tetapi penulis berita itu bukan Metro TV sendiri.

Judul beritanya adalah sebagai berikut:

13681706851230608075

Dengan sengaja menempatkan  “[Metro TV]” di depan judul berita itu memberi kesan yang menulis berita itu adalah Metro TV (metrotvnew.com), padahal bukan.  Terkesan manipulatif.

Apalagi isi beritanya dengan sengaja menggunakan kesimpulan-kesimpulan dan sebutan-sebutan yang memojokkan Juru Bicara KPK Johan Budi ketika berdebat dengan politisi PKS Fahri Hamzah. Kesimpulan dan sebutan tersebut adalah: “Johan Budi tak berkutik,” “kemudian dengan nada ragu Johan Budi menjawab,” “Johan Budi gagap,” dan “publik digiring agar memandang PKS bukan melawan ketidakadilan, tetapi melawan KPK, sebab dengan sengaja PKS diidentikkan pro-korupsi.”

Metro TV tidak mungkin menulis berita yang begitu sangat tendensius, apalagi poin-poinnya diputarbalikkan dari fakta sebenarnya.

Di dalam debat tersebut, Johan Budi sama sekali tidak terdengar gagap, apalagi tidak berkutik. Dia berbicara dan menjawab tuduhan Fahri Hamzah dengan lancar dengan gayanya seperti biasa. Sebaliknya, di ujung acara Fahri Hamzah sendiri mengatakan, “Tapi, dalam perang opini melawan KPK ini kita tidak mungkin menang. … Karena (itu) orang yang kayak Johan Budi ini dipertahankan terus di situ. Karena memang dia jago sekali. … Kita tidak mungkin menang karena dia punya amunisi banyak sekali. Ada sekian banyak orang yang akan ditangkap, ada sekian banyak orang yang disadap, ada sekian banyak kasus yang diulur. …  Kita susah melawan KPK.”

Berita di pkspiyungan, yang disalin mentah-mentah oleh salah satu Kompasianer, Adi Adriana dengan artikelnya berjudul Kenapa Johan Budi Tidak Berkutik, menulisnya sebagai berikut:

“Anda telah melakukan PEMBOHONGAN PUBLIK pak Johan, kami memiliki fakta valid berupa video penyitaan tersebut, silahkan jika KPK memiliki video juga, mari sama-sama kita buktikan di pengadilan.” Tantang Fahri kepada Johan.

Sampai disini, Johan Budi tak berkutik. Kemudian dengan nada ragu Johan Budi menjawab.

“Oke, kita buka di pengadilan kami punya bukti video,” ujar Johan, lalu diam.


Apakah benar kejadiannya seperti itu, silakan anda simak sendiri di rekaman acara tersebut yang ditayangkan di YouTube yang saya sertakan di bawah.

Transkrip sebenarnya adalah sebagai berikut (mulai menit 04:05):

(Presenter Fessy Alwy bersusah payah memberi kesempatan kepada Johan Budi untuk berbicara, karena Fahri Hamzah terus saja berbicara dengan nada mengebu-ngebu tanpa memberi kesempatan kepada Johan Budi untuk berbicara)

Fessy Alwi: “Silakan klarifikasi, Pak Johan Budi. Kita beri kesempatan, Pak Fahri, kepada Pak Johan Budi untuk berbicara!”

Fhari Hamzah (FH): “Nggak, dia nggak bisa jawab! Karena nggak ada suratnya. Bilang saja nggak ada suratnya, kenapa, sih!?”

Johan Budi (JB): “ Lho, suratnya ada, tidak benar tidak ada surat …”

FH (memotong): “Ah, ini gimana ..! Oke lah kita buka persidangan, bagaimana nanti. Kami tunjukkan video kami, anda tunjukkan video kami, CCTV kami!”

JH: “O, iya, silakan, silakan. Kita juga punya surat-surat yang dimaksud. Ada. …”

FH (memotong): “Awas, anda melakukan pembohongan publik. Anda tidak punya surat malam itu …”

JB: “Sebentar …”

FH (memotong): “Anda tidak punya surat!”

(Johan Budi berusaha menjelaskan, tetapi terus dipotong oleh FH): “Itu bohong! Pembohongan publik! Hati-hati! KPK telah terbiasa melakukan pembohongan publik seperti itu.”

(Johan Budi tak bisa melanjutkan bicaranya, baru baru keluar satu-dua kata terus ditimpahi dengan suara FH. Fessy Alwi berupaya untuk menengahi, “Kita beri kesempatan kepada Pak Johan untuk mengklarifikasi,” kata Fessy, tetapi, FH masih terus menuduh JB berbohong, “Anda bohong, bohong!,” katanya menekan pada setiap kata “bohong.”

Sepanjang acara itu, Fahri Hamzah terus memotong penjelasan  dari Johan Budi, meskipun Fessy Alwi berkali-kali mengingatkannya untuk memberi kesempatan kepada Johan Budi melakukan klarifikasi.

Sedikitpun tidak ada kesan Johan Budi tak berkutik karena pernyataan-pernyataan Fahri Hamzah itu. Silakan anda saksikan sendiri. Johan Budi berkjali-kali berusaha bicara, tetapi berkali-kali pula dipotong Fahri dengan kata-kata menuduh: “Anda berbohong, KPK pembohong!”

Demikian juga dengan kalimat “dengan nada ragu Johan Budi menjawab, ‘Oke, kita buka di pengadilan kami punya bukri video,’ ujar Johan lalu diam.”

Tidak pernah Johan Budi ragu, gagap, terdiam, apalagi tak berkutik dalam acara tersebut. Yang benar, Fahri tidak mau memberi kesempatan kepada Johan untuk berbicara. Johan Budi juga tidak pernah mengatakan, “Kami juga punya bukti video.”

Jelas sekali ini suatu bentuk manipulasi pemberitaan.

Mungkin yang dimaksud penulis berita di pkspiyungan dengan “Johan Budi tak berkutik” itu adalah karena setiap kali Johan Budi mau bicara, selalu saja dipotong oleh Fahri Hamzah. Itu sih, bukan namanya “Johan Budi tak berkutik,” tetapi lebih tepat Johon Budi sudah menjadi korban “premanisme debat” ala Fahri. Preman ‘kan biasanya tidak bisa diajak berdebat. Mereka selalu bicara keras, sambil menuding-nuding, dan tidak pernah memberi kesempatan kita untuk berbicara.

Sedangkan Fahri Hamzah berkali-kali justru menuding KPK itu seperti preman. Padahal dia sendiri berperilaku seperti preman. Di antaranya dia bilang, seandainya dia ada di lokasi kejadian waktu itu, dia akan meninju petugas KPK itu. Selengkapnya baca artikel saya yang berjudul Fahri hamzah, Kalau Begini, yang Kayak Preman Itu Siapa?

Selama ini KPK juga tidak pernah mengidentikkan siapapun tersangka kasus korupsi dengan instansi atau partai politiknya, termasuk PKS. Yang KPK tahu hanya orang per orang itu harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Tidak pernah KPK terkesan sedikit pun mengaitkannya kasus seseorang dengan instansi atau partai politiknya, apalagi menyatakan institusi atau partai politik itu ikut bertanggung jawab. Hal ini sudah berkali-kali dijelaskan KPK. Termasuk di acara di Primetime News Metro TV kali ini.

Dengan sangat jelas Johan Budi menjelaskan (menit 12:07): “Kita selama ini tidak pernah mengait-ngaitkan dengan PKS, ya. Selalu saya sampaikan bahwa LHI sebagai tersangka karena dia penyelenggara negara, dia anggota DPR, yang kebetulan dia Presiden PKS. Tetapi, kita sama sekali tidak ada kaitannya dengan PKS-nya. Ini yang penting perlu disampaikan.”

Tetapi lihatlah, apa yang ditulis di pkspiyungan tersebut di atas?

Mereka telah memanipulasinya sehingga informasinya menjadi begini:

Tapi kemudian publik digiring, bahwa ini adalah pertarungan antara PKS dan KPK, dengan tujuan agar akal bawah sadar public, memandang bahwa PKS bukan melawan ketidakadilan, akan tetapi melawan KPK, dan ketika itu PKS akan jatuh, sebab PKS akan diidentikan pro-korupsi. ***

Artikel terkait:

- Kalau Begini, Siapa yang Sebenarnya Kayak Preman?

- Ketika Fami Menguliahi Johan Budi

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Robohkah Surau Kami Karena Harga BBM Naik? …

Arnold Mamesah | 8 jam lalu

Sahabat Hati …

Siti Nur Hasanah | 8 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 8 jam lalu

Ada Oknum “Nakal” di BPN Jakarta …

Syaifudin | 9 jam lalu

Wow, Cantiknya Puteri Bu Susi …

Den Hard | 9 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: