Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Miqdad Husein

Sangat menyukai joke-joke segar

Diduga Banyak Anggota DPR Ngemplang Dana Reses

OPINI | 10 May 2013 | 06:53 Dibaca: 273   Komentar: 1   0

Mengejutkan ketika anggota DPRD tingkat II justru menghujat, memaki-maki anggota DPR. Bahkan, anggota DPR yang separtai. Apa alasannya?

Ternyata, berdasarkan penjelasan mereka, para anggota DPR itu sebagian besar tak pernah mau reses. Terjun ke konstituen. Lalu, kemana dana untuk reses, konstituen yang nilainya setahun sekitar 700 jutaan itu -belakangan dana reses naik hingga pertahun lebih dari satu milyar. Yang pasti hampir tak pernah sampai pada masyarakat. Tak pernah ada kegiatan pembinaan konstituen dari anggota DPR. Yang pontang panting menghadapi konstituen ya anggota DPRD tingkat II.

Menurut mereka, dengan sistem lumsum dana yang diterima anggota DPR itu jauh panggang dari penggunaan kepentingan membina konstituen. Lebih banyak masuk kantong sendiri dan tak jelas pertanggungjawabannya. Macam-macam modusnya. Ada yang tega hanya minta cap dan tanda tangan pengurus DPD/DPC lalu memberi uang sekadarnya. Ada yang datang ke pengurus di tingkat II saja, basa basi, lalu menghilang. Lalu, sebagian besar dari mereka tak jelas kemana perginya. Resmi diumumkan mereka reses, tapi nongol saja ngak ke Dapilnya. Bisa dihitung dengan jari anggota DPR yang turun membina konstituen di Dapilnya.

Ironis. Pemilih, yang menjadikan mereka sebagai anggota DPR saja diabaikan bahkan di kemplang dananya, apalagi yang lainnya. Padahal dana itu disiapkan untuk berkomunikasi, menyerap aspirasi, membina konstituen dan sejenisnya. Semua terkait kepentingan anggota DPR sendiri. Termasuk nanti untuk kepentingan saat pemilu agar terpilih lagi. Lah, kalau yang begini, yang terkait kepentingan sendiri saja, dikhianati, diabaikan, uang pembinaan dikantongi, sisi apalagi yang bisa diharapkan dari anggota DPR itu.

Kapan mereka menemui konstituen di Dapilnya? Sekali lima tahun, jawab mereka. Usai pemilu, menghilang. Tak pernah datang. “Makanya kami kompak, pemilu mendatang, kami hanya mengajak pemilih mencoblos kertas suara DPRD tingkat II,” teriak mereka, kesal.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Tanggapan Soal “PR Anak 2 SD yang …

Hendradi Hardhienat... | | 22 September 2014 | 14:36

Analisis Ancaman ISIS di Australia …

Prayitno Ramelan | | 22 September 2014 | 13:47

Software Engineer/Programmer Dibayar Murah? …

Syariatifaris | | 22 September 2014 | 10:16

Revolusi Teknologi Perbankan: Dari ATM ke …

Harris Maulana | | 22 September 2014 | 11:19

[Blog Reportase] Nangkring dan Test Ride …

Kompasiana | | 20 September 2014 | 18:06


TRENDING ARTICLES

Cak Lontong Kini Sudah Tidak Lucu Lagi …

Arief Firhanusa | 10 jam lalu

Asyiknya Acara Pernikahan di Jakarta (Bukan …

Irwan Rinaldi | 11 jam lalu

Matematika Itu Hasil atau Proses? …

Pical Gadi | 12 jam lalu

Usia 30 Batas Terbaik untuk Menjomblo? …

Ariyani Na | 12 jam lalu

Keluarga Korban MH17 Tolak Kompensasi dari …

Tjiptadinata Effend... | 17 jam lalu


HIGHLIGHT

Phsycologhy Dangdut Pengaruhi Cara Pandang …

Asep Rizal | 8 jam lalu

“Triple Steps Solution” Upaya …

Hardiansyah Nur Sah... | 8 jam lalu

Every Children is Special …

Hardiansyah Nur Sah... | 8 jam lalu

Pemilik Bagasi Lost 500 Juta Rupiah Itu …

Irawan | 8 jam lalu

Habibi & Kakak vs Sentimentil Sang Guru …

Daniel Oslanto | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: