Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ali Yasin

Peminat perubahan sosial

Wanita dalam Politik Durjana

OPINI | 09 May 2013 | 19:26 Dibaca: 660   Komentar: 0   0

Upload berita Ahmad Fatanah, tersangka kasus suap impor sapi cukup menghebohkan. Tak kurang tiga wanita berparas cantik, silih berganti muncul di layar TV. Ada yang berlatarbelakang penyanyi dangdut, foto model, sampai dengan pemain sinetron. Ayu Azhari, artis senior pun tak luput dari sorotan karena dikabarkan dekat dengan tersangka.

Gosip pun menyebar luas ke tengah masyarakat. Bahkan, sorotan pun seakan beralih ke cerita-cerita dibalik kisah suap tersebut. Tentang mula pertmeuan dan percintaan, pemberian hadiah mobil dan uang, sampai dengan kisah pernikahan siri. Tentu semua kita mengetahui kisah tersebut dari media.

Apa pentingnya membahas Ahmad Fatanah? Tentu sebelum tertangkap KPK kita tak ambil pusing dengan dia. Namun hadirnya wanita berparas cantik dalam pusaran kasus tersebut, menjadi topik analisa tersendiri. Kita pasti masih ingat terungkapnya kisah Rani Juliani dalam kasus eks Ketua KPK Antasari Azhar yang dituduh ikut terlibat dalam kasus pembunuhan Nasrudin.

Wanita menjadi bagian tak terpisah dalam cerita atau perselingkuhan politik. Dulu Bill Clinton pernah digosipkan dekat dengan Monica Lewinsky sehingga berbagai isu tak sedap berhamburan di Gedung Putih. Direktur CIA Jendral Petraeus pun goyah dan mengundurkan diri karena terlibat “perselingkuhan” dengan Paula Broadwell, seorang penulis biografi.

Apa yang terjadi di negeri ini tak berbeda jauh. Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, dikabarkan dekat dengan beberapa wanita seperti Ratna Sari Dewi, Oetari, Inggit Ganarsih dan lain sebagainya. Dalam panggung cerita politik lokal, sama seperti cerita kedekatan Bupati Cirebon dengan penyanyi dangdut Melinda, Bupati Garut Aceng Fikri dengan beberapa wanita yang kemudian dipersoalkan karena dibawah umur dan tentu diluar itu masih banyak.

Berbagai istilah seperti wanita dekat, wanita simpanan, istri siri, WIL (wanita idaman lain) sampai dengan kekasih gelap, menjadi bagian dari epik kehidupan politisi. Entah gosip ataupun kenyataan, hal tersebut sulit diingkari. Kesimpulannya, wanita menjadi salah satu pusaran cerita kekuasaan atau politik yang diketahui publik.

Hal ini menandakan akan terulangnya cerita keterlibatan wanita yang disebut demikian dalam sketsa panggung politik nasional, regional maupun lokal. Magnet wanita cantik, tentu sama seperti hasrat ingin berkuasa. Seseorang yang merasa dipuncak kuasa, tentu yang dicari adalah kepuasan yang lain. Wanita menjadi salah satu pilihan hasrat yang melengkapi.

Maka dalam teori hasrat, kita mengenal keinginan menggebu untuk memiliki dan menguasai harta, tahta, wanita. Jelas bahwa wanita tergolong dalam hasrat kepemilikan/kepenguasaan yang tinggi. Artinya bila berhasil memiliki, maka akan muncul kepuasaan yang tinggi pula. Bisa secara kuantitas, bisa pula secara kualitas. Bergantung pada pelakunya.

Disinilah kita bisa memahami, mengapa para politisi yang sebelumnya digambarkan sangat arif, bijak, bisa dipanuti atau terlihat sebagai sosok yang setia pada keluarga, ditengah perjalanan kekuasannya terlibat percintaan dengan wanita lain yang biasanya secara fisik terlihat lebih menggoda baik dari segi paras, bodi, pesona, kedudukan ataupun daya tarik lainnya.

Apa yang terjadi pada Ahmad Fatanah, jika itu benar, mungkin bisa menggambarkan hal tersebut. Sosok cantik seperti Maharani Suciono yang seorang mahasiswi,  Ayu Azhari yang notabene artis yang beberapa kali cerai, vitalia sesha yang seorang model tiba-tiba muncul. Mungkin saja, masih ada yang lain bila suatu saat diketahui oleh media.

Yang menjadi catatan miris adalah, haruskah wanita menjadi komoditi, entah untuk alasan hasrat cinta dan perselingkuhan, atau money laundry (pencucian uang) sampai dengan untuk kepentingan gratifikasi dalam bentuk sex? Oh tentu sangat tak pantas. Dalam kacamata demokrasi, ketika wanita diberi ruang yang cukup untuk beraktualisasi, tentunya justru untuk menghindari komodifikasi, komersialisasi atau eksploitasi.

Wanita, memiliki kedudukan mulia dan oleh karenanya harus dimuliakan. Kisah percintaan, perselingkuhan, atau dalam bentuk yang lain yang dilakukan oleh para politisi tentu mencedrai kemuliaan wanita. Politisi tak seharusnya menjadikan wanita dalam posisi yang rentan terhadap penghinaan tersebut. Sadarlah wahai politisi.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Airin Menjawab Kritik Kinerja [HUT ke-6 Kota …

Gapey Sandy | | 26 November 2014 | 07:09

Situ Bungur dalam “CMORE” (HUT …

Agung Han | | 26 November 2014 | 07:13

Waduh! Denda 5000€ Untuk Rumah Bercat …

Gaganawati | | 26 November 2014 | 19:06

The Hunger Games-Reality Show? …

Iwan Permadi | | 26 November 2014 | 17:39

Tulis Aspirasi dan Inspirasi Aktif Bergerak …

Kompasiana | | 24 November 2014 | 20:22



HIGHLIGHT

Rayuan Pohon Beringin …

Robby Anugerah | 10 jam lalu

Dalam Sebuah Hubungan, Jangan Gantung …

Syaiha | 11 jam lalu

Saran yang Menyesatkan Dari Petugas Call …

Erwin Mulialim | 11 jam lalu

Pangdam VII/Wirabuana Bakal Bekali Wawasan …

Ilmaddin Husain | 11 jam lalu

Pemuda Sebagai Ide …

Muhammad Handar | 12 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: