Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ali Yasin

Peminat perubahan sosial

Wanita dalam Politik Durjana

OPINI | 09 May 2013 | 19:26 Dibaca: 657   Komentar: 0   0

Upload berita Ahmad Fatanah, tersangka kasus suap impor sapi cukup menghebohkan. Tak kurang tiga wanita berparas cantik, silih berganti muncul di layar TV. Ada yang berlatarbelakang penyanyi dangdut, foto model, sampai dengan pemain sinetron. Ayu Azhari, artis senior pun tak luput dari sorotan karena dikabarkan dekat dengan tersangka.

Gosip pun menyebar luas ke tengah masyarakat. Bahkan, sorotan pun seakan beralih ke cerita-cerita dibalik kisah suap tersebut. Tentang mula pertmeuan dan percintaan, pemberian hadiah mobil dan uang, sampai dengan kisah pernikahan siri. Tentu semua kita mengetahui kisah tersebut dari media.

Apa pentingnya membahas Ahmad Fatanah? Tentu sebelum tertangkap KPK kita tak ambil pusing dengan dia. Namun hadirnya wanita berparas cantik dalam pusaran kasus tersebut, menjadi topik analisa tersendiri. Kita pasti masih ingat terungkapnya kisah Rani Juliani dalam kasus eks Ketua KPK Antasari Azhar yang dituduh ikut terlibat dalam kasus pembunuhan Nasrudin.

Wanita menjadi bagian tak terpisah dalam cerita atau perselingkuhan politik. Dulu Bill Clinton pernah digosipkan dekat dengan Monica Lewinsky sehingga berbagai isu tak sedap berhamburan di Gedung Putih. Direktur CIA Jendral Petraeus pun goyah dan mengundurkan diri karena terlibat “perselingkuhan” dengan Paula Broadwell, seorang penulis biografi.

Apa yang terjadi di negeri ini tak berbeda jauh. Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, dikabarkan dekat dengan beberapa wanita seperti Ratna Sari Dewi, Oetari, Inggit Ganarsih dan lain sebagainya. Dalam panggung cerita politik lokal, sama seperti cerita kedekatan Bupati Cirebon dengan penyanyi dangdut Melinda, Bupati Garut Aceng Fikri dengan beberapa wanita yang kemudian dipersoalkan karena dibawah umur dan tentu diluar itu masih banyak.

Berbagai istilah seperti wanita dekat, wanita simpanan, istri siri, WIL (wanita idaman lain) sampai dengan kekasih gelap, menjadi bagian dari epik kehidupan politisi. Entah gosip ataupun kenyataan, hal tersebut sulit diingkari. Kesimpulannya, wanita menjadi salah satu pusaran cerita kekuasaan atau politik yang diketahui publik.

Hal ini menandakan akan terulangnya cerita keterlibatan wanita yang disebut demikian dalam sketsa panggung politik nasional, regional maupun lokal. Magnet wanita cantik, tentu sama seperti hasrat ingin berkuasa. Seseorang yang merasa dipuncak kuasa, tentu yang dicari adalah kepuasan yang lain. Wanita menjadi salah satu pilihan hasrat yang melengkapi.

Maka dalam teori hasrat, kita mengenal keinginan menggebu untuk memiliki dan menguasai harta, tahta, wanita. Jelas bahwa wanita tergolong dalam hasrat kepemilikan/kepenguasaan yang tinggi. Artinya bila berhasil memiliki, maka akan muncul kepuasaan yang tinggi pula. Bisa secara kuantitas, bisa pula secara kualitas. Bergantung pada pelakunya.

Disinilah kita bisa memahami, mengapa para politisi yang sebelumnya digambarkan sangat arif, bijak, bisa dipanuti atau terlihat sebagai sosok yang setia pada keluarga, ditengah perjalanan kekuasannya terlibat percintaan dengan wanita lain yang biasanya secara fisik terlihat lebih menggoda baik dari segi paras, bodi, pesona, kedudukan ataupun daya tarik lainnya.

Apa yang terjadi pada Ahmad Fatanah, jika itu benar, mungkin bisa menggambarkan hal tersebut. Sosok cantik seperti Maharani Suciono yang seorang mahasiswi,  Ayu Azhari yang notabene artis yang beberapa kali cerai, vitalia sesha yang seorang model tiba-tiba muncul. Mungkin saja, masih ada yang lain bila suatu saat diketahui oleh media.

Yang menjadi catatan miris adalah, haruskah wanita menjadi komoditi, entah untuk alasan hasrat cinta dan perselingkuhan, atau money laundry (pencucian uang) sampai dengan untuk kepentingan gratifikasi dalam bentuk sex? Oh tentu sangat tak pantas. Dalam kacamata demokrasi, ketika wanita diberi ruang yang cukup untuk beraktualisasi, tentunya justru untuk menghindari komodifikasi, komersialisasi atau eksploitasi.

Wanita, memiliki kedudukan mulia dan oleh karenanya harus dimuliakan. Kisah percintaan, perselingkuhan, atau dalam bentuk yang lain yang dilakukan oleh para politisi tentu mencedrai kemuliaan wanita. Politisi tak seharusnya menjadikan wanita dalam posisi yang rentan terhadap penghinaan tersebut. Sadarlah wahai politisi.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kampanye Wisata Thailand’s Best …

Olive Bendon | | 28 July 2014 | 16:49

Lebaran di Jerman dengan Salad …

Gitanyali Ratitia | | 29 July 2014 | 16:53

Membuat Hidangan Lebaran di Moskow (Jika …

Lidia Putri | | 28 July 2014 | 17:08

Visa on Arrival Turki Dihapus? …

Sifa Sanjurio | | 29 July 2014 | 06:03

Memilih Tempat yang Patut di Kunjungi, Serta …

Tjiptadinata Effend... | | 29 July 2014 | 19:46


TRENDING ARTICLES

Pijat Ala Dubai International Airport …

Ardi Dan Bunda Susy | 28 July 2014 23:45

Jangan Terlalu Berharap Banyak Pada Jokowi …

Bambang Srijanto | 28 July 2014 22:40

Berlebaran Tetap Gaya dengan Kaos Kompasiana …

Topik Irawan | 28 July 2014 21:13

Jangan Nanya Panci ke Polisi Amerika …

Usi Saba Kota | 28 July 2014 18:24

” Dari Tahun Ketahun Tak Pernah …

Rere | 28 July 2014 13:56

Ingin menyampaikan pertanyaan, saran atau keluhan?

Subscribe and Follow Kompasiana: