Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Menariknya Kasus LHI

OPINI | 09 May 2013 | 00:25 Dibaca: 748   Komentar: 11   0

Melihat kasus LHI

Dalam perkembangan kasus LHI, orang pasti tahu sekarang LHI bukanĀ  tersangka kasus impor daging saja tetapi juga tersangka TPPU atau pencucian uang,,,

untuk kasus korupsi menurut pengamatan saya KPK masih mencari bukti yang kuat,,dahulu KPK menangkap LHI karena menemukan ada 2 alat bukti yang cukup (perkiraan saya 2 bukti yang cukup itu, pertama pengakuan AF tentang penyuapan 1 M dan itu belum sampai ke tangan LHi, serta satu lagi bukti rekaman percakapan).

Akan tetapi AS (pimpinan KPK) sudah membantah bahwa tidak ada rekaman percakapan antara LHI dan MENTAN terkait kuota impor.so KPK harus cari bukti lain…

Logika sederhana tentang pencucian uang

Dalam sebuah perjalanan misalkan dari bandung ke jakarta

Lhi disangkakan sudah berada di jakarta, padahal dia masih di Bandung, dijakarta dia sudah beli ini beli itu, ditambahkan lagi LHI di Jakarta sudah bermain2 dengan wanita2 temen AF (opini publik),

Contoh kasusTPPU oleh DS, logikanya dia sudah pernah melakukan perjalan Bandung- Jakarta pada tahun 2011,,dia ngakunya naik pesawat, padahal naik kereta ekonomi,,dan sisa uang jajan dia belikan rumah, Pom bensin dll.kasus ini ketahuan di tahun 2012. Artinya uang nya sudah berada di tangan DS..dan dia kena tersangka TPPU,wajar,,

Kembali ke kasus LHI, disini dia belum pernah melakukan perjalanan ke Jakarta tetapi sudah disangkakan berada disana, sedangkan uang bensin masih ditangan orang lain.

Artinya KPK harus membuktikan dahulu bahwa LHI pernah melakukan perjalanan dari bandung ke jakarta..kalau disangkakan sudah berada di jakarta, maka KPK harus membuktikan perjalananya sebelum ketangkap KPK,

Yang jadi pertanyaan dalam diri saya ,pencucian uang yang dilakukan LHI itu, uang dari mana?uangnya aja belum diterima sama LHI,,berarti KPK harus membuktikan bahwa antara tahun 2011-2012 LHI pernah melakukan perjalan ke jakarta dan mendapat uang saku serta uangnya untuk beli mobil.(yang mau disita)

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Kejanggalan Hasil Laboratorium Klinik …

Wahyu Triasmara | | 19 September 2014 | 12:58

“Kita Nikah Yuk” Ternyata …

Samandayu | | 19 September 2014 | 08:02

Masa sih Pak Jokowi Rapat Kementrian Rp 18 T …

Ilyani Sudardjat | | 19 September 2014 | 12:41

Seram tapi Keren, Makam Belanda di Kebun …

Mawan Sidarta | | 19 September 2014 | 11:04

Nangkring dan Test Ride Bareng Yamaha R25, …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 06:48


TRENDING ARTICLES

Wajar, Walau Menang Atas Malaysia, Peringkat …

Achmad Suwefi | 5 jam lalu

Memilih: “Kursi yang Enak atau Paling …

Tjiptadinata Effend... | 6 jam lalu

Ahok Rugi Tinggalkan Gerindra! …

Mike Reyssent | 8 jam lalu

Ahok Siap Mundur dari DKI …

Axtea 99 | 13 jam lalu

Surat untuk Gita Gutawa …

Sujanarko | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Fatin, Akankah Go Internasional? …

Orang Mars | 7 jam lalu

“Apartemen” untuk Penyandang …

Arman Fauzi | 8 jam lalu

Janji Demokrasi Kita …

Ahmad Fauzi | 8 jam lalu

Kacau Sistem, Warga Ilegal …

Imas Siti Liawati | 8 jam lalu

Perekayasaan Sosial: Bensin Premium Perlu …

Destin Dhito | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: