Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Dadi Kristian

hanya seorang penanam tomat

Terima Kasih Pak LHI, Anda Telah Menghancurkan PKS!

OPINI | 08 May 2013 | 10:18 Dibaca: 715   Komentar: 18   2

Tidak seperti Nasdem, PKS adalah partai yang benar-benar dibangun dari bawah, dari nol. Tanpa dana melimpah, tanpa tokoh terkenal, PKS (dulu PK) dibangun terutama dengan mengandalkan militansi dan keikhlasan para kadernya. Kader PKS yang rata-rata anak muda muslim perkotaan kelas menengah kebawah dan aktivis kampus perkotaan bahu membahu, mengeluarkan dana dari kantong sendiri, menyisihkan penghasilan bulanan untuk menjalankan roda partai.

PKS berhasil menjadi salah satu partai yang besar, menjadi bagian dari kekuasaan, mengemban amanah diberbagai bidang kehidupan bermasyarakat. Amanah yang semakin besar tersebut tidak diimbangi dengan mekanisme pengendalian internal yang baik. Sampai datanglah fitnah itu. Yang saya maksud bukan KPK, tapi Fitnah kekuasaan. Jauh sebelum itu Tiba tiba datang LHI entah darimana LHI ini. Karena proses pemilihan presiden PKS hanya diketahui oleh kader super atau petinggi partai. Para Kader hanya diberi tahu bahwa “LHI adalah kader terbaik partai sehingga pantas menjadi Presiden Partai”. Dan sebagai kader yang baik, harus menerima terpilihnya LHI tersebut dengan Iklas sambil berseru “kami dengar, dan kami taat’.

Tapi Pak Presiden kita itu ternyata punya seorang sahabat, sahabat yang dikenalnya waktu kuliah di arab sana. Persahabatan tersebut berlanjut sampai ke Indonesia bahkan mungkin dibawa-bawa ke partai. Meskipun banyak kader PKS yang tidak kenal siapa Amad Fatonah ini dan memang Ahmad fatonah ini bukan kader PKS, tapi yang jelas banyak yang mengenal Ahmad fatonah sebagai sahabat dan ajudan pak LHI.

LHI besahabat dengan ahmad fatonah, yang konon mempunyai 5 istri. Mungkin Pak LHI lupa, bahwa batas maksimal istri bagi seorang muslkim adalah 4, terbukti Pak LHI tidak mengingatkan sahabatnya ini. Mungkin pak LHI juga lupa dengan sabda Rasulullah SAW “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628)”

Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)

Jelas sekali Pak LHI lupa dengan nasihat kanjeng Nabi diatas, buktinya Ahmad fatonah yang dikenal “doyan perempuan”, bisa tetap bersahabat erat dengan pak LHI, dan pak LHI tidak mengingatkan. Ahmad Fatonah selain dikenal sebagai playboy cap kadal juga dikenal sebagai makelar proyek dan makelar politik, yang kekayaannya dibangun dari hasil tipu menipu.

Nasi telah menjadi bubur, PKS semakin terpuruk, entah bagaimana cara menyelamatkannya. Padahal sepanjang yang saya tahu, dari sekian banyak partai, PKS lah yang mempunyai system pengkaderan terbaik, metode dan tujuan perjuangan yang jelas, doktrin yang lengkap, dll. semuanya hancur begitu saja karena persahabatan LHI dan Ahmad Fatonah. Kasihan kader-kader PKS yang telah berjuang untuk membesarkan partai selama bertahun-tahun. Hancur begitu saja oleh seorang AF.

Pemilu mendatang, mungkin saya akan golput, mungkin juga akan tetap memilih. Jika tetap memilih kemungkinan saya akan tetap memilih PKS, alasannya sederhana karena partai lain lebih buruk. Jadi saya memilih yang terbaik dari yang terburuk. Kecuali kalau ada partai lain yang benar2 lebih baik. Sebenarnya saya mempertimbangkan Gerindra, tapi partai ini terlalu mengandalkan sosok Prabowo Subianto, entah jadi apa partai gerindra kalau tanpa prabowo. Saya kurang menyukai partai yang mengandalkan figuritas.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Menjelajah Pulau Karang Terbesar di …

Dizzman | | 31 October 2014 | 22:32

Menjawab Keheranan Jokowi …

Raden Suparman | | 31 October 2014 | 08:42

Hati Bersih dan Niat Lurus Awal Kesuksesan …

Agung Soni | | 01 November 2014 | 00:03

Rayakan Ultah Ke-24 JNE bersama Kompasiana …

Kompasiana | | 31 October 2014 | 12:53


TRENDING ARTICLES

Susi Mania! …

Indria Salim | 5 jam lalu

Gadis-Gadis berlagak ‘Murahan’ di Panah …

Sahroha Lumbanraja | 7 jam lalu

Pramugari Cantik Pesawat Presiden Theresia …

Febrialdi | 9 jam lalu

Kerusakan Demokrasi di DPR, MK Harus Ikut …

Daniel H.t. | 10 jam lalu

Dari Pepih Nugraha Untuk Seneng Utami …

Seneng | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

Sengkuni dan Nilai Keikhlasan Berpolitik …

Efendi Rustam | 8 jam lalu

Wakatobi, Potongan Surga yang Jatuh ke Bumi …

Arif Rahman | 8 jam lalu

Danau Poso, Keelokannya Melahirkan Rindu …

Jafar G Bua | 9 jam lalu

Politik Saling Sandera …

Salman Darwis | 10 jam lalu

Bank Papua, Sponsor Tunggal ISL Musim Depan …

Djarwopapua | 11 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: