Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Rocky Zulkarnain

seorang ayah dgn 1 putra & 1 istri,Interisti seumur hidup,Pengangguran sukses yg g’butuh dibantu orang selengkapnya

Strategi Marketing Campaign untuk Lumajang

OPINI | 08 May 2013 | 21:34 Dibaca: 231   Komentar: 0   0

Untuk mengupas lebih jauh strategi marketing dengan pendekatan political marketing di Lumajang maka kita perlu mengulas dari awal terutama menyiapkan strategi yang lebih fokus pada kampanye. Bagaimana bisa merebut hati rakyat Lumajang sebagai pemilih utama bagi kandidat yang diusung. Strategi marketing ini tentu saja membutuhkan persiapaan yang sangat matang dan hati-hati terutama dari sisi kampanye yang dilakukan dengan mengangkat tema-tema yang mampu mencuri perhatian pemilih.

Perlu dipahami kampanye politik dalam sebuah tatanan negara modern telah bergeser dari political war dan debat-debat yang penuh intrik bahkan cenderung black campaign dengan saling menjatuhkan menjadi sebuah marketing war yang kreatif, inovatif dan persuasif. Bahkan bila dikemas dalam suatu integrasi komunikasi pemasaran yang baik maka dia akan menjadi tontonan yang menarik ketimbang penuh konflik.

Kunci utamanya terletak pada penerimaan voter market yakni rakyat Lumajang, bukan sebuah opini sempit semata. Selain itu sebaiknya tema-tema kampanye yang akan diusung lebih tepat dengan realita permasalahan umum yang sering dihadapi rakyat Lumajang seperti kondisi perekonomian yang minim, masalah keberlanjutan pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, serta yang paling krusial membuka lapangan kerja baru. Tema-tema kampanye seperti itu tentu saja mesti diramu dengan cantik nantinya oleh juru kampanye sehingga dapat diterima dengan baik oleh simpatisannya dan yang pasti STOP JUAL JANJI , karena kondisi pemilih sekarang sudah pintar memilah dan menilai dari penawaran program kerja yang akan diusung oleh kandidat. Lalu pertanyaan mendasarnya bagaimana bisa memasarkan para kandidat mereka agar tampil memukau dan bisa diterima seluruh pemilih dengan senang hati?

Berikut ini akan dipaparkan secara bertahap suatu pendekatan political marketing yang dipadukan dengan integrasi pemasaran terpadu kampanye yang mesti dilakukan tim sukses kandidat agar bisa memenangkan Pilkada dengan sukses. Kiat suksesnya adalah dengan membuat strategi marketing campaign yang mesti terencana dan terarah layaknya sebuah strategi marketing perusahaan ketika akan melanjutkan bisnisnya di tahun depan agar bisa memenangkan pasar.

1. Strategi Segmentasi: Memilah Pemilih Loyal dan tak Loyal. Umumnya keinginan seorang politisi ingin meraih suara paling terbanyak dari pemilih sehingga nantinya hasil perhitungan suara akan mengangkat dirinya sebagai pemimpin, tentu saja itu tidak mungkin. Dalam iklim yang kompetitif dengan kondisi multi partai yang saat sekarang berlaku di Indonesia tentu saja ini menjadi kendala besar. Karena karakter para pemilih sangat beragam. Aspirasi seorang pemilih bisa saja sama atau berbeda dengan aspirasi pemilih lainnya, selain itu perbedaan karakter juga akan menyebabkan mereka memberi respon yang berbeda terhadap pendekatan komunikasi tertentu. Para calon perlu memilah milah para pemilih menjadi beberapa kelompok berdasarkan karateristik tertentu. Proses pengelompokan pasar ini yang disebut segmentasi dan kelompok yang dihasilkan disebut sebagai segmen. Segmentasi dapat dilakukan dengan banyak pendekatan dan para calon dapat memilih salah satu pendekatan atau mengkombinasikan beberapa pendekatan sebagai kerangka menyusun startegi pemasaran yang diharapkan dapat menjadi acuan dalam memilah pemilih. Adapun pendekatan segmentasi yang dapat dilakukan dengan cara membuat segmentasi demografi. Segmentasi demografis digunakan untuk memilah para pemilih berdasarkan karakteristik demografis seperti usia, gender, agama, pendidikan, pekerjaan, kelas social-ekonomi dan sebagainya. Data pemilih dapat menggunakan data yang sudah disusun oleh lembaga BPS, KPUD, Panwaslu, atau data yang dirilis oleh lembaga pengamat pemilu, LSM dan lainnya sebagai acuan untuk memilah pemilih yang potensial dan dan tidak potensial. Perlu diperhatikan karakteristik demografis yang telah disebutkan terutama karakteristik segmentasi agama hingga saat ini masih merupakan salah satu pendekatan segmentasi yang penting untuk memahami karakter pemilih di Indonesia. Umumnya para pemilih yang memegang kuat ajaran agama cenderung memilih partai-partai agama atau partai yang dipersepsikan sebagai partai yang berlandaskan agama. Demikian pula segmen pemilih yang tidak memilih partai agama akan melirik partai yang memiliki landasan nasionalis dan pluralis. Bahkan koalisi partai agama dapat menjadi suatu cara pengumpulan suara dari simpatisan partai mereka dimana partai-partai tersebut ada yang mengusung salah satu calon sehingga dapat dimungkin suara akan menjadi banyak pada saat penghitungan suara.

2. Targeting: Strategi Menjaring Pemilih Potensial. : Targeting atau menetapkan sasaran adalah memilih salah satu atau beberapa target pemilih potensial yang akan dibidik untuk menetapkan sasaran obyektif. Sebelum menentukan target sasaran terlebih dahulu kita mulai dengan memahami wilayah pemilihan. Masing-masing calon mesti melihat jumlah total pemilih disuatu wilayah pemilih yang ikut dalam pemilu lalu dengan membandingkan pemilih potensial yang ikut dengan jumlah suara minimal yang kemungkinan akan diraih. Dengan mengesampingkan kelompok golongan putih (non voter) maka akan didapat 3 target besar pemilih potensial :

a. Para pendukung calon, di sini dapat di bagi 2 lagi: Pendukung inti atau lazim disebut basis massa, ini adalah pendukung fanatik yang sangat sulit berubah pilihannya. Pendukung lapis kedua yang lazim disebut partisan, merupakan massa pendukung yang kemungkinan masih bisa berubah pilihannya oleh faktor-faktor tertentu atau tawaran- tawaran tertentu.

b. Para pendukung calon pesaing yang juga terdiri dari pendukung inti dan pendukung lapis kedua.

c. Massa mengambang, yakni pemilih yang belum memutuskan kepada pihak mana suara akan diberikan. Massa ini juga dipilah menjadi dua, yakni Nonpartisipan dimana dari pemilu ke pemilu keputusan pilihan tidak menetap pada satu calon tertentu tapi bisa berubah-ubah tergantung faktor situasional. Partisipan yang pernah menjadi pendukung calon tertentu tapi akan mengubah pilihannya karena merasa aspirasinya tidak terpenuhi.

Seperti yang ditemui dari hasil survei LSI menyebutkan tentang tiga faktor terpenting yang menjadi alasan para pemilih untuk memilih, yakni program (22 persen), kesukaan akan tokoh atau pemimpin partai (20 persen), dan kebiasaan (20 persen).

  1. Positioning: Citra Calon Dikenalnya figur calon oleh masyarakat luas merupakan persoalan yang sangat penting, bahkan komunikasi dengan menggunakan promosi yang jorr-jorran belumlah cukup untuk menempelkan citra seorang calon di memori setiap orang. Diperlukan suatu strategi pemasaran yang berkaitan dengan citra yang disebut dengan positioning, tahap ini merupakan suatu langkah yang sangat urgensi karena seperti mencari jendela di otak pemilih dan positioning bukanlah suatu strategi produk, tetapi strategi komunikasi karena menyangkut mind game yang harus dilakukan dengan perencanaan yang matang dan langkah yang tepat sebab berhubungan dengan cara konsumen memproses & menyimpan informasi.
  1. Menangkap Simpati Pemilih : Setelah membuat strategi kampanye maka ditambah dengan strategi Integrasi Komunikasi Pemasaran yang disusun dengan skema perencanaan yang terarah dan sistemastis, seperti membuat matriks perencanaan kampanye, menentukan kampanye individual dan massa, periklanan, humas, direct mail, komunikasi lewat media cetak dan elektronik, desain kampanye, hingga perencanaan biaya komunikasi pemasaran selama kampanye.

Demikian beberapa masukan untuk para calon yang dapat kami sampaikan, selebihnya, semuanya dikembalikan kepada trik dan strategi. Pesan dari saya, bolehlah bersaing, tapi bersainglah secara sehat, jangan gunakan kampanye hitam dengan menjatuhkan pasangan lain melalui isu yang tidak benar, masyarakat Lumajang tentu cerdas, mereka bisa memilih pemimpin yang benar-benar peduli akan nasib mereka 5 tahun kedepan, oleh sebab itu bersaing dan berkompetisilah secara sehat……………… Brafo Lumajang…………… Jangan jadikan Lumajang yang nyaman menjadi ajang pertarungan ambisi sesaat………….. Coblos Batiknya….No.1……SA’AT……terima kasih.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Forest Mind: Menikmati Lukisan di Tengah …

Didik Djunaedi | | 22 October 2014 | 22:20

“Yes, I’m Indonesian” …

Rahmat Hadi | | 22 October 2014 | 10:24

Ayo, Tunjukkan Aksimu untuk Indonesia! …

Kompasiana | | 09 September 2014 | 16:24

Presiden Jokowi Melanggar Hukum? …

Hendra Budiman | | 22 October 2014 | 17:46

Apakah Kamu Pelari? Ceritakan di Sini! …

Kompasiana | | 25 September 2014 | 11:05


TRENDING ARTICLES

Ketika Ruhut Meng-Kick Kwik …

Ali Mustahib Elyas | 10 jam lalu

Antrian di Serobot, Piye Perasaanmu Jal? …

Goezfadli | 10 jam lalu

Mengapa Saya Berkolaborasi Puisi …

Dinda Pertiwi | 10 jam lalu

MH370 Hampir Pasti akan Ditemukan …

Tjiptadinata Effend... | 10 jam lalu

Waspada Scammer di Linkedin, Temanku Salah …

Fey Down | 10 jam lalu


Subscribe and Follow Kompasiana: