Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Ninoy N Karundeng

Wakil Presiden Penyair Indonesia. Filsuf penemu konsep "I am the mother of words - Saya selengkapnya

KPK Kibuli PKS Lewat Ahmad Fathanah, Luthfi Hasan Ishaaq dan Gratifikasi Seks

OPINI | 07 May 2013 | 21:56 Dibaca: 2343   Komentar: 36   9

Pelemahan terhadap KPK yang disandiwarakan sedemikian rupa oleh DPR dan Polri ternyata gagal dilakukan terhadap Abraham Samad dkk. Tawar-menawar untuk menjebloskan Ahmad Fathanah dengan melepaskan Luthfi Hasan Ishaaq, dengan cara dan strategi membungkam Suswono gagal. Taktik bungkam Mentan Suswono demi melindungi Luthfi Hasan Ishaaq tetap dilawan oleh KPK dengan terus mengendus kelompok Ahmad Fathanah - orang kepercayaan PKS termasuk Walikota Makassar dan jelas Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaaq - dengan berbagai macam selir Ahmad Fathanah termasuk Tri Kurnia Puspita, Septi Sanustika, Vitalia Sesha, dan jelas termasuk pramunikmat lainnya seperti Maharany Suciono dan juga teman Ahmad Fathanah seperti Ayu Azhari, Lita Anastasha, dan seabrek lagi yang KPK tinggal mencokok.

Tawar menawar untuk melepasakan Luthfi Hasan Ishaaq antara KPK dengan PKS gagal mengguntungkan PKS. PKS sepertinya ditelikung oleh KPK. Kebungkaman Suswono untuk melindungi LHI ternyata gagal dilakukan dan justru penjerumusan Ahmad Fathanah semakin membuka kedok dan kebusukan keterlibatan LHI. KPK dengan beringas merangsek gedung kehormatan PKS, DPP PKS meskipun dengan cepat PKS menggembosi aneka mobil yang dipakai oleh DPP PKS terkait pencucian uang duet maut LHI dan Ahmad Fathanah. KPK gagal membawa mobil tersebut keluar gedung DPP PKS - jantung kehormatan partai dunia wal akhiroh.

PKS yang sudah kooperatif dan melakukan barter dengan melepaskan dan membebaskan pendalaman terhadap AF ternyata hanya menjadi jalan bagi KPK untuk lebih masuk ke dalam kasus LHI. Kini bukti-bukti keterlibatan pencucian uang semakin kuat dengan adanya berbagai macam mobil yang disita KPK seperti Fortuner, Nissan Navarra, VW Carravelle dan aneka mobil lain yang diberikan kepada para teman wanita seperti Freed, Jazz dan lain-lain. Khusus untuk LHI aneka mobil Mazda dan Pajero dikempeskan oleh kader penjaga gedung PKS agar tak bisa dibawa keluar oleh KPK.

Tampaknya upaya lokalisasi dan pemanisan sikap PKS yang dilakukan oleh Fraksi DPR PKS, Indra SH - DPR masih memiliki kekuatan lobby sehingga pernyataan paling pantas disampaikan oleh anggota DPR sebagai bagian dari strategi tawar-menawar antara KPK dan PKS. KPK ternyata lebih lihai dan taktis dengan caranya melawan upaya pemanisan dan pemelasan sikap oleh PKS yang seolah-olah kooperatif. PKS berharap banyak kasus LHI tidak terbukti - namun dengan rentetan peristiwa terbuka kedok AF dalam urusan dengan perempuan di mana LHI sengaja dijauhkan dari kesan mendekati gratifikasi seks yang pada saat itu jelas keberadaan Maharany Suciono adalah untuk gratifikasi seks - rekan bisnis Elda menyatakan bahwa itu urusan AF soal ketersediaan perempuan untuk para pengambil keputusan.

Sumber yang layak dipercaya, gelombang pembuktian keterkaitan antara Ahmad Fathanah dan Luthfi Hasan Ishaaq - dengan senjata KPK akan menekan mengungkap soal gratifikasi seks AH dan LHI jika tidak membuka borok pencucian uang - semakin menemukan titik terangnya. Ketakutan AF dan LHI terkait gratifikasi seks salah keniscayaan - maka sekaligus itu pintu lemah pertahanan PKS - yang patut dihindari karena jika KPK menyidik kasus gratifikasi seks akan sangat menghancurkan martabat partai yang mengaku partai dakwah tersebut.

Ternyata KPK melakukan penekanan dengan memanfaatkan isu pemaluan paling spektakuler yakni gratifikasi seks sebagai bargaining posisi kuat KPK melawan PKS. Penangkapan LHI yang terburu-buru masih lebih afdhol daripada penangkapan di Hotel Le Meridien seperti yang dilakukan terhadap Ahmad Fathanah. Itu kompromi KPK yang pada awalnya dianggap kemenangan PKS, namun senyatanya KPK lebih lihai dan mampu mengecoh PKS dengan memanfaatkan celah hukum pencucian uang AF untuk tetap menjerat Luthfi Hasan Ishaaq. Dengan saga terakhir di DPP PKS, maka angin pembelaan yang membabihutanbutakan terhadap LHI akan semakin kencang dan lagi-lagi konspirasi menjadi kelitan yang paling pas untuk disampaikan oleh PKS.

Jadi, gratifikasi seks yang dijadikan alat tawar pelemah PKS dan LHI justru menghantam PKS. KPK tidak menepati janji dan terus mengejar LHI melalui Ahmad Fathanah dan perempuan-perempuan pelacur dan non-pelacur teman-teman perempuan Ahmad Fathanah. KPK benar-benar mengibuli PKS dalam kasus Ahmad Fathanah dan Luthfi Hasan Ishaaq. Rupanya bungkamnya Suswono hanya memicu KPK lebih bersemangat dan tidak membiarkan LHI lepas. Bungkamnya Suswono tak bermakna karena pemaluan dilakukan lewat Ayu Azhari, Vitalia Sesha, Maharany Suciono, dkk sehingga terpaksa LHI dan AF tetap tak akan lolos dari jerat KPK. Bravo KPK!

Salam bahagia ala saya.

Tags: freez

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Stanley, Keindahan Sisi Selatan Hongkong …

Moris Hk | | 29 August 2014 | 14:46

Kisah Hidup Pramugari yang Selamat dari …

Harja Saputra | | 29 August 2014 | 12:24

Jose Mujica, Dihormati Meskipun Tidak Punya …

Putu Djuanta | | 29 August 2014 | 14:30

Kompasiana Nangkring bareng Sun Life: Kenapa …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 12:58

Blog Competition Smartfren: Andromax yang …

Kompasiana | | 18 August 2014 | 20:22


TRENDING ARTICLES

Doa untuk Mas Vik …

Aiman Witjaksono | 6 jam lalu

Kejadian di SPBU yang Bikin Emosi… …

Ryan M. | 9 jam lalu

Jokowi Mengkhianati Rakyat Jika Tidak …

Felix | 10 jam lalu

Ganteng-Ganteng Hakim MK …

Balya Nur | 10 jam lalu

Cara Unik Jokowi Cabut Subsidi BBM, …

Rizal Amri | 10 jam lalu


HIGHLIGHT

56 Tahun Michael Jackson, Antara …

Dody Kasman | 7 jam lalu

Puisi itu Berjudul “Proklamasi” …

Zulfaisal Putera | 8 jam lalu

Kala Kau Menghujat Kotaku …

Gordi | 8 jam lalu

Basuki Tjahaja Purnama …

Mila Vanila | 10 jam lalu

Sama-sama Pribumi, Kenapa …

Kwee Minglie | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: