Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Dewi Malvana

Hidup dalam kedamaian dan cinta

Kemenangan PKS = Peledakan Penduduk, Kekhawatiran Berlebihan?

OPINI | 06 May 2013 | 11:15 Dibaca: 1755   Komentar: 71   21

13678134651472115816

Mengikuti diskusi yang menarik di artikel Pak Sutomo Paguci di artikel http://politik.kompasiana.com/2013/05/05/ancaman-problem-kependudukan-jika-pks-menang-full-photo-557629.html#4825611 , yang mengaitkan peledakan pertambahan penduduk di Indonesia  dengan kemenangan PKS menurut saya seperti sebuah ketakutan yang berlebihan. Maaf, pernyataan saya ini bukan karena saya kader PKS, bisa dibaca dari artikel-artikel dan komentar saya yang berhubungan dengan PKS. Namun saya hanya ingin mendudukan partai PKS pada proporsi yang wajar. Ketika terjadi peledakan penduduk yang notabene dialami oleh Negara dibelahan dunia manapun, namun ketika terjadi di Indonesia, kenapa dikait-kaitkan dengan kemenangan PKS. Menurut saya hak untuk meneruskan keturunan adalah hak masing-masing individu. Kalau seandainya PKS menang akan mengeluarkan fatwa haram pembatasan dan pengaturan kelahiran sepertinya akan menjadi blunder bagi PKS, dan saya yakin PKS tidak sebodoh itu untuk mendapatkan simpati dari rakyat. Kecuali kalo ada yang sengaja melempar bola panas seolah-olah seandainya PKS menang akan terjadi pelarangan dalam pengaturan kelahiran, semata-mata hanya untuk menggembosi suara PKS.

Dan yang lebih memprihatinkan lagi ketika ada yang berkeinginan punya banyak anak diperumpamakan seperti kelinci atau hamster. Mereka yang memiliki keturunan banyak tetaplah umat manusia yang memiliki derajat yang lebih tinggi dari binatang, sehingga tidak layak kiranya diperumpamakan seperti binatang. Keinginan untuk memiliki keturunan adalah hak setiap individu, toh kita sendiri tidak tahu ketika seseorang memiliki keturunan banyak, apakah karena memang keinginan hati, atau diluar kesengajaan. Satu contoh yang saya alami sendiri adalah ketika saya memutuskan berKB setelah kelahiran anak yang kedua dengan memakai kondom, semata-mata menuruti keinginan suami, sedangkan saya sendiri lebih suka memiliki anak lebih dari 2. Tapi kenyataan yang terjadi Tuhan berkehendak lain, saya tetap saja dikarunia anak yang ketiga walaupun sudah ber KB. Gagal dengan upaya pertama saya mencoba dengan KB suntik, tapi ternyata membuat hormon saya tidak stabil yang mengakibatkan pendarahan terus menerus dan dan itu akan terus terjadi tiap periode tertentu. Akhirnya saya ganti alat KB dengan menggunakan IUD, tapi sekali lagi Tuhan menunjukkan kuasa-Nya dengan kehamilan yang keempat, walaupun akhirnya keguguran akibat efek dari pemakaian KB suntik sebelumnya yang mengakibatkan saya mengalami pendarahan terus menerus. Disini hanya salah satu contoh kasus, bahwa KB tidak serta merta menjamin kelahiran bisa dicegah, kecuali mungkin dengan cara dikebiri.

Kalau kita bicara masalah kuantitas manusia, menurut saya tidak menjamin kesejahteraan sebuah Negara. Suatu contoh, ketika sebuah Negara bisa dengan hebatnya menekan pertambahan penduduk, tapi tidak diimbangi dengan sistem yang baik dibidang kesehatan, sosial, ekonomi dan pendidikan sama saja akan banyak kita temui gelandangan, orang miskin, pengangguran, dan orang-orang yang tidak mendapatkan pendidikan yang memadai. Tapi ketika pertumbuhan penduduk sedemikian pesatnya diimbangi dengan sistem yang memadai, saya yakin bisa menjadi SDM yang tangguh yang bisa menjadi pilar pembangunan sebuah Negara, bahkan mungkin bisa menjadi asset bangsa. Walaupun mungkin ada yang mengatakan pertumbuhan penduduk bisa ditekan, sekaligus diimbangi dengan sistem pemerintahan yang memadai akan lebih bagus lagi. Tapi mungkinkah kita bisa mencegah hak individu tiap manusia yang merasa mampu secara lahir maupun batin untuk meneruskan keturunan? Selain itu bagi yang merasa beragama dan dan percaya dengan adanya Tuhan, apakah tidak meyakini kekuatan Tuhan untuk menciptakan manusia, sehingga yakin sekali ketika seseorang berupaya untuk tidak meneruskan keturunan dengan berbagai cara missal berKB, Tuhan tidak mampu untuk mencegah keinginan manusia tersebut?

Ada lagi sebuah kekhawatiran seolah-olah dengan banyaknya anak dari simpatisan PKS seperti mempersiapkan angkatan perang. Sederhana saja ketika seandainya benar ada larangan pengaturan kelahiran, itu berlaku untuk siapa? Apakah hanya untuk pemeluk agama Islam atau semua warga Negara termasuk nonmuslim? Kalau hanya untuk muslim, tidak perlu PKS memimpin toh dalam Islam sudah diatur bagaimana seharusnya pengaturan kelahiran menurut Islam dan itu sudah ada bertahun-tahun dari jaman orde lama sampai jaman reformasi. Tapi kalau itu berlaku untuk semua yaitu muslim dan nonmuslim, yang berfikiran bahwa larangan pengaturan kelahiran semata-mata untuk mempersiapkan angkatan perang semestinya tidak perlu khawatir. Karena yang muslim dan nonmuslim bisa beranak pinak sebebas-bebasnya, jadi kalau ada yang berpikiran sempit takut kalah banyak sama yang muslim, tidaklah perlu khawatir karena kekuatan akan berimbang antara muslim dan nonmuslim akan saling berhadap-hadapan, he..he… Maaf ini pemikiran frontal saya ketika melihat ada yang berfikiran sempit, dan berharap itu tidak terjadi.

PKS memang partai Islam, tapi saya yakin kader-kadernya paham betul bahwa Negara Indonesia adalah Negara majemuk dengan berbagai agama dan suku. Sangat riskan rasanya kalau PKS memaksakan warganya untuk memiliki anak yang banyak, dan tidak mungkin pula seandainya memerintah sebuah Negara membuat pengecualian untuk agama tertentu ada larangan-larangan khusus. Sedangkan sistem pemerintahan kita ada legislatif yang tugasnya mengawasi eksekutif yang artinya setiap pengambilan kebijakan pastilah dengan mempertimbangkan suara dari wakil-wakil rakyat yang duduk di DPR. Bahkan banyak caleg-caleg PKS yang non muslim seperti di Bali, NTT, Papua, dan lain-lain, yang artinya PKS mulai membuka diri untuk caleg-caleg nonmuslim, walaupun saya sendiri juga sedikit bingung mengingat PKS adalah partai yang berbasis Islam. Tapi ya sudahlah karena itu adalah urusan dapur PKS, toh mau ada caleg nonmuslim atau tidak, saya tetap memilih PKS, termasuk memilih partai yang lain alias ketika masuk bilik suara surat suara semua partai saya coblos semua. Saya tidak mau berpusing ria dengan data-data atau dengan yang sudah terjadi karena sesuatu itu tidak bisa di generalisir, tapi intinya tidak perlulah khawatir dengan kemenangan PKS akan mengakibatkan peledakan penduduk di Indonesia, karena itu masih urusan alat reproduksi masing-masing individu dan hak mendasar tiap manusia mau meneruskan keturunan atau tidak, yang tidak bisa dipaksakan oleh siapapun.

Salam hangat…

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Gedung New Media Tower Kampus UMN, Juara …

Gapey Sandy | | 31 October 2014 | 19:12

Cerita di Balik Panggung …

Nanang Diyanto | | 31 October 2014 | 18:18

Giliran Kota Palu Melaksanakan Gelaran …

Agung Ramadhan | | 31 October 2014 | 11:32

DPR Akhirnya Benar-benar Terbelah, Bagaimana …

Sang Pujangga | | 31 October 2014 | 13:27

Ikuti Blog Competition dan Nangkring di IIBF …

Kompasiana | | 12 October 2014 | 18:25



HIGHLIGHT

Bank Papua, Sponsor Tunggal ISL Musim Depan …

Djarwopapua | 9 jam lalu

Seminggu di Makassar yang Tak Terlupakan …

Annisa Nurul Koesma... | 9 jam lalu

Robohkah Surau Kami Karena Harga BBM Naik? …

Axtea 99 | 10 jam lalu

Sahabat Hati …

Siti Nur Hasanah | 10 jam lalu

Susi Mania! …

Indria Salim | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: