Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Danny

Menulis adalah buah karya dari sebuah ide ataupun pemikiran.

Solusi Sederhana Kenaikan BBM

OPINI | 04 May 2013 | 20:29 Dibaca: 2056   Komentar: 7   0

Ketidakpastian opsi kenaikan BBM yang akan diberlakukan merupakan cermin dari keragu-raguan pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan saat ini. Tidak hanya itu, rakyat seakan-akan dibawa pada sebuah pemahaman bahwa kenaikan BBM ini ialah karena harga minyak mentah internasional yang terus naik sehingga subsidi pemerintah menjadi lebih banyak, sehingga kenaikan harga BBM adalah hal yang “harus dimaklumi.” Padahal jika dikaji lebih dalam, seharusnya pemerintah mengkoreksi diri terhadap kesalahan yang dilakukannya yaitu tidak memiliki perencanaan yang jelas tentang konsep ketahanan energi secara berkesinambungan.
Masih ingatkah kita dengan rencana konversi BBM ke BBG atau bahan bakar gas ? Bagaimana tindak lanjut dari rencanan ini, yaitu akan memberikan konverter gratis kepada masyarakat untuk awalnya ? Apakah saat ini sudah mulai dibangun SPBG (Stasiun Pengisian Bahan bakar Gas) yang memadai untuk menggantikan “saudara tuanya” yaitu SPBU ? Sudah sejauh mana bioetanol, biogas maupun juga kendaraan listrik serta tenaga air atau tenaga surya dikembangkan ? Sudahkah membangun kembali kilang-kilang baru ?

Solusi sederhana bagi pemerintah
Jika tugas-tugas pemerintah tadi tidak dilaksanakan dengan baik hingga kini, maka yang disalahkan bukan kenaikan harga minyak mentah, tetapi ketidakmampuan pemerintah dalam melaksanakan rencana yang sebenarnya sudah ada untuk meminimalisir ketergantungan terhadap impor BBM dari luar negeri. Melaksanakan secara konsisten dari BBM kepada BBG sebenarnya merupakan hal paling realistis yang dapat dilakukan oleh pemerintah saat ini, tentu saja harus ditunjang oleh pembangunan SPBG di tempat-tempat strategis. Selain itu, pemerintah juga dapat mensyaratkan bahwa minimal kendaraan umum dan mobil pemerintah menggunakan bahan bakar gas sebagai bentuk keteladanan dan subsidi diperuntukkan bagi pengguna bahan bakar gas tersebut.
Kalaupun hal tersebut dianggap masih membutuhkan waktu, maka kembalI kepada pernyataan di awal tulisan ini yaitu opsI yang dipilih oleh pemerintah seharusnya tidak pukul rata menaikkan seluruh harga BBM. Apabila alasan tidak efektif jika ada 2 harga, sebenarnya alasan tersebut terkesan dibuat-buat dan bertele-tele.
Jika mengambil opsi 2 harga, maka tidak perlu ada SPBU khusus untuk BBM bersubsidi. Jika di satu SPBU terdapat 5 titik pengisian BBM, maka tinggal dibagi saja, 3 untuk non subsidi, dan 2 untuk BBM bersubsidi yaitu motor dan kendaraan umum serta mobil plat kuning. Harga untuk yang bersubsidi tetap Rp 4.500, sedangkan nonsubsidi menjadi Rp 6.500 misalnya. Setelah itu ditetapkan oleh pemerintah bahwa setiap tahun akan ada kenaikan berkala sebesar Rp 500,- baik bagi subsidi maupun non subsidi hingga nantinya mencapai harga pasar. Akan tetapi tugas pemerintah tidak berhenti hanya disitu saja, beban subsidi yang berkurang harus dialihkan untuk membangun atau mengimplementasikan rencana-rencana seperti yang telah penulis kemukakan sebelumnya.
Mungkin pendapat penulis terkesan sederhana dan tidak berpikir terlalu rumit dan ribet (seperti pemikiran para pengambil kebijakan yang analisanya bagus, rumit dan ribet tapi hingga kini berhenti di tataran analisa dan tidak implementatif). Tetapi bukankah dari sebuah kesederhanaan bambu runcing bangsa ini berdiri dan bukan dengan senapan atau rudal canggih ?

4 Mei 2013
Danny Prasetyo

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | | 25 October 2014 | 17:32

ATM Susu …

Gaganawati | | 25 October 2014 | 20:18

[PALU] Kompasiana Nangkring Bareng BKKBN di …

Kompasiana | | 01 October 2014 | 15:12

Gayatri Wailisa, Anggota BIN? Perlukah …

Arnold Adoe | | 25 October 2014 | 16:01

Inilah Daftar Narasumber yang Siap Beraksi …

Kompasiana | | 20 October 2014 | 15:40


TRENDING ARTICLES

Serunya di Balik Layar Pemotretan Presiden …

Gatra Maulana | 12 jam lalu

BMI Hongkong Tertipu 60 Juta Oleh “Bule …

Fey Down | 14 jam lalu

Hatta Rajasa Tahu Siapa Bandit Migas …

Eddy Mesakh | 15 jam lalu

Presiden Jokowi, Ibu Negara, dan …

Sintong Silaban | 16 jam lalu

Kerumitan Membentuk Kabinet …

Mas Isharyanto | 16 jam lalu


HIGHLIGHT

Fakta & Rahasia Saya Tentang Buku …

Indria Salim | 13 jam lalu

Hanya Tontowi/Liliyana di Final Perancis …

Sapardiyono | 13 jam lalu

Pilih Steak Sapi New Zealand Atau Ramen …

Benny Rhamdani | 13 jam lalu

Upacara Adat Satu Suro Kampung Adat Cirendeu …

Sandra Nurdiansyah | 14 jam lalu

50 Yacht Luar Negeri “Serbu” …

Mustafa Kamal | 15 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: