Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Baskoro Endrawan

Like to push the door even when it clearly says to "pull" You could call selengkapnya

Simpatisan PKS, Jangan Sakit Hati!

OPINI | 04 May 2013 | 18:33 Dibaca: 1203   Komentar: 108   18

Sering saya membaca komentar para simpatisan PKS yang tidak cukup siap menghadapi tulisan maupun komentar bernada kritik pedas terhadap PKS. Beberapa memang sudah sanggup mengatasinya dan berubah maupun beradaptasi dengan baik.

Menulis artikel yang berisikan baik klarifikasi , ‘pencerahan’ maupun promosi? Apapun bentuknya, hal itu sangat bisa diapresiasi.  Tidaklah penting pandangan subyektif seseorang, karena faktor suka atau tidak suka, cocok atau tidak cocok akan hal promosi yang ada itu toh tergantung selera?

Apabila ‘jualan’ partai dirasakan sulit, kenapa sih tidak mau coba untuk menulis sesuatu yang lain? Coba dulu dengan ‘jualan’ diri sendiri.Kalau memang kita semua sadar, bahwa kehidupan tidak hanya berpusat pada sebuah golongan atau partai, tentu akan banyak sekali jenis atau genre tulisan yang bisa mewakili diri sendiri.  Entah itu sebuah kepedulian akan pendidikan, soal agama, isu terkini atau bahkan seputar hobi sehari hari.

Sayang, apabila minat seseorang hanya berkisar pada jibaku di sisi partai sendiri, sementara didalam kehidupan sendiri masih banyak hal lain yang dapat diselami atau dibagi.  Coba dengan ‘jualan’ sesuatu yang memang benar benar dikuasai dulu. Ini hanya sebagai usaha untuk tes awal. Saat mampu jualan apa yang benar benar kita sukai, kepribadian seorang penulis akan tercermin disana. Tak ada embel embel partai disana.

Tapi memang bagi yang memang niat ushushon nya di partai, ya coba saja terus .

Jangan cepat berkecil hati ataupun melawan dengan emosi yang tidak pada tempatnya. Apabila itu yang terjadi, maka para simpatisan baik kader PKS perlu mengingat kembali apa makna politik sebenarnya. Belajar untuk lebih dewasa menghadapi sebuah dunia pemikiran yang cenderung nyata.  Mau dihajar, difitnah ataupun dicaci sedemikian rupa, anggap saja itu sebagai sebuah proses dalam pembelajaran.

Buka pikiran baik baik dan dengarkan segala bentuk kritikan. Jangan menutup mata, telinga apalagi hidung. Bisa sesak nafas nantinya. Toh, apabila memang benar anda merasa akan mewakili sebagian suara yang ada di Republik Indonesia ini, bukankah ini saatnya anda belajar untuk mendengar?

Tempatkan kepentingan rakyat diatas kepentingan golongan atau pribadi partai atau para pemimpin partai anda. Lupakan sejenak ’situs manja’ internal anda seperti PKS Piyungan. Maaf kata, disana anda tidak bisa belajar membuka mata atau telinga atas apa yang terjadi di luar. Hanya berisi dukungan dan hal positif saja. Bagus sih untuk sekedar memupuk rasa percaya diri. Tapi kadar gula atau rasa manis yang berlebihan akan menyebabkan diabetes kan?

Pisahkan. PKS bukan Islam. Kritikan yang masuk ketubuh PKS, bukan kritikan ke tubuh Islam. Silahkan, apabila PKS sendiri merasa bernaung dalam nafas yang Islami. Tapi sebuah partai politik tetap sebuah partai politik. Yang membedakan nantinya adalah bagaimana sebuah partai dapat beradaptasi dan mendengarkan aspirasi rakyat. Saat ini? Masih tampak terlihat jelas, bahwa dengan tidak siapnya para simpatisan menghadapi kritikan yang ada , kepentingan golongan masih tetap diutamakan.

Saat ada kritikan yang masuk, berikan klarifikasi. Jangan pernah ragu untuk adu argumentasi.  Jangan hanya serta merta ngambek , pundungan dan bahkan  menyalahkan keadaan sekitar. Dan bagi beberapa simpatisan ataupun kader yang memang masih terlihat ‘marah’, ya harus mau belajar. Sekarang, mungkin beberapa dari simpatisan memang masih tampak kasar. Tapi kalau mau terus menerus membuka diri dan memperbaiki, apa sih yang gak mungkin?

Kalau cermat, sebetulnya Kompasiana sendiri bisa menjadi sarana pembelajaran. Sebuah bentuk ‘kasar’ akan pendapat Indonesia sendiri mengenai partai politik yang anda naungi saat ini. Baik asumsi miring, tak berdasar ataupun fitnah sekalipun seperti seringkali klaim yang terdengar dari simpatisan atau kader PKS sendiri, ya itulah suara asli Indonesia disini. Mau itu titipan partai lain kek, mau itu suara pribadi kek, entah itu swing voter, ya coba untuk didengarkan.

Lupakan apa kata Anis Matta bahwa politik itu menyenangkan.  Tidak akan pernah ada jalan mudah atau pintas untuk berpolitik dengan matang. Boleh saya bertanya sekali lagi, memang ada yang mengatakan bahwa semuanya bakalan jadi mudah?

Wong dagang sapi aja sulit kok hari gini, apalagi mau berpolitik?

Hayo, masih mau marah lagi? :)

Tags: belajar pks

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Menghadiri Japan Halal Expo 2014 di Makuhari …

Weedy Koshino | | 27 November 2014 | 16:39

Bu Susi, Bagaimana dengan Kualitas Ikan di …

Ilyani Sudardjat | | 27 November 2014 | 16:38

Saya Ibu Bekerja, Kurang Setuju Rencana …

Popy Indriana | | 27 November 2014 | 16:16

Peningkatan Ketahanan Air Minum di DKI …

Humas Pam Jaya | | 27 November 2014 | 10:30

“Share Your Dreams” dengan Paket …

Kompasiana | | 26 November 2014 | 11:24



HIGHLIGHT

Keuntungan Minum Air Mineral di Pagi Hari …

Vitalis Vito Pradip... | 8 jam lalu

Perbandingan Cerita Rakyat Ande-ande Lumut …

Kinanthi Nur Lifie | 8 jam lalu

Kalau Nggak Macet, Bukan Jakarta Namanya …

Seneng Utami | 8 jam lalu

Merdeka Tapi Mati! …

Engly Ndaomanu | 8 jam lalu

‘Jujur dan Benar dalam Pola …

Asep Rizal | 8 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: