Back to Kompasiana
Artikel

Politik

Wisnu Aj

Hidup Tidak Selamanya Seperti Air Dalam Bejana, Tenang Tidak Bergelombang, Tapi Ada kalanya Hidup seperti selengkapnya

Politik Dinasti ala Cekeas

HL | 03 May 2013 | 00:06 Dibaca: 1098   Komentar: 22   2

13675141782041650188

SBY Ketum Partai Demokrat (Fhoto Harian Analisa)

Beginilah Demokrasi ala Cekeas yang menjadi sorotan masyarakat Indonesia. Demokrasi ala Cekeas ini membuktikan jika Partai Berlambang bintang mercy yang dipimpin oleh Presiden Susilo Bambang Yudho Yono ini memang benar benar tidak memiliki kader yang dapat untuk diandalkan. Dan Ini terbukti para pengurus parati Demokrat yang pernah menjadi partai pemenang pemilu ini dihuni oleh para kader partai lain yang masuk bergabung kepartai Demokrat.

Sebut saja nama Ruhut Sitompul, Sipoltak Raja Minyak dari Medan sebelum melompat kepartai Demokrat, Ruhut adalah kader Partai Golkar. Kemudian Maxafaqua juga sama sama dari Partai Golkar, Nazaruddin Mantan Bendaharawan Partai Demokrat, awalnya adalah kader Partai Persatuan pembangunan (PPP) dan juga beberapa nama yang kini menjadi pengurus teras ditubuh partai Demokrat itu adalah kader kader partai lain diluar democrat.

Bahwa partai Demokrat memang tidak memiliki kader itu semakin terbukti, jika dilihat dari Daftar Calon Sementara (DCS) Anggota legeslatif yang diusung oleh partai democrat adalah calon calon Anggota Legeslatif yang mempunyai hubungan Nefotisme dengan Ketua Umum partai Demokrat, mulai dari anak sampai kepada ipar dan kemenakan. Walaupun DCS Partai Demokrat ini syarat dengan politik Dinasti Aji Mumpung Ala SBY yang kotraversi, namu tidak membuat keluarga Cekeas ini merasa gerah.

Ada lima belas nama DCS partai Demokrat, mempunyai hubungan sedarah dengan Ketua Umum Partai Demokrat SBY, diantaranya 1. Edy Baskoro Yudhoyono Anak kandung SBY terdaftar pada daerah pemilihan (Dapil) Jawa Timur (Jatim) VII, 2. Sartono Hutomo Sepupu SBY juga di Dapil Jatim VII. 3.Hartanto Edy Wibowo Adik Ipar SBY terdaftar di Dapil Banten III. 4. Agus Hermanto Adik Ipar SBY terdaftar pada Dapil Jawa Tengah (Jateng) I. 5. Nurcahyo Anggorojati Anak Hadi Utomo yang juga ipar SBY terdaftar pada dapil Jateng VI. Kemudian 6. Lintang Pramesti Anak Agus Hermanto Ipar SBY. Terdaftar pada Dapil Jawa Barat (Jabar) VIII. 7. Putri Permata Sari, keponakan Agus Hermanto terdaftar pada Dapil Jateng I, 8. Dwi Astuti Wulandari Anak Hadi Utomo terdaftar pada Dapil DKI Jakarta I, 9. Mexicana Leo Hartanto Keponakan SBY terdaftar pada Dapil DKI Jakarta I, 10. Decky Hardi Janto Keponakan Hadi Utomo terdaftar pada Dapil Jateng V. 11. Indri Sulistiyowati Keponakan Hadi Utomo terdaftar pada Dapil Nusa Tenggara Barat. 12. Sumardani suami Indri Sulistiyowati tercatat pada Dapil Riau I. 13. Agung Budi Santoso keluarga Hadi Utomo terdaftar pada Dapil Jabar I. 14. Sri Hidayati Adik Ipar Agung Budi Santoso terdaftar pada Dapil Jatim VI dan terakhir 15. Putut Wijarnarko suami Sri Hidayati tercatat pada Dapil Jatim VI.

Masuknya nama nama keluarga Cekeas didalam DCS Anggota Legeslatif DPR Pusat, menandakan bahwa Partai Demokrad memang tidak memiliki kader. Berbeda dengan partai Gokar maupun PDI.P yang memiliki kader kader yang militan dan mengakar rumput.

Sistim perekrutan calon DPR pusat dari Partai demokrad yang dilakukan oleh Ketua Umum Partai Demokrad SBY, tak jauh beda dengan apa yang dilakukan oleh Presiden Suharto ketika menjabat Ketua Dewan Penasehat Partai Golkar di zaman Orde Baru. Suharto juga memasukkan keluarga cendana sebagai anggota DPR pusat dari partai Golkar. Bahkan dalam Kabinet Suharto juga merekrut keluarga cendana.

Mungkin langkah Suharto inilah yang saat ini sedang dimanut oleh SBY selaku Ketua Umum Partai Demokrat. Masuknya keluarga Cekeas didalam posisi calon anggota DPR pusat, SBY tengah menjalankan Politik Dinasti ditubuh Partai Demokrat, dengan tujuan untuk memperkuat kedudukannya sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.

Kekuatan Politik Dinasti memang harus diciptakan oleh Ketua Umum Partai Demokrat, mengingat bahwa masa jabatan SBY sebagai Presiden Republik Indonesia hanya tinggal satu tahun lagi. Jika jabatan Presiden tidak lagi berada dipundak SBY, maka dipradiksi kedudukannya sebagai Ketua Umum Partai Demorat akan goyah. Diguyang oleh para pengurus partai Demokrat itu sendiri.

Dipecatnya Anas Urbaningrum dari jabatan Ketua Umum Partai Demokrat adalah cikal bakal terjadinya perpecahan ditubuh partai democrat. Kemudian terbentuknya Kepengurusan Partai Demokrat Hasil Musyawarah Luar Biasa (Muslub) di Bali juga nantinya akan retak membawa belah. Karena orang orang yang ada didalam tubuh Partai Demokrat masih tersisa orang orangnya Anas Urbaningrum. Dan tidak semua para pengurus Partai Demokrat waktu itu menghendaki adanya Muslub. Tapi oleh karena SBY selaku Ketua Dewan Penasehat Partai Demokrat masih sebagai Presiden Republik Indonesia, membuat para pengurus Partai Demokrat manut terhadap apa yang dikatakan oleh SBY.

Untuk memperkokoh kedudukan SBY selaku Ketua Umum Partai Demokrat setelah dia tidak menjadi presiden lagi, maka SBY perlu untuk membangun Politik Dinasti ditubuh partai Demokrat itu. Dengan terbentuknya Politik Dinasti ditubuh Partai Demokrat dengan memasukkan para keluarga Cekeas, tentu diaharapkan dapat untuk menghempang datangnya badai yang akan menggoyang kedudukan SBY sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.

Akan tetapi tanpa disadari oleh SBY, sistim politik dinasti yang dipertontonkan oleh SBY kepada masyarakat Indonesia akan dapat merusak citra demokrasi yang sedang dibangun ditanah air. Disamping kurangnya kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap Partai Demokrat sebagai Partai Politik Santun. Dan ini akan mengurangi tingkat pemilih partai Demokrat.

SBY seharusnya professional dalam menyusun peta politiknya. Jangan karena SBY sebagai Presiden dan Ketua Umum Partai Demokrat yang paling berkuasa lantas bertindak sesuka hati dengan memasukkan keluarganya menjadi calon Anggota DPR pusat, mulai dari Anak, Ipar sampai kepada Keponakan. Partai Demokrat dari Partai Politik Santun Menjadi partai Politik yang Tidak santun. Sadarkah SBY akan hal ini, hal yang dapat menghancurkan Partai Demokrad pada pemilihan Umum Tahun 2014 yang akan datang ? sebuah pertanyaan yang sulit untuk kita jawab.

Tags:

 
Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.
Siapa yang menilai tulisan ini?
    -
Processing data ..
Tulis Tanggapan Anda
Guest User


HEADLINE ARTICLES

Cara Cermat Buang Sampah, yang Mungkin Dapat …

Tjiptadinata Effend... | | 21 October 2014 | 21:18

Rupiah Tiada Cacat …

Loved | | 17 October 2014 | 17:37

[BALIKPAPAN] Daftar Online Nangkring bersama …

Kompasiana | | 02 October 2014 | 11:00

Ekspektasi Rakyat terhadap Jokowi …

Fitri.y Yeye | | 21 October 2014 | 10:25

[ONLINE VOTING] Ayo, Dukung Kompasianer …

Kompasiana | | 16 October 2014 | 14:46


TRENDING ARTICLES

Pak Prabowo, Sikap Anda Merusak Isi Kepala …

Eddy Mesakh | 6 jam lalu

Jamberoo itu Beda Total dengan Jambore …

Roselina Tjiptadina... | 7 jam lalu

Ajari Anak Terampil Tangan dengan Bahan Alam …

Gaganawati | 9 jam lalu

Siapa Sengkuni? Amien Rais, Anda Atau Siapa? …

Erwin Alwazir | 12 jam lalu

Anang Hermansyah Hadiri Pesta Rakyat, Ahmad …

Sahroha Lumbanraja | 12 jam lalu


HIGHLIGHT

Waspadai Penipuan di Sekeliling Anda …

Syahdan Adhyasta | 8 jam lalu

Janji Kelingking Masa Lalu …

Fitri Manalu | 8 jam lalu

Ibu Negara …

Rahab Ganendra | 9 jam lalu

Kindi: Fotografer Cilik …

Dewilailypurnamasar... | 10 jam lalu

Kuliner Bebek Mercon di Warung Komando Eko …

Sitti Rabiah | 10 jam lalu

Subscribe and Follow Kompasiana: